Bentuk Kebdohan yang Hakiki

 

Ilustrasi:s/ Bebaspedia.com

Apakah anda pernah berjumpa dengan Tuhan?

Demikian saya jumpai pertanyaan ini melalui salah satu laman media sosial. Mungkin, jika ingin diperjelas, yang mengajukan pertanyaan tersebut ingin berkata kepada orang-orang beriman: untuk apa Anda percaya kepada sesuatu, yang Anda sendiri belum pernah berjumpa dengan sesuatu itu? Sungguh, ini pertanyaan yang sangat bodoh. Apakah kepercayaan kita akan keberadan sesuatu mengharuskan kita untuk berjumpa terlebih dulu dengan sesuatu yang kita percayai keberadaannya itu? Tentu saja tidak.

Saya menggunakan laptop ini untuk menulis. Menurut akal yang sehat, laptop ini tidak mungkin membuat dan menyusun dirinya sendiri. Pasti ada yang buat. Dan, sampai detik ini, saya belum pernah berjumpa dengan pembuat laptop itu.

Tapi dari mana saya bisa yakin kalau di balik kelahiran laptop ini ada seorang pembuat, sekalipun saya belum pernah berjumpa dengan yang membuat laptop itu? Jawabannya adalah akal sehat. Akal sehat mengharuskan kita untuk berkata, bahwa sesuatu yang bisa jadi ada bisa jadi tiada—seperti laptop itu—kalau dia ada, maka pastilah ada sebab yang menjadikannya ada.

Logika orang beriman dalam hal ini akan terlihat lebih waras ketimbang orang-orang Ateis. Orang beriman percaya bahwa di balik keberadaan alam semesta ini ada sebab. Karena sesuatu yang tadinya tiada, kemudian ada, maka pastilah di sana ada sebab yang menjadikannya ada.

Tidak mungkin mengadakan dirinya sendiri. Dan yang menjadi sebab itu ialah Tuhan. Orang Ateis tentu saja mengingkari keberadaan sebab itu. Dan alam ini dia katakan muncul sekonyong-konyong. Dia hadir karena dirinya sendiri. Bayangkan kalau ada orang bilang, bahwa laptop itu bisa ada dengan dirinya sendiri.

Motor tercipta dengan dirinya sendiri. Dan dirinya tercipta dengan dirinya sendiri. Tanpa ada sebab sama sekali. Bisakah Anda menyebutnya sebagai orang yang bernalar waras?

Kegilaan yang sama terjadi pada diri orang-orang Ateis. “Tuhan itu nggak ada”, kata mereka, “coba kalau ada, di mana dia sekarang? Bisa tidak anda buktikan keberadaannya dengan penelitian ilmiah? Memang anda pernah berjumpa dengan Tuhan, sehingga anda benar-benar yakin akan keberadaannya? Pertanyaan yang tampak kritis, tapi isinya hanya kebodohan yang membuat kita miris. Tulisan ini Anda baca, dan anda tidak pernah bertemu dengan saya. Apakah tidak terjadinya pertemuan antara saya dengan anda dengan serta merta menjadikan tulisan ini tidak bergantung pada sebab apa-apa?.

Sungguh, hanya kebodohan yang bisa berkata iya. Dan karena itu, hanya kebodohan pula yang bisa memastikan bahwa alam ini tidak butuh pada pencipta.

Related Posts