Berkah Ramadan (1) Pahala Datang dari Niat Namun Tidak Semua Niat Bisa Mendatangkan Pahala

Ilustrasi: Zubairi (Redaktur Atorcator)

Berbicara masalah niat, tentu tidak ada yang mengetahui kecuali Allah SWT dan orang-orang yang mengucapkan atau melontarkan kata niat itu sendiri. Niat juga tidak dapat dirasakan panca indera, dilihat secara terang-terangan. Intinya, niat tidak bisa terdeteksi oleh rupa atau lisan. Dan waktu pelaksanaan niat biasanya adalah bersamaan dengan perbuatannya.

Terdapat beberapa hadis yang menyinggung masalah niat dan keutamaannya. Salah satunya dari riwayat Imam Bukhari dalam Kitab Hadist Arbain yang pertama:

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya, Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah SWT dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”.

Penjelasannya adalah, Hadis ini turun sebab dengan lantaran karena ada seorang laki-laki yang hijrah dari Makkah ke Madinah hanya dengan tujuan ingin menikahi seorang wanita yang konon katanya wanita itu bernama “Ummu Qais”. Rasulullah SAW saat itu sedang berjihrah ke Madinah tepatnya di kota Yatsrib. Ketika mendengar kabar soal laki-laki itu, maka datanglah hadis ini. Dan laki-laki itu di kemudian hari dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).

Perbuatan yang bisa menghasilkan pahala adalah tergantung dari niatnya, akan tetapi tidak semua niat bisa mendatangkan pahala atau ganjaran Tuhan yang Maha Esa. Sebagai contoh adalah, laki-laki itu hijrahnya bernilai pahala jika diiringi dengan niat mencari keridhaan Allah SWT. maka bisa mendatangkan pahala. Sebaliknya, jika niatnya laki-laki itu takabur, tujuannya hanya ingin menikahi Ummu Qais karena ingin menguasai hartanya, dan sebelum menguasai harta itu laki-laki membunuh Ummu Qais, maka orang itu mendapatkan dosa. Lebih jelasnya lagi, pahala yang besar bergantung dari niat dan perbuatannya.

Selanjutnya, berbicara pahala, semua orang akan mudah mendapatkannya. Akan tetapi dengan syarat ikhlas karena Allah SWT. Ya, untuk meraih pahala, tidak harus dengan cara sholat, puasa ataupun zakat dan hal-hal baik lainnya. Contoh, Si Fulan membantu orang yang kelaparan, baik memberi nasi atau berupa uang (sebesar dan sekecil apapun nilai rupiahnya) maka Si Fulan akan mendapatkan pahala. Sebab niat dan perbuatannya semata-mata mengharap keridhaan Allah, bukan riyak, dan itu sudah bernilai ibadah. Intinya ganjaran pahala itu ada berdasarkan kadar niatnya.

Related Posts