Berkah Ramadan (12) Ragu Menikah karena Takut Miskin? Jangan Pesimis.

Ilustrasi: Zubairi (Redaktur Atorcator)

“Menikah adalah sunahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari kiamat).” (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 2383).

Hadis di atas jelas, bahwa menikah itu sunnah Nabi, kita harus melakukannya, dengan catatan ketika sudah sampai pada waktunya. Niat karena Allah. Jika tidak, maka tidak diakui sebagai umat Rasulullah SAW. Selain itu, pada fitrahnya, manusia memang membutuhkan pasangan dalam hidupnya.

Namun tak sedikit orang-orang yang enggan menikah karena satu hal, yakni takut miskin. Artinya, ia beranggapan, jika menikah maka tidak akan mampu untuk menafkahi istri dan keluarganya. Intinya ia pesimis sekali karena belum punya gaji atau pekerjaan yang bisa memadai keluarganya di kemudian hari.

Ingat, menikah juga mampu menjauhkan kita dari kemaksiatan dan menjaga kemaluan agar tidak terjebak ke jurang yang dilarang Allah SWT yakni perzinahan. Jika masih tidak mampu menikah, maka jalannya agar mampu mengimbangi nafsunya, maka hendaknya berpuasa. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi SAW:

Wahai para pemuda, siapa saja di antara kamu yang mampu menikah maka menikahlah. Karena menikah itu lebih mampu menjaga pandangan dan kemaluan. Sementara itu, bagi yang belum mampu menikah, maka berpuasalah. Sesungguhnya, puasa itu menjadi perisai baginya.” (HR. Bukhori Muslim).

Nikah karena takut miskin?. Bukankah Allah telah menciptakan rezeki yang melimpah di berbagai aspek kehidupan manusia. Kita hanya tinggal menjemputnya dengan usaha, doa dan terus beriktiyar kepada-Nya. Rezeki sudah ada yang menjamin. Hal ini sesuai firmannya dalam Al-qur’an surah An-Nur ayat 32:

وَاَنۡكِحُوا الۡاَيَامٰى مِنۡكُمۡ وَالصّٰلِحِيۡنَ مِنۡ عِبَادِكُمۡ وَاِمَآٮِٕكُمۡ‌ ؕ اِنۡ يَّكُوۡنُوۡا فُقَرَآءَ يُغۡنِهِمُ اللّٰهُ مِنۡ فَضۡلِهٖ‌ ؕ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيۡمٌ

(Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.)

Itulah janji Allah dari Al-Qur’an. Al-Qur’an adalah kalam-Nya yang tidak pernah salah. Ketahuilah jika seseorang itu bertambah tanggung jawabnya, maka Allah akan tambah pula jatah rezekinya. Bukan menguranginya apalagi mempersulit makhluknya.

Masalah rezeki tidak perlu dipikirkan. Sebab masing-masing manusia pasti memiliki potensi diri yang berbeda. Nah, sedangkan menikah adalah menyatukan dua insan dan hati yang berbeda. Tentu, potensinya pun berbeda. Jadi menikah adalah dua insan yang berkolaborasi menyatukan perbedaan yang akan mendatangkan sinergi yang luar biasa.

Contoh. Si perempuan tukang jahit tanpa ijazah S1 aliyas tidak kuliah, Si laki-laki lulusan sarjana yang telah memiliki perusahaan besar. Atau Sebaliknya. Jadi akhirnya, kedua pasangan itu bisa membuka usaha konveksi. Keduanya bisa memproduksi barang dengan pemasaran yang berbeda.

Jadi skip dulu pandanan bahwa menikah itu membuat kita miskin. Justru dengan menikah inilah rezeki akan terbuka, hidup senang, dan penuh keberkahan. Semua sudah ada jalan-Nya. Kita tinggal menjemputnya.

Sumber: | Buku “Menjemput Rezeki Tak Disangka” | Oleh: Ustadz Yusuf Mansur dan M. Syafi’e El-Bantanie | Penerbit Salamadani |

Related Posts