Berkah Ramadan (3) Lakukan, Tinggalkan, dan Jangan Banyak Bertanya

Ilustrasi: Zubairi (Redaktur Atorcator)

Rasulullah adalah penutup para Nabi. Apa-apa yang datang padanya adalah pasti benar. Sebab apa yang beliau sampaikan adalah berdasarkan wahyu bukan berdasarkan hawa nafsu. Oleh sebab itu, penting kiranya untuk kita mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah. Baik larangan atau perintahnya. Kenapa? Sebab perintahnya akan membawa kemaslahatan atau keberuntungan bagi kita, dan larangannya akan membawa malapetaka, kesesatan dan keburukan bagi kita.

Dalam Al-Qur’an Allah SWT telah berfirman dalam surah al-Hasyr ayat 7, tentang hal tersebut yang datangnya dari Nabi. Yakni, perintah dan larangannya. yang berbunyi:

وَمَآ اٰتٰىكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰىكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوْاۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِۘ

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya”

Dapat disimpulkan bahwa, suatu pekerjaan yang telah dilarang oleh beliau maka pekerjaan tersebut adalah tidak baik (buruk). Maka tinggalkanlah. Dan apa yang beliau perintahkan, maka pasti itu adalah pekerjaan yang baik. Maka lakukanlah dan semampu kita.

Ayat di atas diperkuat kembali oleh perkataan Nabi SAW dalam Hadist Kitab al-Jami’ ash-Shahih, nomor 7288. Riwayat Imam Bukhori.

دعوني ما تركتكم ، فإنما أهلك من كان قبلكم سؤالهم واختلافهم على أنبيائهم ، فإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه ، وإذا أمرتكم بشيء فأتوا منه ما استطعتم

“Biarkanlah apa yang kubiarkan bagi kalian. Sesungguhnya telah binasa umat-umat sebelum kalian karena mereka banyak bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka. Maka, jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah sesuatu tersebut. Dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka lakukanlah semampu kalian”

Hadist di atas juga terdapat dalam Kitab Hadis Arbain Nawawi, Bab Sembilan yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim.

Kesimpulannya, jika Nabi melarang, jangan melawan dan jangan ditanya kenapa itu dilarang. Jika Nabi memerintah, jangan juga melawan dan jangan ditanya kenapa hal itu harus dilakukan (Jangan banyak tanya). Sebab orang-orang terdahulu binasa bukan karena apa. Melainkan karena banyaknya pertanyaan, sehingga pada akhirnya membingungkan wabil khusus memberatkan. Larangan dan perintahnya adalah jalan terbaik untuk kita semua.

Alkisah, ada orang laki-laki yang bertanya kepada Nabi tentang haji, “Apakah melakukan haji itu setiap tahun ya, Rasul”? sampai tiga kali ucapan itu terlontar kepada Nabi, Nabi diam saja, dan akhirnya dijawab ” Kalau kukatakan ya, maka akan diwajibkan”. Sungguh beruntung Nabi tidak mewajibkan. Hanya saja mewajibkan haji bagi (kita) yang mampu. Atas hal itu kita paham bahwa, banyak bertanya adalah memberatkan kita sendiri dan orang lain. Memang pada hakikatnya, bertanya itu penting agar tidak tersesat. “Tidak bertanya sesat di jalan”.

Bagi orang Islam, dalam melaksanakan kewajiban itu hendaknya dikerjakan dengan ikhlas lagi sempurna. Selanjutnya mengerjakan yang sunnah dengan kemampuan dan tenaga yang kita miliki (semampu kita) agar Allah melipatgandakan ganjaran kepada kita.

Sekali lagi, tidak semua yang Nabi perintahkan itu berlaku wajib. Tetapi dalam artian, kita diwajibkan jika mampu dan semampu kita sendiri untuk melakukan kewajiban itu. Kecuali sholat, puasa, zakat, dan kewajiban lainnya. Namun meskipun itu wajib, tentu ada syarat-syarat terlebih dahulu. Misal, tidak wajib puasa bagi orang gila, belum baligh dan orang non muslim.

Related Posts