Gus Baha’: Jadi Wali Gara-gara Sabar Dimarahi Istri

Ilustrasi:s/ Iqra` id

Salah satu cara supaya kita bisa menerima/mensyukuri fakta hidup ialah memandang dengan kacamata berbeda.

Misalnya, bila ada istri cerewet minta duit ke kita/sebagai suami.
Ya, disyukuri saja. “Alhamdulillah
Piro-piro gak njaluk duit dari suami tetangga.! Nggak malah meriang Sampeyan..?

“Bayangkan, apa jadinya jika istri gak pernah minta duit pada suaminya. Alasannya sudah cukup punya duit sendiri. Selidik punya selidik, ternyata dia dapat duit rutin dari lelaki tetangga.(Ambyar)”

“Bila ada istri banting piring atau gelas.
Syukuri saja. Piro-piro nggak anak anda yang dibanting. Kalau anak anda yang dibanting, bisa malah repot khan..?”

“Jadi, cara paling mudah menjadi wali ialah bersabar menghadapi caci maki istri.”

“Jadi wali jalur alim, berat.
Jadi wali jalur ahli ibadah, berat.
Jadi wali jalur orang dermawan, berat.
Wong menuju jadi orang kayanya saja sudah berat.”

“Jadi wali jalur pemimpin adil, berat juga.
Wong menang dalam kontestasi pemilihan presiden, bupati, gubernur, atau kades, saja berat. Apalagi mau menuju ke sana, jadi pemimpin adil.”

“Yang paling mudah, dan dekat dengan keseharian kita, ya sabar dari caci maki dan “nesune” istri. Sudah punya semua.”

Sayyidina Umar bin Khottob ra, “Punya banyak jalur jadi wali, Alim, Dermawan, Pemimpin sukses yang adil. Tapi, tetap ambil jalur wali lewat “menikmati” kemarahan istrinya.”

“Beliau yang terkenal garang. Ditakuti lawan, disegani kawan. Tapi, ketika istrinya marah-marah, diam saja. Mendengarkan saja. Alasannya, istrinya telah membantu merawat anak, membantu menjaga rumah, membantu mengurusi keluarganya, dan banyak lain.”

Related Posts