Hikmah Ramadan (3) Eksistensi Ulama dan Akibat Menjauhi Ulama

Ilustrasi; Romli (Redaktur Atorcator)

Kita sepakat bahwa ulama adalah rujukan kita dalam masalah ibadah, muamalah dan sebagainya. Sebab di dalam diri seorang ulama sudah terpancar nur keilmuan nabi sebagai pewarisnya. Sebagaimana sabda Nabi:

العلماء ورثة الأنبياء ( مكاشفة القلوب: ٢٧٢ . حرمين)

Ulama adalah pewaris para nabi”

Kita sebagai umat akhir zaman yang sama sekali tidak pernah berjumpa dengan nabi tentu kebingungan menjalani kehidupan di dunia ini. Maka dari itu eksistensi ulama sangat diperlukan. Yaitu sebagai lentera, sebagai penunjuk jalan keselamatan.

Maka menjadi aneh jika ada orang atau kelompok yang menafikan adanya ulama. Bagaimana mungkin bisa mengenal nabi dan ajaran Islam tanpa perantara ulama. Dan bagaimana mungkin bisa meneladani nabi dalam hal taabbudiah dan amaliah jika mereka tidak pernah melihat nabi.

Maka ulamalah yang menjadi penolong kita yang sudah ditinggal nabi berabad-abad lamanya. Oleh karena itu derajat ulama lebih dekat dengan derajat nabi.

أقرب الناس من درجة النبوة أهل العلم والجهاد ( مكاشفة القلوب: ٢٧٢ . حرمين)

paling dekatnya manusia dengan derajat kenabian adalah ahli ilmu dan (ahli) perang”.

Oleh karena derajat ulama sedikit di bawah derajat para nabi maka pantas kita menghormatinya, tentunya yang sesuai dengan kapasitasnya.

 عن جابر أكرموا العلماء فانهم ورثة الأنبياء فمن أكرمهم فقد أكرم الله ورسوله (إرشاد العباد إلى سبل الرشاد : ٧ ، إمارةالله)

Dari Jaber, muliakanlah ulama karena mereka pewaris para nabi, barang siapa yang menghormati mereka (ulama) maka Allah dan rasulnya sungguh menghormati (orang tersebut)”.

Lantas ulama yang manakah yang dimaksud tulisan di atas. Bukankah di zaman sekarang banyak sekali orang-orang yang mengaku sebagai ulama, sebagai pemuka agama. Padahal sanad keilmuannya tidak jelas. Bahkan hanya belajar dari buku-buku,kitab-kitab terjemahan dan bahkan dari internet.

Maka tentu yang dimaksud ulama di atas adalah ulama “Ahlus sunah wal jamaah”  yang senantiasa mengajak untuk menggapai rida Allah SWT sesuai tuntunan nabi dan yang jelas sanad keilmuannya, yang jelas guru-gurunya, ataupun yang tidak belajar sendiri walaupun dari kitab karangan ulama. Sebab belajar tanpa pendampingan guru akan berpotensi ketidakpahaman konteks.

Jika ada orang yang dianggap ulama tetapi sanad keilmuannya tidak jelas maka ajaran agamanya tidak sesuai dengan konteksnya. Atau bahkan berpotensi ajaran Islam dipelintir seeanak nafsunya demi kepentingan-kepentingan yang bersifat duniawi. Inilah yang dikatakan ulama dunia. Sebagaimana yang dimaksud Imam Ghazali berikut:

ونعنى علماء الدنيا علماء السوء الذي قصدهم من العلم التعليم بالدنيا والتوصل الى الجاه والمنزلة عند أهلها( مكاشفة القلوب: ٢٦٦ . حرمين)

Yang aku maksud dengan ulama dunia adalah ulama su’ (jelek) yang dengan menyampaikan ilmunya dengan maksud memproleh pangkat dan kedudukan di sisi ahlinya”.

Maka wajib hukumnya kita selalu mendekatkan diri kepada ulama untuk mendengarkan tausyiahnya. Serta selalu berkonsultasi jika ada hal-hal yang dirasa kurang jelas tentang masalah ajaran Islam dan yang berhubungan dengan ajaran Islam. Sebab jika kita menjauhi ulama maka celaka yang akan menimpa kita.

Lalu apa akibat dari kita menjauhi ulama?

Simak nasehat Nabi SAW kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu.

ومن فارق العلماء مات قلبه وعمي عن طاعة الله (ألمنح السنية: ٣ ٫ الهداية)

barang siapa yang memisahkan diri dengan ulama maka mati hatinya dan buta dari taat kepada Allah)

Maka orang yang dengan sengaja menjauhi ulama baik secara fisik apalagi secara ikatan batin maka hatinya akan mati dan enggan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

Orang yang mati hatinya adalah orang yang hilang nur ilahiyahnya dan tidak lagi bisa membedakan perkara yang hak dan yang batil. Semua tindakannya hanya berdasarkan logika dan sifat-sifat kebinatangannya.

Orang yang seperti ini sudah tidak bisa membedakan mana kawan mana lawan. Semua berdasarkan hawa nafsunya.

Related Posts