Hikmah Ramadan (9) Laki-kaki yang Bermimpi tidak Diakui sebagai Umat Nabi

Ilustrasi; Romli (Redaktur Atorcator)

Diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki yang lupa tidak  bersalawat kepada Nabi SAW. Pada suatu malam dia bermimpi berjumpa dengan Baginda Nabi Muhammad SAW.

Namun sayangnya Nabi memalingkan muka dan tidak menghiraukan laki-laki tersebut. Laki-laki tersebut heran tentu saja dengan perasaan yang amat sedih dan menanyakan langsung kepada Nabi sebab kenapa beliau cuek kepada dirinya.

Kemudian terjadilah percakapan antara laki-laki tersebut dengan Baginda Rasul Muhammad SAW.

Laki-kaki: ya Rasullah. . .! apakah engkau marah kepadaku ya Rasul?

Nabi: tidak. .!

Laki-laki: lantas kenapa engkau tidak memandangku

Nabi: karena aku tidak mengenalmu

Laki-laki: bagaimana bisa engkau tidak mengenaliku ya Rasul? Aku ini umatmu ya Rasul, padahal kata ulama engkau mengenali umatmu dari dari orang tua mereka.

Nabi: iya mereka (ulama) benar. . .! Tapi engkau tidak mengingatku dengan bersalawat kepadaku. Ketahuilah wahai laki-laki, bahwa aku mengenali umatku dengan kadar salawat mereka kepadaku.

Kemudian laki-laki tersebut terkejut dan terbangun. Dan mulai saat itu dia mewajibkan dirinya untuk bersalawat kepada Nabi sebanyak seratus kali setiap hari.

Maka pada suatu saat laki-laki tersebut kembali bermimpi Rasulullah. Apa yang terjadi?. Dalam mimpi laki-laki itu Rasullullah telah mengakuinya sebagai umat beliau. Bukan itu saja, Rasulullah juga telah memberikan syafaat kepada laki-laki tersebut karena cintanya kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

(Kisah ini dikutip dari kitab Mukasyafatul Qulub hal. 26, karya Imam Al-Ghazali, percetakan Haramain)

Betapa beruntungnya laki-laki tersebut. Tidak pernah bersalawat kepada Nabi tetapi bisa bermimpi bertemu dan bercakap-cakap dengan baginda Nabi. Bukan itu saja, bahkan ia mendapatkan teguran langsung dari Nabi. Ini sungguh luar biasa.

Padahal kita yang sudah merasa selalu bersalawat kepada Nabi dan mengaku cinta kepada Nabi tidak pernah memimpikan Nabi walau hanya sekelebat. Bahkan ada yang petantang-petenteng mengaku-ngaku sebagai umat Nabi. Jika mereka tidak bersalawat kepada Nabi bukan tidak mungkin Nabi tidak akan mengakuinya sebagai umatnya.

Kita yang mengaku sebagai umat Nabi yang selalu berharap mendapat limpahan syafaatnya tentu saja ingin berjumpa dengan Nabi walau di dalam mimpi. Tentang hal ini Prof. Quraisy Shihab pernah ditanya bagaimana cara agar bermimpi Nabi dalam acara “Shihab & Shihab”  di kanal you tube-nya Najwa Shihab.

Beliau menjelaskan bahwa ada tiga cara agar bermimpi Rasulullah. Cara pertama adalah meneladaninya, bukan saja meneladani salatnya atau ibadahnya tetapi juga meneladani akhlaknya walau hal-hal kecil seperti bagaimana cara masuk rumah, kelauar rumah dan sebagainya.

Cara yang kedua adalah sering bersalawat. Cara yang ketiga adalah berdakwah meneladani jejak perjuangan Nabi berdakwah kepada umatnya.

Beliapun menjelaskan bahwa cara yang paling sulit adalah meneladani, meneladani akhlaknya. Sehingga hatinya terpaut kepada Rasulullah. “Sehingga hatinya itu terpaut kepada Rasulullah, dan dari segi ilmu kejiwaan kan ada itu kalau terpaut bisa mimpi”.

Beliau juga menambahkan bahwa mimpi Rasullah pasti benar walaupun tidak pernah bertemu Nabi. Dan menegaskan bahwa mimpi Rasul itu pasti benar, mimpi Tuhan pasti salah.

 

 

 

Related Posts