Kenang kembali, Bagaimana Nuzulul Qur’an terjadi

 

Dengan sejuta keagungannya, Al-Qur’an setiap saat selalu mendapat animo kuat dari semua lapisan masyarakat muslim, bahkan yang bukan. Tetapi yang jamak mereka ketahui hanyalah pengertian dan keutamaan kitab suci ini secara gamblang dan sebatas wawasan dangkal. Nah, karna beberapa hari lagi tak jarang dibetapa tempat terlihat peringatan untuk kitab suci, mari kita bahas secercah seputar hal yang berkaitan dengan mukjizad terbesar baginda Nabi ini.

Tanpa penulis harus tampilkan definisi dan keutamaan-keutamaan kitab suci, pembahasan akan dikhusukan pada turunnya kalam ilahi, atau yang lebih dikenal dengan term “Nuzulul Qur’an” oleh hampir semua kalangan. Peringatan dari yang lumrah sampai dengan prosesi yang begitu mewah tak jarang terlihat di bebarapa daerah. Di serambi mekah Aceh, misalnya.

Saat menjelang detik-detik malam Nuzulul Qur’an, warga setempat begitu antusias dengan membagi-bagikankan kuliner khas daerahnya kepada warga sekitar, spesial guna menyambut dan memeriahkan setiap kali malam yang begitu agung itu tiba. Ini hanya sebagian sampel, dan kita bisa saksikan di berbagai tempat sesuai dengan bagaimana mempoles sebuah acara.

Berbeda dengan kitab suci lain, Al-Qur’an dalam proses turunnya memang bisa dikatakan unik dan mengandung ragam daya tarik. Mayoritas ulama sepakat bahwa kitab suci ini tidak turun sekaligus kepada baginda Nabi, melainkan secata proses dan tahapan-tahapan yang penting untuk dicermati.

Syeh Muhammad Khudori Bek dalam karyanya Tarikh Tasyrik A-Islami menyebutkan bahwa Al-Qur’an turun dalam kurun waktu 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari. Dimulai sejak 17 Ramadhan yang terhitung dari tahun 41, hingga 9 Dhulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi atau sama dengan 10 Hijriyah.

Dengan penyajian lebih lengkap, bahwa kalam mulia ini turun dalam tiga tahap. Pertama; Al-Qur’an turun sekaligus dari Allah SWT ke Lauhul Mahfudz. Kedua; turun dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia). Dan yang ketiga; Al-Qur’an diturunkan dari Baitul Izzah ke dalam hati Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril secara proses berangsur-angsur.

Di sisi yang berbeda bila dilihat dari masa turunnya, periode Al-Qur’an terbagi menjadi dua. Pertama periode Makkiyah yaitu dari tahun 41 sampai permulaan Rabiul Awwal tahun 54 dari tahun kelahiran Nabi. Dan yang kedua adalah periode Madaniyah yaitu dari permulaan Rabiul Awwal tahun 54, sampai 9 Zulhijjah tahun 63 dari kelahiran Nabi atau sama dengan 10 Hijriyah. (sehingga bila dijumlahkan, sama dengan stateman paragraf sebelumnya).

Proses turunnya Al-Quran –lagi-lagi saya harus katakan– memang tidak turun secara seketika. Di masa baginda tempo dulu, ada 3 ragam bentuk bagaimana kitab suci ini hadir pada Nabi. Adakalanya dengan cara ilham, proses ini terkadang Nabi keadaan terjaga maupun tidur dengan mulianya. Kedua secara langsung, psoses ini beliau alami saat pelaksanaan Isro’ Mi’roj (dimana beliau menerima langsung dari Allah tanpa perantara Malaikat Jibril).

Dan yang ketiga ini, beliau menerima melalului Malaikat Jibril dan tentu secara skala dan proses yang berangsur-rangsur. Jibril menyampaikan wahyu berupa makna kemudian baginda mengunggapkan dengan lafat dari lisan mulianya.

Kembali pada seputar Nuzulul Qur’an, bahwa dewasa ini, pun beberawa waktu yang telah terlewati, waktu peringatan momentum agung ini hampir serentak dilakukan pada tanggal 17 Ramadan. Namun sejatinya, pada tanggal ini bukanlah waktu turunnya kalam suci secara haqiqi.

Sebagian ulama diantaranya Imam Al-Qurtuby dalam tafsirnya mengatakan, bahwa malam Nuzulul Qur’an belum dipastikan turun pada tanggal 17 Ramadhan. Karena salah satu alasan beliau bahwa ‘isim dhamir’ pada ayat “inna anzalnahu fi lailatin mubarokah” kembali pada ‘Lailatul Qadar’. Nah, sementara Lailatul Qadar sendiri tak ada yang tau kapan terjadinya.

Bahkan sebagian riwayat mengatakan bahwa malam seribu bulan ini lebih cenderung terjadi pada sepuluh terakhir pada bulan Ramadan. Sehingga malam Nuzulul Qur’an, ini tidak dipastikan turun pada tanggal 17 Ramadhan. Demikian, ungkap ulamak yang lain.

Namun tak perlu timbul kata tanya, apalagi kritik pedas dari waktu ini. Karna angka 17 yang menjadi pilihan ‘orang-orang kita’ (apalagi dinusantara khususnya) bukan tanpa alasan yang menjadi pijakan untuk kemudian mereka aplikasikan.

Dikisahkan bahwa konon saat baginda Nabi diusianya saat memasuki 41 tahun, beliau mendapat wahyu pertama kali berupa surat Al-Alaq di Gua Hira’ dan kebetulan waktu itu bertepatan pada tanggal seperti berlangsunya perang badar itu (17 Ramadhan). Sehingga tak jarang pemandangan dibeberapa tempat, secara rutiniras perayaan agung tahunan itu dilaksanakan pada tanggal 17 Ramadan.

Setelah mengetahui bagaimana proses turun dan semerbak perayaannya, tak lengkap rasanya momentum spesial Nuzulul Qur’an, tanpa amalan dan rutinan yang perlu ketahui dan diaplikasikan. Ulama dan beberapa guru sering menyinggung hal-hal penting yang tak layak ditinggalkan oleh muda-mudi Islam ini.

Tanpa harus penulis menyebutkan secara rinci (amalan dan rujukannya yang terpercaya), dalam malam agung ini umat Islam dianjurkan untuk lebih meningkan hal-hal yang yang bernuansa kebaikan. Memperbanyak sedekah, solat sunnah, zikir-zikir agung, hatmil quran dan beragam tindakan mulia lainnya.

Tanpa harus penulis tambah paragraf kembali, mari ketika dunia saat ini berduka dengan segara laranya, hembusan warta-warta tak layak konsumsi semakin pesing ditelinga. Jadikan malam agung nan spesial ini sebagai tempat berteduh, bermunajat, memohon ampun kepada-Nya.
Semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT. Amiiin.

Related Posts