KH. Said Aqil Sirodj, Logam Mulia, dan Komut PT. KAI

Ilustrasi:s/Komisaris Utama PT KAI Said Aqil Siradj (kanan) kunjungi Stasiun Pasar Senen. Foto: Dok. KAI

Ibarat logam, Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj adalah logam mulia. Di manapun berada, logam mulia akan tetap mulia. Di tengah kesibukannya sebagai Ketua Umum PBNU, saat ini beliau bersedia mengemban amanah sebagai komisaris utama PT. Kereta Api Indonesia (Persero).

Namun, lantaran posisi ini ada oknum yang berpikiran kotor melontarkan ujaran kebencian. Mereka menghina beliau sebagai kyai yang menurunkan derajatnya ke level yang rendah, kepala stasiun.

Tampaknya mereka menganggap bahwa kyai itu akan mulia jika terus bersemayam di puncak menara gading. Menjauh dari hiruk pikuk kehidupan dunia. Kalau perlu mengeksploitasi umatnya untuk bertahan hidup dan menghidupi singgasananya?

Atau sebagaimana kebiasaan perilaku pembenci. Apapun sepak terjang tokoh yang dibencinya merupakan bahan empuk untuk mengumbar ujaran kebencian.

Mereka tidak mau tahu bahwa para Nabi yang mulia saja memiliki latar belakang profesi yang beraneka ragam. Mulai dari profesi sebagai raja hingga hamba sahaya.

Nabi Adam berprofesi sebagai petani. Nabi Nuh sebagai tukang kayu. Nabi Idris sebagai penjahit, Nabi Dawud sebagai tukang tenun. Nabi Musa sebagai penggembala. Nabi Ibrahim sebagai petani. Nabi Shalih sebagai pedagang. Nabi Sulaiman sebagai Raja. Nabi Yusuf sebagai budak. Nabi Isa sebagai orang yang tidak pernah memiliki makanan untuk hari esok. Nabi Muhammad saw. sebagai penggembala milik keluarga.

Apakah kemudian para nabi itu turun derajat kemuliaannya? Tidak! Sama sekali tidak! Mengapa? Karena profesinya adalah benar-benar buah karya tangannya. Bukan mengeksploitasi umatnya apalagi korupsi. Demikian halnya dengan yang mulia, Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj.

Related Posts