Kultum Ramadan (12) Menjaga Alam dan Lingkungan adalah Perintah Allah

Ilustras: Moh. Syahri (Founder Atorcator)

Menjaga alam dan lingkungan adalah kewajiban bagi umat Islam. Alam dan lingkungan merupakan wujud dari kekuasaan Allah yang harus dijaga keseimbangannya.

Manakala alam ini rusak, hancur maka tak bisa dilepaskan dari ulah manusia itu sendiri. Kerusakan alam dan lingkungan tidak melulu dilihat dari perspektif agama sebagai azab atau peringatan atas sebuah kemaksiatan atas Tuhan, tetapi juga harus dilihat sebagai kemaksiatan kepada alam dan lingkungan.

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Kata “fasad” di dalam kitab Tafsir al-Qurthubi, juz 14, hlm. 40 bisa diartikan sebagai kerusakan secara ekologis, seperti sedikitnya hasil tanaman (qillat an-nabat), kekeringan, dan hilangnya kekayaan laut.

Sedangkan menurut Ar-Razi, hal itu disebabkan oleh kefasikan dan kemaksiatan terhadap alam, lingkungan dan makhluk hidup lainnya. (Tafsir ar-Razi (t.t., al-Maktabah as-Syamilah, t.th) juz 12 hlm 145.)

Belakangan ini banyak sekali fenomena alam yang patut kita renungkan bersama. Tentu saja tidak sebatas direnungkan semata namun harus juga ditelusuri akar permasalahannya.

Seperti dikatakan di atas bahwa fenomena alam yang nyaris saban waktu kita saksikan, jangan-jangan bukan hanya kemaksiatan kita yang langsung pada Allah melainkan tindakan yang mengingkari nilai-nilai yang digariskan Allah SWT.

Karenanya, fenomena alam yang menyebabkan kerusakan dan banyak merugikan manusia sendiri bisa jadi azab atau peringatan Allah karena ulah manusia sendiri (bima kasabat aydinnas).

Bisa kita saksikan belakangan ini, alam dan lingkungan tidak lagi stabil. Gunung-gunung dikeruk, tanah-tanah dirusak dengan dalih pembangunan, di tempat lain ada kekeringan yang berkepanjangan yang menyebabkan hasil tanaman tak sesuai dengan yang diharapkan.

Mari kembalikan pengelolaan alam dan lingkungan ini pada cara sebenarnya. Beradab dan memperlakukan alam dengan mempertimbangkan kerusakan yang akan terjadi. Jika mudharatnya lebih besar daripada manfaatnya (manfaat yang umum dan tidak merugikan siapapun) tinggalkan. Dan kita harus mengawal ini karena ini perintah Allah SWT.

Wallahu a’lam

Related Posts