Kultum Ramadan (14) Syarat-syarat Menjadi Sahabat Sejati

Ilustras: Moh. Syahri (Founder Atorcator)

Selama kita masih hidup di dunia, hal yang tidak bisa kita lepaskan dari kehidupan dunia adalah saling membutuhkan kepada orang lain. Itulah kenapa manusia seringkali disebut sebagai makhluk sosial.

Manusia tidak bisa hidup dengan sendirinya. Dalam artian ia pasti membutuhkan yang lain. Baik itu butuh kepada manusia lain atau butuh kepada makhluk lain, seperti hewan, tumbuhan, dll.

Karenanya, manusia sebagai makhluk sosial yang memiliki hubungan dengan makhluk lain salah satunya adalah soal persahabatan. Menurut saya istilah persahabatan memiliki konotasi yang berbeda dengan panggilan-panggilan yang lain, misal teman.

Sahabat memiliki kedekatan emosional. Bukan hanya soal panggilan tapi lebih ke hubungan batin yang kuat antara satu dengan yang lainnya.

Itulah kenapa pada zaman nabi lebih masyhur dipanggil dengan sebutan “ashabunnabi”. Karena masing-masing dari mereka memiliki kedekatan emosional.

Karenanya dalam sebuah ungkapan dikatakan:

خَيْرُ الأَصْــحَــــابِ مَنْ يَدُلُّكَ عَلىَ الْخَيْرِ

Sahabat terbaik adalah mereka yang menunjukkanmu pada jalan kebaikan.

Sahabat itu selalu memiliki keunggulan tersendiri di setiap perjalanan hidup seseorang. Seperti ungkapan di atas selalu menunjukkan pada jalan kebaikan.

Sekalipun dalam beberapa hal kita sudah pada jalan yang baik seorang sahabat selalu mengingatkan agar tetap Istiqomah pada kebaikan itu. Bukan saja menunjukkan pada kebaikan tapi lebih pada selalu mengingatkan untuk membiasakan kebaikan itu sendiri.

Memilih sahabat yang baik itu memang berat dan nyaris sulit. Mari kita pelajari apa saja syarat persahabatan itu:

Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata:

شرط الصحبة: إقالة العثرة ومسامحة العشرة والمواساة في العسرة.

Syarat persahabatan adalah memaafkan kesalahan, mudah dalam pergaulan, dan membantu dalam kesulitan (Kitab Al-Adab asy-Syar’iyyah jilid 4 hlm. 123).

Hal yang paling sulit kita lakukan adalah memanfaatkan sebuah kesalahan. Egoisme kadang mematikan hati nurani untuk melihat kebenaran dari seseorang.

Mudah dalam pergaulan, sahabat sejati itu selalu terbuka untuk siapa saja yang mau bersahabat. Ia selalu membuka ruang dan waktu untuk siapa saja, baik mau curhat, cerita atau apa saja. Dan tidak sebatas mendengarkan saja tapi juga menanggapi dan memberikan solusi setiap permalasahan yang terjadi.

Dan yang tak kalah penting yang dimaksud mudah dalam pergaulan di sini adalah selalu jujur mengatakan apa adanya demi kebaikan. Kalau salah ya katakan salah kalau katakan benar. Dan tentu saja ada caranya supaya tidak sampai menyakiti.

Yang terakhir, membantu dalam kesulitan. Ini juga penting, tak sedikit dari perjalanan persahabatan seseorang itu kandas karena salah satunya tak mampu memahami kekurangan masing-masing.

Karenanya, persahabatan yang sejati itu manakala dari masing-masing saling melengkapi, dan memahami kekurangan.

Itulah nanti yang akan membentuk kesempurnaan dalam persahabatan, manakala di waktu kesulitan ia akan saling membantu bukan saling menjauhi.

Wallahu a’lam

Related Posts