Kultum Ramadan (18) Cara Mensyukuri Ilmu

Ilustras: Moh. Syahri (Founder Atorcator)

Mencari ilmu adalah sebuah keniscayaan namun mengamalkan ilmu jauh lebih niscaya. Tak sedikit kita melihat fenomena seseorang yang belajar ke kota-kota ilmu ternama namun tak bisa memberikan perubahan baik perubahan untuk dirinya maupun orang lain.

Kewajiban mencari ilmu ini sudah masyhur kita ketahui dalam salah satu kitab kitab karangan Imam Zarnuji, Ta’limul Muta’allim,

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: طلب العلم فريضة على كل مسلم ومسلمة

Kanjeng Rasulullah Saw beliau bersabda : “Menuntut ilmu itu wajib bagi semua muslim laki-laki dan untuk muslim perempuan.”

Namun lagi-lagi mencari ilmu saja tidak cukup. Ilmu harus disyukuri. Karenanya, cara mensyukuri ilmu itu adalah dengan mengamalkannya. Tak ada cara lain yang lebih dicintai Allah dalam mensyukuri ilmu kecuali dengan mengamalkan.

Kadangkala masyarakat kita terjebak pada hal-hal seremonial belaka dengan dalih mensyukuri ilmu. Padahal justru pada praktiknya ia hanya terjebak pada tradisi yang dikungkung rasa gengsi. Semoga ini tidak benar.

Maka tidak heran, manakala ada orang yang banyak mencari ilmu tapi justru ilmu tersebut mencelakakan dirinya, tidak bisa menyelamatkan dirinya, maka pikirkanlah, pasti ada yang salah dengan orientasinnya. Dia mengalami disorientasi dalam mencari ilmu.

Dalam salah satu karangan imam Al-Ghazali, kitab Ayyuhal Walad.

اشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه

“Manusia yang paling berat siksanya kelak di hari kiamat adalah seorang ‘alim yang mana Allah tidak memberi manfaat pada ilmunya.”

Dan yang tak kalah penting dari mengamalkan ilmu adalah Allah akan memberikan pengetahuan yang tak pernah ia pelajari sebelumnya. Sebagaimana perkataan Imam Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad:,

من عمل بما علم فتح الله له ما لا يعلم

“Barangsiapa mengamalkan ilmu yang telah ia ketahui (pelajari) maka Allah akan memberikan untuknya ilmu pengetahuan yang sebelumnya tidak dia ketahui”

Secara logika mungkin perkataan Imam Ghazali di atas sepintas tak masuk akal, namun faktanya banyak orang alim yang sudah membuktikan ini.

Dengan ilmu ia tak hanya dituntut untuk mengajar kepada santrinya tapi kadang diberikan amanah lain untuk mengurus umat lebih luas. Padahal banyak orang yang seperti itu tak punya kepemimpinan khusus secara keilmuan. Namun seiring dengan ilmu yang ia amalkan akhirnya ia sukses dari berbagai arah yaitu sukses memimpin keluarga, santri, dan umat.

Ini sangat relevan dengan firman Allah bahwasanya orang yang berbunyi:

يَرْفَعِ اللهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ

“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu” (QS Al-Mujadalah ayat 11).

Ayat di atas menurut Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari adalah:

أي ويرفع العلماء منكم درجات بما جمعوا من العلم والعمل

“Maksudnya Allah mengangkat derajat
ulama dari kalian sebab mereka mampu menggabungkan ilmu dan amal.”

Artinya ilmu dan amal harus berbanding lurus. Kalau kita memahami penjelasan dari Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari ini, jelas sekali bahwasanya ilmu tak bisa membuat orang akan naik pada derajat selama ia tak mengamalkan ilmunya.

Related Posts