Pesantren Ramadan (17) Ghibah yang Diperbolehkan

 

Ilustrasi: Ubaidillah (Redaktur Atorcator)

Ghibah adalah salah satu perbuatan yang dilarang di dalam ajaran agama Islam dan termasuk pada perbuatan dosa besar. meskipun keburukan seseorang yang dibicarakan itu sesuai kenyataan, namun ghibah tetaplah perbuatan yang dzalim.

Menghindari ghibah sebagian orang menganggapnya enteng, namun kenyataannya sulit untuk menghindarinya. Kenapa demikian? Karena ghibah merupakan perbuatan manusia yang didorong oleh setan, agar manusia tersebut terjerumus dalam jurang dosa. Sehingga ketika setan berhasil menjerumuskannya, di situlah setan merasa menang (berhasil mengajak manusia melakukan hal-hal yang dilarang syariat Islam).

Namun ada pula ghibah yang diperbolehkan syariat Islam. Adapun ghibah yang diperbolehkan terdapat pada kitab Riyadhus Sholihin, bahwa ada enam macam ghibah yang diperbolehkan, di antaranya:

1. Bagi seseorang yang dianiaya, boleh melapor kepada pihak yang berwajib (penguasa, hakim, dan lainnya yang memiliki kekuasaan atau kemampuan) untuk memberikan tindakan kepada orang yang menganiayanya.

2. Minta tolong untuk menghilangkan kemungkaran dan orang yang durhaka agar kembali tobat, lalu berkata: Fulan berbuat sedemikian, cegahlah

Adapun maksud dari perkataan ini adalah untuk menghilangkan kemungkaran. Namun apabila maksudnya bukan untuk itu, maka hukumnya adalah haram.

3. Minta fatwa, lalu berkata: Aku dianiaya oleh ayahku, saudaraku atau suamiku (bagaimana agar bisa terlepas dari kedzaliman tersebut. Namun untuk lebih berhati-hati, alangkah baik menggunakan kalimat pihak ketiga “Apa pendapat anda tentang seorang laki-laki yang berbuat begini-dan begini…”.

4. Memberi peringatan kepada kaum muslimin atas kejelekan seseorang dan menasehati mereka. Sebagaimana hadis nabi dalam kitab Riyadhus Sholihin bab 256 bahwa

وعن فاطمة بنتِ قيسٍ رَضِيَ اللهُ عنها، قالت: أتيت النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – فقلتُ: إنَّ أَبَا الجَهْم وَمُعَاوِيَةَ خَطَبَانِي؟ فَقَالَ رسُولُ الله – صلى الله عليه وسلم: «أمَّا مُعَاوِيَةُ، فَصُعْلُوكٌ لاَ مَالَ لَهُ، وأمَّا أَبُو الجَهْمِ، فَلاَ يَضَعُ العَصَا عَنْ عَاتِقِهِ» متفق عَلَيْهِ. وفي رواية لمسلم: «وَأمَّا أَبُو الجَهْمِ فَضَرَّابٌ لِلنِّساءِ

Dari Fathimah binti Qais radhiallahu ‘anha, katanya: “Saya mendatangi Nabi s.a.w. lalu saya berkata: “Sesungguhnya Abuljahm dan Mu’awiyah itu sama-sama melamar diriku.” Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Adapun Mu’awiyah itu adalah seorang fakir yang tiada berharta, sedangkan Abuljahm adalah seorang yang tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya.” (Muttafaq ‘alaih).
Dalam riwayat Imam Muslim disebutkan: “Adapun Abuljahm, maka ia adalah seorang yang gemar memukul wanita.” Ini adalah sebagai tafsiran dari riwayat yang menyebutkan bahwa ia tidak sempat meletakkan tongkat dari bahunya.

Dengan kata lain Rasulullah memberitahukan keadaan dan sifat seseorang kepada Fatimah binti Qais. Sambil lalu menasehatinya, agar memilih manakah yang lebih baik di antara salah satu keduanya.

5. Orang yang dengan terang-terangan melakukan kemungkaran.
Maksudnya seperti ada orang yang secara terang-terangan minum khamr, melakukan perbuatan yang batil dan sejenisnya. Orang berperilaku seperti ini boleh digunjing tentang keburukan yang dia kerjakan secara terang-terangan. Akan tetapi tidak boleh menggunjing aibnya yang lain.

6. Untuk memberitahukan kepada satu orang yang terkenal dengan satu julukan. Semisal: Fulan yang buta atau yang pincang. Hal ini bukan bertujuan menjelek-jelekkannya. Namun penyebutan itu tidak boleh dilakukan dalam rangka menghina. Akan tetapi sekadar hanya untuk mudah mengenalinya. Namun alangkah baiknya jika mengenalinya dengan sebutan yang baik serta positif.

Ghibah-ghibah yang enam, yang telah disebutkan di atas merupakan ghibah yang diperbolehkan dalam Islam. Namun harus tetap berhati-hati dalam menyampaikannya.

Wallahu A’lam

Related Posts