Pesantren Ramadan (5) Keutamaan Memiliki Sifat Malu

Ilustrasi: Ubaidillah (Redaktur Atorcator)

Malu merupakan salah satu cara agar seseorang terjaga dari melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak baik atau tidak sopan. Setiap orang yang memeluk agama Islam diperintahkan untuk memiliki sifat malu. Karena seseorang yang memiliki sifat malu menunjukkan bahwa orang tersebut memiliki akhlak yang baik.

Terutama pada masa modern, seperti sekarang ini. Banyak sekali orang-orang yang sudah menghilangkan rasa malunya demi konten, atau semacamnya. Seperti halnya pada aplikaso konten-konten Tik Tok yang menampilkan jogetan-jogetan yang sebenarnya kalau dilihat kurang begitu etis.

Jogetan berbagai variasi dilakukan, pakaian yang dikenakan juga mengkhawatirkan (membentuk lekukan tubuh) sehingga mata laki-laki yang memandangnya langsung tertancap pada suatu hal yang menarik padanya. Namun hal itu tidak serta merta dilihat dari isi kontennya saja, melainkan juga harus dimulai dari memperbaiki diri kita sendiri.

Islam tidak mengajarkan hal-hal tercela. Islam mengajarkan untuk memiliki sifat malu (sifat haya’) menghias diri dengan Budi pekerti yang baik (Akhlaqul Karimah). Sebagaimana dikutip dari jurnal Rima Nasir Basalamah, Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin mengatakan bahwa para ulama pernah berkata, “Hakikat dari hayâ’ adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”.

Perkataan Imam Nawawi sudah jelas sekali, namun sebagian orang abai untuk mengikuti perkataan Imam Nawawi tentang haya’.

Ada juga hadis nabi tentang memiliki sifat malu (haya’) adalah termasuk dari iman yang terdapat dalam kitab Riyadush Sholihin bab 84 bahwa :

عن ابن عمر رضي الله عنهما: أنَّ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – مَرَّ عَلَى رَجُلٍ مِنَ الأنْصَار وَهُوَ يَعِظُ أخَاهُ في الحَيَاءِ، فَقَالَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم: «دَعْهُ، فَإنَّ الْحَيَاءَ مِنَ الإيمَانِ». متفقٌ عَلَيْهِ

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah s.a.w. berjalan melalui seorang lelaki dari golongan kaum Anshar dan ia sedang menasihati saudaranya tentang hal Sifat Malu. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: “Biarkanlah ia, sebab sesungguhnya Sifat Malu itu termasuk dari keimanan.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini merupakan salah satu perintah bagi umat Islam untuk memiliki sifat malu (haya’). Maka dari itu kita harus berusaha untuk memiliki sifat tersebut agar terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat Islam.

Adapun keutamaan memiliki sifat malu (haya’) terdapat pada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Riyadush Sholihin bab 84

وعن عمران بن حصينٍ رضي الله عنهما، قَالَ: قَالَ رسولُ الله – صلى الله عليه وسلم: الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ متفقٌ عَلَيْهِ . وفي رواية لمسلمٍ: «الحياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ» أَوْ قَالَ: الْحَيَاءُ كُلُّهُ خَيْرٌ

Dari Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sifat Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan.” (Muttafaq ‘alaih) Dalam riwayat Muslim disebutkan: “Sifat Malu itu baik seluruh akibatnya.” Atau beliau s.a.w. bersabda: “Malu itu semuanya baik akibatnya.”

Yang dimaksud “Malu itu semuanya baik akibatnya” adalah malu untuk mengerjakan suatu hal yang tercela dan malu untuk melakukan hal-hal yang dilarang dalam Agama Islam.

Semoga Allah menanamkan sifat malu (haya’) pada kita semua khususnya ummat Islam. Sehingga dapat menjadi benteng pertahanan untuk tidak terjebak pada perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah.

Related Posts