Terorisme dan Fenomena Belajar tanpa Guru

Ilustrasi: Pixabay

Belajar agama memang butuh guru. Tak cukup hanya dengan membuka lembaran buku. Tanpa guru yang tepat, seluas apapun wawasan kita, pada akhirnya dia akan terlihat pincang dan cacat. Yang saya amati, setinggi apapun kecerdasan seseorang, kalau dia belajar agama secara autodidak, biasanya suka ada aja penyimpangannya. Dan kadang penyimpangan itu cukup fatal. Di sini guru berperan untuk membimbing dan meluruskan.

Anda amati saja tokoh-tokoh tertentu yang gagasan-gagasannya banyak mengandung penyimpangan itu. Lihat, dari siapa orang itu belajar. Siapa gurunya? Dan bagaimana sanad keilmuannya? Bagian sebagian orang, mungkin ini terlihat aneh. Apa gunanya sih bicara sanad? Sekarang kita sudah hidup di zaman terbuka, Lah. Nggak perlu sanad-sanadan segala. Belajar dari siapa aja boleh. Nggak masalah orang belajar dari buku juga. Baik, yang mulia, perkataan Anda memang ada benarnya.

Sekarang tengok tingkah laku para teroris, dan renungkan satu pertanyaan, kenapa mereka bisa berlaku seperti itu? Kalau mereka punya sanad keilmuan yang jelas, belajar pada guru yang tepat, yang otoritas keilmuannya bisa dipertanggungjawabkan, tidak cukup dengan melototi media sosial, apa mungkin mereka melakukan tindakan-tindakan konyol semacam itu? Terus terang, saya belum menemukan seorang muslim, yang belajar Islam pada orang yang tepat, lalu sanad keilmuannya jelas, lalu jadi teroris. Atau bahkan jadi Ateis. Belum nemu.

Sebaliknya, yang berkali-kali saya jumpai, orang-orang yang gagasan-gagasan keislaman menyimpan banyak penyimpangan fatal itu ialah mereka-mereka yang suka mengabaikan pentingnya sanad keilmuan itu. Belajar pada karya-karya orientalis, jurnal-jurnal ilmiah, buku-buku pdf, ustad-ustad youtube (yang nggak jelas rekam pendidikannya), sebaran WA group, atau mesin pencarian google, dengan kesimpang-siuran informasi yang dimuatnya. Orang-orang semacam ini yang suka bikin penyimpangan itu. Nggak aneh. Memang dasarnya sumber keilmuan mereka sudah keruh. Yang mengalir dari mulut, pikiran, dan tulisan-tulisannya ya kekeruhan juga.

Minimal, kalaulah tidak bisa berguru dalam jangka waktu yang panjang, kita bisa berguru menyangkut hal-hal yang paling mendasar. Kalau sudah mengetahui dasar-dasar, dengan berbekal keimanan yang kokoh, apalagi kalau Anda benar-benar memahami dasar-dasar dari keilmuan Islam yang Anda tekuni, dengan berguru pada orang yang tepat, lebih-lebih kalau Anda punya guru spiritual, insya Allah, mau buka youtube dari channel manapun, ustadz sengaco apapun, dan orientalis seliberal apapun, pada akhirnya, kalau Anda melakukan itu, dalam diri Anda akan terbentuk semacam ‘imun’, atau kekebalan intelektual, yang bisa melindungi diri Anda dari berbagai macam penyimpangan itu.

Mulai sekarang, kalau mau punya pemahaman agama yang benar, carilah guru yang benar. Tahu latar belakang pendidikannya. Jelas guru-gurunya. Perhatikan apa yang dikatakan oleh para ulama tentang pandangan-pandangannya. Kalau bisa, telusuri sanad keilmuannya. Kalau sudah jelas, barulah Anda telan ilmunya. Jangan hanya karena orang bergelar doktor, profesor, apalagi ustadz-ustadz yang hanya mengunyah ajaran Islam dari majalah-majalah, tanpa memerhatikan aspek-aspek yang kita sebutkan tadi, lalu Anda telan pandangannya secara mentah-mentah.

Ya terserah sih. Hak setiap orang mau menyimak siapa saja. Dan belajar dari sumber mana saja. Tapi, kalau di suatu hari tiba-tiba Anda terjebak pada paham yang menyimpang, jadi terorislah, ateislah, skeptislah, dan semacamnya, jangan salahkan orang. Salahkan diri Anda sendiri, yang memang sudah belajar agama dengan cara yang salah. Untuk urusan sakit fisik saja kita nggak akan rela menyerahkan pengobatan pada dokter yang tidak jelas keahliannya. Lantas kenapa untuk urusan agama kita mudah menelan ilmu yang datang dari bukan ahlinya?

Boleh jadi para teroris, dan orang-orang yang menyimpang lainnya itu, punya semangat keagamaan yang tinggi. Bahkan mungkin punya otak yang cerdas. Tapi, tanpa belajar pada guru yang tepat, dan sanad keilmuan yang jelas, semua itu akan terlihat cacat. Dan memang itulah yang kita saksikan dewasa ini. Bicara agama hanya bermodal popularitas dan gelar, tanpa peduli apakah yang mereka paparkan itu punya sumber yang jelas ataukah samar. Semoga menjadi bahan renungan bersama. Dan kita turut berduka cita atas kejadian yang menimpa saudara-saudara kita.

Related Posts