Usir Setan Tanah yang Merenggut Ruang Hidup Warga Wadas, Purworejo

Ilustrasi: #Jogjadaruratagraria

Di desa Wadas, Kecamatan Bener, Purworejo, 23 April 2021 sedang terjadi gejolak yang sangat memperihatinkan. Berdasarkan laporan YLBHI-LBHI Yogyakarta, di sana terjadi kekerasan dan penangkapan oleh aparat pada warga Wadas, yang menghadang upaya sosialisasi dan pematokan lahan untuk tambang kuari.

Tepat 22 April yang lalu, Peringatan Hari Bumi. Bagi warga wadas, semua hari bisa jadi hari bumi. Hari ini, ancaman semakin dekat menghampiri mereka, berupa sosialisasi pemasangan patok trase dan bidang tanah. Warga menghadang kedatangannya.

Aksi berakhir kisruh, pemerintah yang ingin melakukan sosialisasi memaksa masuk pemukiman warga. Mereka dibantu oleh pihak kepolisian dan TNI.

Tak ada cara lain selain melawan dengan fisik Warga Wadas juga  melawan berdiri tegak, melantunkan dzikir. Semua ini demi menjaga Ibu Bumi.

Berdasarkan laporan sementara dari YLBHI-LBHI Yogyakarta: Kronologi sementara

  1. Sekitar jam 11 aparat mendatangi desa Wadas menggunakan beberapa mobil salah satunya mobil dengan muatan banyak. Kedatangan mereka terkait dengan rencana sosialisasi pemasangan patok untuk keperluan penambangan batuan andesit yang masih satu kesatuan dengan PSN pembangunan Bendungan Bener.
  2. Dalam mobil tersebut ada banyak aparat kepolisian dan TNI membawa senjata.
  3. Karena jalan sudah dihadang warga dengan menggunakan batang pohon, pihak aparat memaksa masuk termasuk dengan menggunakan gergaji mesin.
  4. Warga dalam posisi duduk sambil bersholawat atas Nabi SAW.
  5. Hingga akhirnya aparat tetap memaksa masuk termasuk menggunakan kekerasan dengan cara menarik, mendorong dan memukul warga termasuk ibu-ibu yang sedang bersholawat paling depan.
  6. Sekitar pukul 11.30 terjadi bentrokan. Warga dan beberapa mahasiswa yang bersolidaritas ditarik dan ditangkap secara paksa.
  7. Setelah itu warga mundur karena ditembak gas air mata.
  8. Sekitar jam 11.47, salah satu PBH LBH Yogyakarta sebagai kuasa hukum warga Wadas, dikerubung polisi hingga  akhirnya dia juga ditarik paksa, dengan cara yg tidak manusiawi, rambut dijambak dll.
  9. Ada beberapa warga, mahasiswa dan kuasa hukum warga yang ditangkap. Data sementara, ada 12 orang yang dibawa ke Polsek dan 9 orang luka-luka.

Berdasarkan rilis pemberitaan terbaru dari @wadasMelawan 2 jam setelah tulisan ini selesai belum ada ada kabar pemberitaan bahwa saudara-saudara yang ditahan di polres Purworejo belum ada kepastian dan kabar mengenai mereka dibebaskan. Teman-teman wadas melawan sangat menuntut keras kepada pihak aparat agar segera membebaskan mereka.

Saya nyesek melihat kejadian. Sungguh sangat biadab. Dan sangat tidak manusiawi. Di tengah mereka sedang berpuasa menahan lapar dan dahaga harus dihadapkan dengan kejadian yang sangat merugikan, dan memperihatinkan ini. Ya Allah 😢😥.

Kita sebagai orang orang islam harus punya sikap  dan mengambi sikap. Membela kaum yang lemah atau dilemahkan adalah bagian dari jihad. Allah berfirman:

وَمَا لَـكُمۡ لَا تُقَاتِلُوۡنَ فِىۡ سَبِيۡلِ اللّٰهِ وَالۡمُسۡتَضۡعَفِيۡنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَآءِ وَالۡوِلۡدَانِ الَّذِيۡنَ يَقُوۡلُوۡنَ رَبَّنَاۤ اَخۡرِجۡنَا مِنۡ هٰذِهِ الۡـقَرۡيَةِ الظَّالِمِ اَهۡلُهَا‌ ۚ وَاجۡعَلْ لَّـنَا مِنۡ لَّدُنۡكَ وَلِيًّا ۙۚ وَّاجۡعَلْ لَّـنَا مِنۡ لَّدُنۡكَ نَصِيۡرًا

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdo`a: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!” (Annisa: 75).

Ayat ini memberikan pemahaman sekaligus dorongan moral kepada kita sebagai kaum muslimin bahwa orang lemah dan dilemahkan harus kita bela. Membela orang-orang yang tertindas oleh sistem dan non sistem itu jihad fi Sabilillah.

Kenapa? Karena mereka sedang dalam ancaman dan cengkraman musuh. Mereka tak berdaya dan tak mampu membela dirinya untuk keluar dari cengkraman musuh. Mereka dianiaya oleh penguasa zalim.

Bagaimana mungkin nurani kita tidak akan bergerak untuk membelanya sementara mereka dalam keadaan yang sangat terancam. Bahkan nyaris sebagian kasus yang ada harus mengorbankan nyawa. Lantas di mana nurani kita sebagai orang Islam tidak peduli kepada mereka.

Perjuangan mereka sangat dibenarkan oleh agama. Tanah adalah tempat menanam tanaman yang bisa bermanfaat kepada makhluk. Tak ada yang lebih banyak manfaatnya selain tanah. Islam menganjurkan tanah agar ditanami dengan tanaman yang bisa digunakan dan dimanfaatkan untuk kehidupan. Manusia butuh tanah. Hewan butuh tanah, bahkan tumbuhan butuh tanah. Coba perhatikan Hadis Nabi berikut ini:

Yahya bin Ayyub, Qutaibah bin Sa’id, dan Ali bin Hujr telah memberitahukan kepada kami, mereka berkata, Isma’il –Ibnu Ja’far- telah memberitahukan kepada kami, dari Al-‘Ala’ bin Abdurrahman, dari Abbas bin Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi, dari Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mengambil sejengkal tanah dengan zhalim, maka Allah akan mengalungkan tujuh lapis bumi kepadanya di Hari Kiamat”. (HR. Muslim: 4108).

Imam An-Nawawi Imam Nawawi, Syarah Shahih Muslim (Jilid 7), Terj: Darwis, Muhtadi, Fathoni Muhammad, Jakarta Timur: Darus Sunnah Press, Cet. 2, 2013, mengatakan hakekat pengalungan dalam hadits di atas terdapat beberapa kemungkinan mengenai maknanya; Pertama, orang tersebut akan dipaksa mengangkat tanah yang dirampasnya; Kedua, tanah itu akan diubah oleh Allah menjadi semacam kalung yang diletakkan di lehernya. Arti ini sesuai dengan firman Allah Ta’ala: “…Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat…” (QS. Ali Imran: 180); Ketiga, dosa orang yang merampas tanah itu akan melekat pada dirinya sebagaimana kalung yang melekat di leher pemakainya. Hadits ini mengandung beberapa pelajaran berharga, yaitu pengharaman perbuatan zhalim, pengharaman merampas sesuatu di mana pelakunya mendapat dosa besar, dan penjelasan bahwa adanya perampasan tanah (Umi Ma’rufah, Bagaimana Islam Memandang Perampasan Tanah di Urutsewu?, Islam Bergerak)

Hadis ini juga memberikan semacam legitimate kepada kita umat islam bahwa tanah yang kita pijak jangan sampai diserahkan kepada orang zalim. Jangan sekali-kali merampas tanah yang tentu saja bukan haknya dengan cara y zalim.

Melihat kasus yang terjadi di wadas, aparat tetap memaksa masuk termasuk menggunakan kekerasan dengan cara menarik, mendorong dan memukul warga termasuk ibu-ibu yang sedang bersholawat paling depan adalah perbuatan zalim yang harus kita lawan. Warga wadas menolak itu sudah sangat sesuai dengan anjuran Islam.

Sikap mereka menolak penggunnaan lahan atau tanah untuk tambang kuari adalah sikap yang sangat dianjurkan oleh Islam. Sebab fungsi tanah tanah untuk ditanami tanaman yang bisa bermanfaat kepada makhluk hidup, bukan untuk dimonopoli satu kelompok atau golongan, tapi untik semua makhluk hidup yang di dunia ini. Sebagaimana sabda Rasulullah, “Jika tiba hari kiamat sedang pada tangan dari kalian bibit pohon kurma maka tanamlah” (HR. Ahmad). Al- Ṣan‘ānī mengatakan bahwa hadis di atas merupakan bagian dari anjuran dan dorongan agar seseorang melestarikan lingkungannya dan menjaganya sampai akhir hayat, bahkan hingga dunia ini musnah (Akmaluddin, Pesan Profetik Lingkungan dalam Hadits, Jurnal Penelitian Vol. 14 No. 2, 2017)

Maka demikian, menurut saya wajib hukumnya membela warga wadas yang sedang dalam keadaan tertindas dan terzolimi. Petani adalah orang yang menjaga kelestarian tanah, menjaga tanah agar sesuai dengan fungsi diciptakannya. KH. Hasyim Asy’ari sangat jelas keberpihakannya pada petani. Kiai Hasyim Asy’ari menulis sebuah ungkapan di era jaman penjajahan jepang dengan tulisan yang dikutip langsung dari media Pesantren Tebuireng:

“Pendek kata, bapak tani adalah goedang kekajaan, dan dari padanja itoelah Negeri mengeloearkan belandja bagi sekalian keperloean. Pa’ Tani itoelah penolong Negeri apabila keperloean menghendakinja dan diwaktoe orang pentjari-tjari pertolongan. Pa’ Tani itoe ialah pembantoe Negeri jang boleh dipertjaja oentoek mengerdjakan sekalian keperloean Negeri, jaitoe di waktunja orang berbalik poenggoeng (ta’ soedi menolong) pada negeri; dan Pa’ Tani itoe djoega mendjadi sendi tempat negeri didasarkan.” (KH Hasjim Asj’ari, Soeara Moeslimin Indonesia, No. 2 Tahun ke-2, 19 Muharom 1363/15 Januari 1944)

Dunia akan tertib manakala enam hal ini terpenuhi. Pertama, agama yang ditaati. Kedua, pemerintah yang berpengaruh. Ketiga, keadilan yang merata. Keempat, ketenteraman yang meluas. Kelima, kesuburan tanah yang kekal. Keenam, cita-cita yang luhur. Ini salah satu kutipan Di akhir tulisannya, Hadrastussyakh Hasyim Asy’ari mengutip dari kitab akhlak Adabud Dunya wad Din Syekh Imam al-Mawardi.

Semoga warga wadas sellu dalam lindungan Allah. Bulan suci ramadhan seharusnya menebar kebaikan bukan malah disambut dengan penggusuran paksa pembangunan, menolak keras segala bentuk represifitas dan tindakan tak manusiawi aparat kepada warga Wadas Purworejo. Kita harus dukung, berani dan membangun solidaritas untuk keadilan. Usir setan tanah yang merenggut ruang hidup rakyat.

Related Posts