Wahabi-Salafi Tertuduh Khawarij?

Ilustrasi:s/ NU Blitar

‘Pintu masuk terorisme adalah ajaran Wahabi dan Salafi’ — pernyataan menarik dari Prof Said Aqiel Siradz yang mengambil desertasi doktornya dengan judul sangat eksotik: ‘Shilatullah bil Kaun fit Tasawwuf al-Falsafi” (Relasi Tuhan dengan Ciptaan Menurut Tasawuf Falsafi).

Yang menarik lagi adalah, Prof. Said Aqiel Siradz adalah alumni Universitas Ummul Qura Mekkah satu-satunya suar perguruan tinggi Wahabi-Salafi di dunia.

Pernyataan Prof Said. Aqiel Syiradz bukan tanpa bukti, meski bisa saja sudah ketinggalan jaman— beliau adalah seorang guru besar, tentu sangat paham dengan apa yang beliau tuliskan. Sebagaimana lazimnya sesama akademikus, saya sangat respek dan sebagai santri saya harus memahami dengan keta’dziman dalam berbagai perspektif, meski tulisan pendek ini sangat tak cukup.

Saya hanya ingin mengatakan dugaan banyak orang, bahwa Wahabi-Salafi itu mewarisi DNA khawarij (?)—- yaitu sekelompok yang merasa paling benar sendiri, mudah menyesatkan dan mengkaferkan karena menabalkan kelompoknya sebagai yang paling sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunah. Mereka meragukan siapapun yang tidak sepemahaman, bahkan dalam lingkungan paling kecil sekalipun.

Asal mula Khawarij adalah kelompok yang tidak puas atas kebijakan Rasulullah saw saat pembagian ghanimah — mereka memprotes dan mengatakan : ‘Wahai Rasulullah berbuat-lah yang adil!

Dari lelaki berjanggut dan berkepala plontos inilah diprediksi bakal lahir kelompok khawarij yang suka protes, anti mapan dan melawan tradisi — sebuah sikap eksklusif yang terus dirawat dan diwariskan dalam berbagai bentuk pikiran —Tapi benarkah ? Pandangan ini memang hanya soal indikasi, semacam prilaku normatif yang ditabalkan pada seseorang atau kelompok tertentu— jadi perlu pembuktian rumit, meski bisa dicandra dalam bentuk simbol dan prilaku.

Tapi bagaimana kemudian membuktikan bahwa ajaran Wahabi dan Salafi menjadi pintu masuk terorisme dan radikalisme ? Secara normatif barangkali bisa —- meski sangat sulit dibuktikan, ada beberapa indikator yang dijadikan patokan :

Pertama puritanisme, bagaimanapun tidak bisa dipungkiri bahwa puritanisme melahirkan sikap anti mapan, melawan tradisi dan kelaziman — puritanisme juga anti adat, perang melawan tahayul, bid’ah dan khurafat, dengan sikap macam ini, maka puritanisme berpotensi melahirkan konflik, perselisihan, bahkan perang atas nama nahi munkar — perang Paderi (Haji Miskin dan Haji Piambang) di Sumatra Barat setidaknja mengindikasikan itu, meski dibutuhkan berbagai keterangan dan penjelasan.

Kedua— jargon kembali kepada Al-Quran dan As-Sunah juga bisa melahirkan sikap radikal-ekstrim. Jargon ini tidak dipungkiri telah melahirkan sikap ekslusif, merasa benar sendiri, merasa paling baik sendiri dan menyalahkan yang bukan kelompoknya sebagai tidak sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunah, karenanya harus diluruskan dan dibenarkan. Paham demikian akan memudahkan menghukumi sesat, kafir, zindieq, menyimpang, ahli bid’ah, thaghuts masuk neraka dan seterusnya kepada yang tidak sepemahaman, bahkan ia menolak belajar kepada guru yang bukan dari kelompok kecilnya dan memilahnya menjadi ulama ahlu bidah, ahlu subhat dan ahlu sunah dengan berbagai implikasi dan konsekwensi.( prinsip Al-wala wal-bara)

Ketiga, inspirasi kisah Abdurahman Ibnul Muljam Al Maqri adalah seorang hafidz, tapi bisa menjadi satu simbol bahwa paham khawarij bisa saja menjadi sebuah paham yang mengerikan— ketaatan atas iman yang diyakini bisa menjadi bumerang dan pisau belati yang tidak saja bisa melukai orang lain, tapi juga dirinya sendiri. Ia mengkafirkan Sayidina Ali ra. kemudian membunuhnya dalam satu paket sikap — karena perbedaan dalam memegang kebenaran.Tapi semua indikator diatas bisa saja salah — pendapat bahwa Wahabi-Salafi sebagai pintu masuk ajaran terorisme tidaklah cukup berdasar. Prof Syafig Mughni menjelaskan: ‘kalau ada teroris berpaham Salafi tidak beratti salafiyah itu teroris tuturnya. Pernyataan dua guru besar ini tak perlu dipertentangkan, keduanya punya otensitas dan perlu banyak pembuktian.

Menafikkan bahwa kebanyakan terorisme berpaham Wahabi-Salafi juga tidak berdasar sebab realitasnya memang demikian, tapi secara general menyebut bahwa gerakkan Wahabi-Salafi sebagai pintu masuk bagi ajaran terorisme juga berlebihan.’ Mari jujur membaca realitas.

Ralitasnya terorisme konvesional telah berubah. Wahabi-Salafi hanya sebuah paham klasik dengan banyak varian. ‘Lone Wolf Terrorism’ generasi baru terorisme telah lahir — mereka bukan isis, bukan wahabi, bukan salafi, bukan khawarij, juga bukan jaringan teroris lainnya. Ia lebih lincah dan fleksibel dengan gerakan yang sulit diduga. Ia sendirian tanpa organisasi. Ia bisa saja lebih wahabi lebih salafi dan lebih isis karena organisasi dianggapnya lamban bergerak. Zakia Aini salah satunya, Saat itu, di bulan Maret 2021, Ia masuk ke Mabes Polri. Sendirian saja. Lalu Ia membuat gerakan menembak, dengan pistol yang diduga pistol gas dengan peluru bulat dari plastik.

Polisi pun membalas. Dan “Dor! Dor! Zakiah Aini pun terkapar, tak ada lawan atau musuh. Ia mati mungkin juga syahid sebagaimana ia impikan.

Secarik kertas ia tuliskan wasiat: bahwa ia sangat mencintai ibunya tapi Allah lebih sayang pada hambaNya. Dan berharap dengan syahidnya ia bisa memberi syafaat bagi keluarganya, ia berwasiat kepada ibunya agar tak berhubungan dengan bank sebab itu riba. Agar ibunya tak lagi aktif di dasa wisma PKK sebab itu membantu penguasa thaghuts. Tak lupa ia juga berwasiat agar keluarga nya tak ikut pemilu sebab mereka akan membuat hukum-hukum tandingan Allah. Diakhir wasiatnya ia tuliskan bahwa: Demokrasi, Pancasila, UUD, Pemilu, menurut Zakiah, adalah ajaran kafir. Itu jelas musyrik. Dengan menjauhi itu, kita semua selamat dari fitnah dunia, kenangnya.

Ramon Spaiij, seorang doktor sosiologi, peneliti dari Victoria University, di Melborne, Australia. Ia meneliti corak Lone Wolf Terrorism di 15 negara: The Enigma of Lone Wolf Terrorism: An Assessmen. Zakia Aini salah satunya.

Setidaknja sikap dan wasiat Zakia Aini bisa jadi ilustrasi kelompok mana saja yang punya kemiripan sikap, yang akan menjadi picu atau pintu masuk bagi ajaran radikal ekstrim —setidaknya dianggap memiliki DNA radikal ekstrim yang bisa saja tumbuh bila mendapat asupan gizi dan lingkungan yang cocok.

Sampai pada perkembangan selanjutnya. Khawarij bukan menunjuk pada seseorang atau kelompok. Jadi khawarij itu bukan Wahabi atau Salafi tapi adalah cara berpikir, cara pandang atau perspektif menganut kebenaran tunggal dan menafikkan perbedaan. Mungkin pula ia merasa sangat disayang dan dirindukan Allah — sebab itu ia ingin cepat berjumpa dan masuk surga dengan cara yang di ingini. Wallahualam.

Related Posts