Al-Azhar Mengajarkan Kemandirian

 

Sekolah di Al-Azhar benar-benar menuntut kemandirian. Kampus hanya menyedikan dosen (syekh), diktat, ruang sekolah dan perpustakaan. Di samping memang ada masjid Al-Azhar yang sering membuka banyak pengajian. Urusan kehadiran, tidak ada absen, tidak ada paksaan. Kalaupun ada absen, biasanya itu hanya sebatas formalitas saja. Ujung-ujungnya, yang tidak pernah masuk kelas pun bisa ikut ujian juga. Kalau lulus, dapat ijazah.

Di sudut-sudut masjid Al-Azhar digelar banyak pengajian yang menghadirkan para ulama besar, dalam berbagai disiplin keilmuan. Adakah yang meminta kita untuk masuk ke situ? Tidak ada. Yang mau ikut, ikut. Yang mau tidur, bisa menutup mata dengan rapat. Yang membangunkan Anda paling hanya sebatas azan salat. Di area kampus, dan di kawasan-kawasan khusus, terdapat banyak toko buku. Dengan harga yang murah-meriah. Tapi adakah yang menyuruh Anda untuk membeli buku-buku itu? Tidak ada juga.

Terus sekolah di Al-Azhar itu bagaimana? Ya sudah, semuanya tergantung Anda. Kampus hanya menyedian kolam, tapi yang memancing adalah diri kita sendiri. Jangan heran kalau ada orang yang bertahun-tahun hidup di Mesir, tapi tidak pernah dapat ikan. Karena ya itu tadi. Adakalanya orang masuk ke area kolam, tapi dia sendiri nggak ikut memancing. Mau dapat ikan dari mana

Karena itu, bagi para pemalas, belajar di Mesir itu sebenarnya sangat tidak cocok. Lebih baik, saran saya, kalau Anda benar-benar mau belajar agama, tapi Anda tergolong sebagai pemalas, mending pergilah ke pondok-pondok pesantren yang sistem pengajarannya ketat dan terbukti berkualitas. Itu lebih baik. Di Indonesia banyak pondok-pondok pesantren seperti itu. Kualitasnya bahkan jauh lebih bagus ketimbang perguruan tinggi. Saya tidak perlu sebut nama. Anda sudah tahu semua.

Terus enak nggak sih sekolah di Mesir itu? Itulah uniknya Mesir. Dia adalah sorga bagi para pemalas, tapi juga sorga bagi para pecinta ilmu, yang benar-benar ingin belajar dengan keras. Mesir adalah sorga, bagi orang-orang yang ingin belajar secara sungguh-sungguh. Namun, sebagai wujud kesungguhan itu, Anda harus mandiri. Jangan hanya menyandarkan pundak pada tembok di ruangan kelas. Saya mau bisa ini, itu dan ini, semuanya bergantung pada kemandirian dan kreativitas Anda.

Saya, waktu jadi mahasiswa, pengen bisa nulis. Akhirnya, tanpa menunggu ajakan dari orang lain, saya datang menawarkan diri kepada para senior untuk diikutsertakan dalam kajian. Masuklah kesana. Tapi, itu pun belum cukup. Karena lagi-lagi, kemampuan menulis hanya terlahir dari kebiasaan yang benar-benar terawat. Harus rajin membaca, juga rajin menuangkan hasil bacaan. Pada akhirnya, kita dituntut untuk mandiri lagi. Tidak cukup dengan menunggu suruhan orang.

Di kampus ada nggak latihan kepenulisan? Tidak ada. Ada nggak diskusi kelas, layaknya di kampus-kampus Indonesia? Semasa saya kuliah, tidak ada. Kecuali beberapa kali saja. Tapi, ketiadaan hal tersebut tidak lantas membolehkan kita untuk menyalahkan pihak kampus. Yang salah adalah diri kita sendiri, yang kerjaannya hanya ingin dipaksa dan dituntun orang lain. Kalau Anda ingin pulang dengan membawa ikan, belajarlah untuk mandiri. Kalau Anda tidak mandiri, tidak ada banyak ikan yang bisa Anda bawa.

Yang cukup miris, kadang ada sebagian mahasiswa yang dalam pikirannya itu hanyalah meninggikan nilai dan nilai. Pokoknya saya ingin lulus dengan predikat tinggi. Soal nanti saya bisa apa, itu urusan belakangan. Yang penting lulus dengan nilai bagus dulu. Yang punya cara pandang begini itu biasanya suka kebingungan setelah selesai kuliah. Saya mau kerja apa? Tengok kanan, tengok kiri. Nggak ada yang bisa dikerjain.

Wajar, karena semasa kuliah dia hanya sibuk memikirkan prestasi, tapi lupa mematangkan kompetensi. Padahal yang kedua inilah yang sesungguhnya lebih penting. Dan, untuk meningkatkan kompetensi itu, Anda harus benar-benar mandiri. Tidak cukup hanya dengan menghafal dan mengaji.

Kampus itu hanyalah salah satu pintu untuk meningkatkan keilmuan kita. Tapi dia bukan pintu satu-satunya. Semakin banyak pintu yang kita ketuk, semakin banyak pulalah bekal yang kita dapat. Jangan lupa, zaman sekarang, sudah banyak orang-orang hebat yang terlahir dari luar kampus. Kenapa bisa begitu? Karena mereka mandiri, dan bersungguh-sungguh dalam meningkatkan kemampuan mereka sendiri. Pentingkah memasuki perkuliahan? Penting. Tapi ada yang lebih penting, yaitu kemandirian dalam meningkatkan kemampuan.

Related Posts