Apa yang Perlu Kita Pikirkan?

Ilustrasi: EKRUT

Berpikir itu gratis dan bisa dilakukan kapan pun dan bebas memilih tema apa pun untuk dipikirkan sampai kepala panas. Akan tetapi tidak semua hal yang penting lantas perlu kita pikirkan. Yang perlu dipikirkan hanyalah hal-hal yang secara nyata berkaitan secara langsung dengan diri kita dan orang-orang yang secara fikih menjadi tanggungan kewajiban kita. Selain itu, maka fardhu kifayah yang artinya cukup sebagian orang yang kompeten yang memikirkan solusinya sedangkan yang lainnya tidak dituntut untuk itu.

Contoh sederhananya demikian:

1. Bila anda pedagang dan kebetulan mempunyai hutang yang hampir jatuh tempo, maka pikirkanlah bagaimana cara anda membayar hutang tersebut sesegera mungkin, jangan malah menyibukkan diri dengan memikirkan apakah vaksin tertentu bisa memutus rantai infeksi virus corona di planet ini dengan segera.

2. Bila anda orang yang mempunyai keterbatasan, baik secara finansial atau skill, maka pikirkanlah bagaimana cara anda menaikkan taraf hidup anda dan keluarga anda menjadi lebih baik. Pikirkanlah bagaimana caranya bisa menjadi sukses sehingga berguna bagi orang sekitar anda atau bagaimana pendidikan anak-anak anda supaya ke depannya mereka mampu jauh melampaui titik pencapaian anda sekarang.

Sebuah kesalahan besar bila anda malah menyibukkan diri dengan memikirkan soal penjajahan Israel terhadap Palestina atau persaingan antara dunia Barat dengan dunia Islam yang jelas-jelas di luar kapasitas anda. Islam tidak akan maju dan Palestina tidak akan merdeka dengan obrolan orang-orang “tak berdaya” di warung kopi atau di medsos, tetapi Islam bisa maju di dunia ini (bukan membahas akhirat ya) apabila generasi yang sekarang berhasil mencetak keturunan yang lebih sukses di berbagai bidang duniawi dibanding generasinya sendiri.

Saya terkadang miris melihat sebagian orang yang waktu dan pikirannya sepertinya habis memikirkan dan membahas isu-isu global seperti kemajuan Islam, bahaya laten komunis, isu-isu politik dalam dan luar negeri dan sebagainya padahal dia belum selesai dengan dirinya sendiri. Jangankan membantu tetangga atau keluarganya yang sedang susah, membantu dirinya sendiri agar tidak lagi susah saja tidak mampu, eh malah menghabiskan waktu untuk “menyelamatkan dunia”.

Saya menduga sebenarnya pembahasan isu-isu global yang di luar jangkauannya itu sebenarnya adalah caranya untuk mengelak dari seabrek masalahnya sendiri yang tidak mampu ia atasi.

Saya kenal seseorang yang membahas sangat serius masalah global seperti kiamat, Dajjal, munculnya Imam Mahdi dan berbagai masalah “melangit” lainnya hingga menghabiskan biaya yang tidak sedikit untuk itu padahal keluarganya berantakan, anak-anaknya tidak terurus dan banyak tugasnya yang dia abaikan. Ada juga yang saya lihat hidupnya serba kesulitan, tidak dikenal dan tidak mempunyai pencapaian yang layak diceritakan tetapi dengan sepenuh hati dan sepenuh kekuatan yang dimiliki setiap hari membahas soal isu-isu nasional-kenegaraan. Kasihan meskipun yang bersangkutan tidak ingin dikasihani.

Yang diuntungkan dari orang-orang semacam itu hanya dua pihak, yakni: Pertama adalah operator seluler yang mendapat laba dari paket kuota yang dia beli untuk “menyelamatkan dunia”. Kedua adalah politikus yang memanfaatkan isu semacam ini untuk mendulang suara tatkala pilpres.

Jadi, yang perlu diprioritaskan adalah masalah diri sendiri, kemudian keluarga kecil, kemudian keluarga besar dan lingkungan sekitar, kemudian baru cakupan yang lebih luas kemudian yang lebih luas lagi bila memang mempunyai kompetensi untuk itu. Boleh sih sesekali membahas masalah global atau memberikan donasi untuk masalah luar negeri misalnya, tetapi jangan sampai itu menjadi prioritas tatkala ada masalah lain yang nyata di depan mata.

Sebuah masalah oleh para ulama dijadikan sebagai fardhu kifayah sebab memang tidak untuk dilakukan semua orang. Justru malah menjadi masalah baru apabila yang fardhu kifayah dilakukan atau dipikirkan semua orang seolah-olah fardhu ‘ain (kewajiban yang berlaku atas setiap individu). Karena itulah ketika di masa Nabi Muhammad dulu perang sangat urgen dilakukan untuk mempertahankan diri dan personil umat islam sangat terbatas, justru al-Qur’an turun mengingatkan agar tidak semuanya ikut berperang tetapi ada sebagian yang ditinggal untuk fokus belajar dan mengajar. Dalam konteks kekinian, ketika ada isu besar skala nasional atau internasional sangat urgen untuk diatasi, maka jangan seluruh warga negara atau seluruh umat menyibukkan diri dengan itu tetapi perlu tetap ada yang fokus menyelesaikan masalah lain yang bisa dihadapi sesuai kompetensi masing-masing.

Sadari kemampuan diri, pikirkan yang memang perlu dipikirkan dan ubah apa yang bisa diubah sehingga manfaatnya nyata, bukan semata wacana.

Related Posts