Beberapa Sebutan Bersih-bersih di Madura dan Alat-alatnya

Ilustrasi: golandesa

Madura memang selalu menyajikan sebutan-sebutan konyol kedengarannya. Akan tetapi itulah faktanya, itulah Madura. Madura memang beda.

Ada beberapa sebutan menyapu (membersihkan, atau bersih-bersih) bagi orang Madura yang penulis ketahui yang mungkin saja pembaca budiman belum mengetahuinya. Yakni, asapoan, akellotan, atonas, akosek, dan akosar. Itulah lima sebutan bagi orang Madura ketika hendak membersihkan suatu tempat yang penulis ketahui. Adapun penjelasannya dari lima macam sebutan tersebut adalah sebagai berikut:

#Asapoan

Asapoan kalau dibahasaindonesiakan berarti menyapu. Baik itu menyapu halaman rumahnya, halaman sekolah, kuburan, dan semacamnya yang memang layak untuk dibersihkan atau disapu oleh sapu.

Dan di Madura istilah asapoan ini, ketika hendak asapoan (menyapu) menggunakan sapu lidi (red, lenteh, kata orang Madura). Artinya jika hendak menyapu mosholla atau langgar nyaris bisa langsung bersih jika kotorannya tidak terlalu banyak. Orang Madura jarang membeli sapu lidi, kebanyakan bikin sendiri. Itulah kehebatan orang Madura. Cobak orang Eropa dan Amerika suruh bikin sapu lidi, pasti kaku. Misal Ronaldo dan Messi.

#Akellotan

Akellotan ini tidak jauh berbeda dengan asapoan. Sama-sama upaya untuk membersihkan. Lah, ya, kan yang dibahas memang membersihkan bukan mencuri. Skip, oke. Akellotan ini sapunya lebih kepada sapu Ijuk bukan supu lidi. Artinya, di Madura, lebih-lebih di desa penulis dan sekitarnya itu ketika hendak menyapu kamarnya itu menggunakan sapu Ijuk.

Wajar sih pakek sapu Ijuk, selain gak ribet dan enggak rumit dibeli, di toko banyak, enggak usah ke pasar, harganya relatif murah dan tahan lama. Pas banget dengan ukuran karakteristik orang Madura. Butuh bahan atau benda yang bagus, awet, joss, top, enak dipakek. Kecuali sapu lidi. Sapu lidi, sapu kebanggan orang Madura, Boss!!

#Atonas

Atonas ini bukan lagi menggunakan sapu lidi dan sapu ijuk, apalagi sapu plastik maupun sapu jerami. Enggak banget. Tapi atonas ini membersihkan suatu tempat di sepanjang jalan, ladang dan kebun yang di sekeliling itu ada banyak rumput liar, pohon-pohon kecil yang menghalangi jalan atau tempat tani mereka (red, rombuh kata orang Madura) dengan menggunakan arit. Baik itu arit kecil maupun arit besar. Pokoknya pohon atau rumput liar itu kudu dikupas secara tega sempai ke akar-akarnya.

#Akosek

Akosek ini adalah membersihkan tempat lebih kepada ladang dan kebun saja. Alatnya sama, menggunakan arit (celurit). Beda dengan atonas. Jadi, kalau atonas itu bisa membersihkan jalan yang penuh rumput, ladang dan semacamnya. Akan tetapi kalau akosek ini lebih kepada mengupas tuntas rumput-rumput di sawah mereka-mereka para petani di Madura. Misal mereka menanam padi, jagung, tembakau dan lain-lain. Lalu di samping tanaman itu ada rumput liar tinggi yang menghalangi mereka ketika hendak menyiram atau menaburi obat agar tidak dimakan ulat. Maka ditebaslah, dikosek (dibersihakan) lah rumput itu dengan celurit yang harganya 30.000-an. Harga alatnya terjangkau, Boss!!!

#Akosar

Akosar ini adalah membersihkan rumput di kuburan. Ya, orang Madura yang membersihkan  rumput di kuburan leluhurnya atau yang mengotori area makam itu disebut akosar. Perlu diketahui bahwa, akosar kuburan (membersihkan kuburan) ini adalah kegiatan rutin tahunan orang Madura ketika bulan Ramadan menjelang Idul Adha dan Idul Fitri.

Ya, di Madura, terutama di desa penulis dan sekitarnya, makam yang penuh rumput itu tiap pagi tidak dibersihkan. Jarang bahkan bisa dikatakan tidak ada. Tapi kalau setiap hari Kamis sore, menjelang malam Jum’at itu tetap ngaji ke keburan keluarganya. Dikira orang Madura enggak bisa ngaji? Hanya saja ngaji doang, enggak membersihakan, kalau ada, itu jarang, bisa dihitung dengan jari enggak usah kalkulator.

Kecuali menjelang hari Idh. Maka itu disiarkan melalui speaker masjid, biasanya abis maghrib dan isyak. Contoh pengumamannya

“Pangumuman dek sedejeh masyarakat Rajun Beto Ampar, lakkuk pagi kakdintoh eso’onah kompakah deteng ka koburen kaangkuy akosar, eso’onah kaangguy nyambih landuk, sadek rajeh, cakkong” 2X, sebellunah mator sakalangkong

(Pengumuman kepada seluruh masyarakat Rajun Batu Ampar, bahwa besok pagi akan diadakan kerja bakti membersihkan rumput dan kotoran-kotoran di tempat pemakaman, diharapakan untuk membawa peralatan seperti cangkul, arit dan peralatan lain)

Itulah contoh pengumuman kepada masyarakat di Madura khusunya di daerah tempat saya tinggal ketika hendak membersihkan tempat pemakaman. Pokoknya semangat banget, ketika ada bersih-bersih makam menjelang hari Idh, kegiatan bertani mereka seakan-akan wajib ditingal dulu, misalkan ada kepentingan wajib, itu diwakilkan, bisa menyuruh anaknya dan keluarga lainnya. Saking semangatnya.

Alatnya serba bisa, dan yang paling utama adalah cangkul yang tajam. Bukan cangkul yang tumpul, masak iya mau pakek cangkul yang sudah tidak layak pakai? Apa kata mereka-mereka? Ya, akosar ini ketika tidak membawa cangkul, itu dikatakan tidak ada niat untuk membersihkan makam.

Itulah anggapan orang Madura di desa penulis. Selebihnya dari cangkul adalah arit dan alat-alat bersih lainnya, yang terpenting cangkul tidak boleh lupa dibawa.

Related Posts