Islam: Fakta Perang dan Fakta-Fakta Lain

Ilustrasi: Mata Mata Politik

Banyak yang mengatakan bahwa Islam adalah agama perang. Karena mengajarkan peperangan. Buktinya dalam proses penyebarannya penuh dengan perang dan pertumpahan darah. Dalam ayat-ayat Al-Quran juga banyak yang mengajarkan perang. Tak jarang, cara berpikir ini disampaikan dengan nada menggebu-gebu dan penuh keyakinan.

Dalam perenungan saya, Islam tidak pernah mengajarkan perang. Perang bukan ajaran Islam. Loh, kok? Berarti saya menyangkal fakta sejarah? Menyangkal ayat-ayat pedang yang banyak terdapat dalam Alquran? Mendustakan anjuran Allah yang sudah tersurat dalam firman-Nya.

Saya menempatkan perang sebagai fakta sejarah. Bukan sebagai ajaran. Sebelum Islam datang, perang sudah ada. Penyebaran kekuasan raja-raja kebanyakan melalui perang. Perebutan wilayah mengharuskan perang. Provokasi tanpa klarifikasi dalam hubungan bilateral antar kerajaan tak jarang menyulut perang. Pelecehan simbol kerajaan, bisa meledakkan perang.

Bahkan antar kelompok kecil pun, saat sebuah gesekan terjadi, bentrok tidak bisa terelakkan. Bahkan sampai harus ada yang meregang nyawa. Dalam hubungan antar individu, ketika terjadi ketersinggungan yang menyangkut harga diri, bisa terjadi perkelahian–perang kecil-kecilan.

Allah tahu, Islam datang dalam keadaan dunia sudah penuh dengan beraneka ragam identitas. Masing-masing identitas sudah mengukirkan garis-garis pembatas yang sangat kuat, ibarat garis-garis batas pagar tetangga yang andaikan ada satu orang pun berani menggesernya, maka celurit dihunus, leher ditebas.

Kedatangan agama baru ini akan berperan sebagai pengusik garis-garis batas yang sudah mapan dalam pandangan kaum jahiliyah. Sementara ada dua agama samawi yang mendominasi kebenaran di bawah tuntunan para rahib dan pendeta: Yahudi dan Nasrani.

Sebagai tawaran identitas baru, tentu bagi sebuah kemapanan akan menjadi ancaman yang membahayakan. Perang sebagai upaya penjegalan dari beberapa identitas lama pasti akan dihadapi, meskipun Islam yang bertabiat asli penyebar perdamaian dan kasih sayang tidak menghendaki. Namun konsekuensi alamiah pasti menghendaki itu. Maka Allah dengan firman-Nya mengatur SOP dalam berperang. Tujuan utamanya, agar Islam bisa diterima dengan izzah-nya dan sebisa mungkin meminimalisir pertumpahan darah.

Jadi jelas, perang bukan ajaran. Melainkan sebuah fakta sosial yang harus dihadapi dalam kondisi tertentu. Islam menyelipkan ajarannya dalam setiap kenyataan yang dihadapi oleh manusia, termasuk dalam kenyataan perang. Kebiasaan-kebiasaan salah yang tidak menjunjung tinggi kemanusiaan dalam perang, sebisa mungkin dicegah dan dimusnahkan. Selama perang bisa dicegah dengan perjanjian damai dan i’tikad untuk tidak saling mengusik antar identitas, maka perang tidak boleh terjadi. Piagam Madinah sebagai contoh real dalam hal ini.

Kenyataan sosial yang berupa perang, rupanya berhasil dikontekstualisasi oleh Wali Songo saat di Nusantara menemukan sebuah kenyataan budaya: wayang. Sebagai kenyataan budaya, Sunan Kalijogo menyikapi wayang bukan dengan memberangus dan memusnahkannya. Beliau mampu masuk dan menelisik pelan ke dalam dunia perwayangan, mengoreksi secara halus unsur kesyirikan di dalamnya.

Lantas, apakah Sunan Kalijogo mengajarkan wayang? Tidak, wayang sudah ada sebelum beliau. Tapi beliau menemui sebuah fakta budaya yang tidak bisa dihindari. Maka beliau hadapi saja, bahkan beliau masuki, lalu menawarkan ajaran Islam di dalamnya.

Dalam pembacaan terhadap fenomena, terutama yang kita dapatkan dalam sejarah, kita mesti membedakan, mana ajaran dan mana yang bersifat taktis dan strategis yang memang disediakan untuk menyikapi kenyataan. Sehingga tidak mudah menyimpulkan dengan kesimpulan kaku, tanpa mengiringi dengan upaya merenangi proses kehidupan yang selalu berdialektika dengan sejarah.

Cara pemosisian berpikir seperti ini rupayanya banyak dilanggar dalam aspek kehidupan yang lain. Seperti saat menemukan Islam bicara tentang ekonomi, kita menyimpulkan bahwa Islam mengajari kita untuk berekonomi. Dengan nada penuh semangat, disebutkan bahwa sebagian besar dalam pembahasan fikih adalah tentang muamalah, mengalahkan bab tentang ubudiyah.

Benar. Tapi itu tidak bisa diartikan bahwa Islam mengajari kita untuk berekonomi. Ekonomi adalah fakta hidup yang tak bisa disangkal; tuntutan alamiah yang pasti dibutuhkan manusia. Sampai banyak orang kelewat batas dengan penuh ambisi, melabrak etika dan tak mau tahu tentang rasa kemanusiaan demi ambisi mengumpulkan harta. Kemudian Islam hadir untuk memberikan tuntunan moral. Mengatur penyelewengan-penyelewengan yang terjadi.

Maka semestinya semangat untuk menegakkan moral dalam berdagang harus lebih didahulukan dibanding semangat dalam berekonomi itu sendiri. Sebagaimana dalam perang, semangat untuk melaksanakan aturan Islam seperti meminimalisir pertumpahan darah harus didahulukan dari pada nafsu penaklukan dan penguasaan wilayah.

Begitu juga ketika Islam bicara tentang politik, bukan berarti Islam mengajarkan kita agar berpolitik. Tapi fakta-fakta busuk yang ada dalam politik, harus dilenyapkan dengan nilai-nilai moral yang dibawa oleh Islam. Penegakan moral berstandar Islam harus didahulukan dari pada sekadar berpolitik itu sendiri.

NB: Tulisan ini hanya esaiย  ringan, bukan artikel ilmiah. Bertujuan menjelaskan opini hasil perenungan pribadi. Masih banyak peluang untuk dikritik dan dibantai.

Related Posts