KH. Mashudi Santri Kinasih Kiai Hasyim Asy’ari yang Ikut Berjuang Melawan Penjajah (1)

Kiai Mashudi berkopiah putih

Perjalanan dari Lowokwaru, kota Malang, ke Wajak, kabupaten Malang membutuhkan waktu sekitar 1 jam kalau naik motor dengan kecepatan standar. Karena jalannya nyaris semua beraspal. Bahkan sampai ke kediaman KH. Mashudi di pelosok  jalan sangat mulus dan beraspal.

Saya bersama teman-teman santri jauh-jauh hari sudah mengagendakan sowan ke salah satu ulama pejuang kemerdekaan yang sampai saat ini masih sangat bugar, fasih bicaranya, tajam ingatannya dan yang tak kalah penting tawaduknya luar biasa yaitu KH. Mashudi.

Di berbagai literatur lain disebutkan beliau lahir pada tahun 1902. Dan sekarang berumur sekitar 120 tahun. Namun menurut penuturan salah satu tokoh di desa blayu Wajak sana beliau berumur sekitar 127 tahun. Wallahu a’lam. Sayang, saya lupa mengkonfirmasi umur itu ke beliau. Yang sempat beliau ceritakan soal tempat kelahirannya saja. Beliau lahir di Tajinan kabupaten Malang. Beliau asli Malang. Beliau lahir memang dilatih jadi pejuang oleh ayah dan ibunya. Bahkan nyaris dalam hidupnya nggak pernah dimanja. Ibunya dari tajinan dan ayahnya dari Bangil.

Yang jelas, beliau dianugerahi umur panjang oleh Allah SWT. Sekaligus kesehatan yang sangat prima. Ingatannya sangat perfek. Hidupnya sederhana. Mungkin hari ini beliau salah satu tokoh atau kiai tanpa pesantren. Meskipun tanpa Pesantren beliau berdakwah kemana-mana. Dan jarang menolak undangan kalau tidak betul-betul ada halangan yang bersifat syar’i.

Ketika berceramah beliau sering memilih berdiri, karena menurut beliau berdiri adalah salah satu penyemangat para hadirin yang hadir. Beliau pernah berdiri hampir 2 jam ceramah di panggung. Bayangkan di umur beliau sudah 100 tahun lebih.

Kalau melihat kefasihan dan ketajaman ingatannya kiai Masyhudi ini, saya jadi ingat Mbah Maimoen Zubair. Mungkin dari sisi umur berbeda. Namun dari sisi kefasihan dalam membaca ayat Al-Qur’an, berbicara lantang nyaris sama. Karena berkali-kali di hadapan saya dan teman-teman mengutip ayat suci Al-Qur’an dengan fasih.

Berkali-kali beliau mengutip kitab kuning seperti Syarah Bukhari Muslim dan kitab lain. Dan ternyata juga fasih berbahasa Belanda dan Jepang.

Beliau adalah santri Kinasih Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari Jombang. Salah satu murid yang pernah berjuang bersama Hadratussyaikh  dan bung Tomo Surabaya. Beliau saksi sejarah perjuangan kemerdekaan, beliau saksi hidup perjuangan bangsa Indonesia dari penjajah dan ikut terlibat pula dalam gerakan 10 November di Surabaya resolusi jihad yang digagas Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari.

Sampai di kediamannya, beliau menyapa satu persatu teman-teman.

Siapa namanya, dari mana?. Sapa beliau, (saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia)

Karena kebetulan saya ada di dekat beliau langsung saya yang pertama kali ditanyakan.

“Dari Sumenep, kiai, tapi nyantri di cengger ayam pesantren kiai Hasyim Muzadi”

“O.. taretan tibik, benyak taretan kaule ekakdissak, santrenah pak Hasyim Muzadi ki” (o saudara sendiri, banyak saudara saya di sana, santrinya pak Hasyim Muzadi ya)”

Dan pertanyaan berlanjut ke teman-teman yang lain. Dan sama, beliau mengungkapkan bahwa banyak saudara-saudara beliau juga di sana, bahkan katanya hampir tiap daerah. Mungkin saja saudara seperjuangan atau memang saudara sefamilian.

“Sudah berapa tahun di pesantren Al-Hikam?” Tanya beliau

“Hampir 4 tahun, kiai”

“Sudah dapat banyak ilmunya, sudah saatnya berkiprah ke masyarakat. Dulu 4 tahun itu sulit belajar ilmu yang serius karena ditambah tugas lain, masak ini itu dll. Sekarang kan tinggal belajar saja karena makan sudah disediakan”, terang beliau sambil memperlihatkan senyum khasnya.

Tentu saja saya malu. Sangat malu. Karena bertahun-tahun belajar di pesantren merasa belum dapat apa-apa. Jangankan berjuang dengan masyarakat, berilmu saja tidak ada. Namun dauh beliau saya aminkan sebagai doa.

Karena yang sowan adalah santri beliau mulai bercerita perjuangan mencari ilmu orang dulu. Orang mencari ilmu harus berani kesulitan (wong golek ilmu iku kudu wani kangela) Karenanya, beliau menganalogikan perjuangan orang cari ilmu dengan ilmu i’lal. Untuk jadi lafadz qaala.. itu kan butuh proses i’lal dari qawala hingga fasoro qaala (dalam bahasa Jawa: sulit) jadi harus berani sulit, kata beliau.

Beliau banyak bercerita soal sejarah pahlawan yang mungkin belum banyak diungkapkan dan belum tercatat dalam sejarah. Mulai dari perjuangan ulama dari ujung pulau Jawa Banyuwangi-Malang sampai Mojokerto. Beliau juga cerita pejuang dan ulama asal Malang yang bernama Syaikh Muhammad Mahmudi bin Yusuf dan silsilahnya sampai sunan gunung jati Cirebon. Rentetan peristiwa dan sejarah yang membersamai beliau sangat detail disampaikan kepada kami. Seperti rekaman yang diputar ulang.

Saya yang di dekat beliau langsung seketika  sempat melihat cucuran air mata ketika menceritakan sejarah itu. Terutama ketika menceritakan ulama asal Malang, guru ngaji beliau, kiai Tamin, yang disiksa oleh pasukan Jepang, ditelanjangi sambil ditusuk-tusuk dengan senjata tajam. Lalu dibawa pulang ke rumahnya dan ditembak hidup-hidup di depan masjid dekat kediaman beliau, kota Malang.

Saya tak mungkin menceritakan semua sejarah hidup yang beliau sampaikan. Mungkin lain kali aja sebab beliau cerita hampir 1 jam lebih. Banyak sekali fakta-fakta sejarah yang menurut saya baru dan penting diketahui oleh anak milenial seperti saya. Sebab sejarah adalah pondasi penting dalam kehidupan biar tidak mengalami disorientasi.

Jadi menurut beliau orang-orang dulu itu tidak pernah bermain-main dengan perjuangan kemerdekaan ini. Tinggal kita ini harus mendoakan, menjaga warisan dan merawat kemerdekaan. Karena sudah merasakan hasilnya dan enaknya. Jangan sampai mengecewakan pejuang kemerdekaan orang dulu seperti Hadratussyaikh Hasyim dll, pesannya.

Ini hanya pengantar saja cerita beliau soal sejarah. Nanti, insya Allah akan lebih detail untuk dituliskan soal sejarah dan perjuangan hidup beliau bersama para ulama lain versi beliau.

Related Posts