Kultum Ramadan (27) Kenapa Orang Berilmu Dituntut Memiliki Sikap Santun?

Belakangan ini banyak sekali orang yang menyampaikan ilmu atau ceramah-ceramah di panggung dengan nada-nada yang mengerikan. Ada dua kemungkinan menurut saya kenapa mereka bisa demikian

Pertama, bisa jadi piranti keilmuannya sedikit dan tak memadai. Jadi untuk menyampaikan ilmu tak cukup hanya dengan hadis dan Alquran saja. Ada piranti ilmu yang harus dikuasai, seperti nahwu sharaf dan balaghah. Ilmu tersebut menjadi titik awal untuk memahami Al-Qur’an dan Hadis.

Karena kebanyakan mereka tak bisa memahami itu maka mereka susah diajak mikir konteks dan relevansinya. Sehingga ia sangar dan menakutkan memakanai ayat Al-Qur’an dan hadis.

Kedua, kemungkinan salah mencari guru. Ini penting. Karena guru itu yang akan menentukan jejak kita kedepan mau kemana dan mau ngapain saja. Begitu juga dengan sanad keilmuannya, apakah sanadnya ke Rasulullah atau ke abu jahal.

Dua hal di atas menjadi penting bagi siapa saja yang mau belajar ilmu. Jangan setengah-setengah. Harus totalitas. Dan perhatikan dari siapa anda mengambil itu. Supaya anda menjadi orang berilmu sekaligus punya sikap santun.

Menurut imam Ghazali, dalam kitab Mukhtasar Ihya Ulumiddin, sikap santun ini atau bersabar adalah lebih utama daripada meredam amarah. Karena meredam amarah ini menurut Al-Ghazali upaya memaksakan diri untuk bersikap santun. Tidak murni dari panggilan nurani.

Karenanya, imam Ghazali memberikan pemahaman kepada kita bahwa sikap penyantun yang memang benar-benar berangkat dari kabiasaan dan selalu spontanitas dan sudh menjadi tabiat menunjukkan kesempurnaan akal pelakunya (waras, sehat jasmani dan ruhani). Dan ia mampu memecahkan kekuatan sikap marah dengan kendali akal yang dimilikinya.

Bisa jadi menurut imam Ghazali, hal demikian bisa dilakukan dengan cara latihan dan bisa juga dengan dipaksakan dan kemudian menjadi kebiasaan.

Rasulullah Saw bersabda:

إنما العلم بالتعلم والحلم بالتحلم ومن يتحرى الخير يعطه ومن يتوق الشر يوقه

Sesungguhnya ilmu itu bisa didapat dengan belajar, namun sikap penyantun itu harus dengan latihan bersikap santun, barangsiapa yang suka mencari kebaikan, maka ia akan mendapatkannya, dan barangsiapa yang berupaya untuk menghindari keburukan, maka ia akan dihindarkan (HR. Al-Haistani)

Sikap santun ini menjadi penting bagi orang berilmu, apalagi orang yang tidak berilmu. Kenapa sebab? Ternyata mencari ilmu itu lebih mudah daripada melatih kesantunan.

Rasulullah bersabda yang dikutip dari kitab Muktashar Ihya Ulumiddin atau dikenal dengan nama Almursyidul Amin, karangan karya Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, cetakan darul kutub Islamiyyah, hal 148

أطلبوا العلم واطلبوا مع السكينة والحلم

“Carilah ilmu, serta carilah ilmu itu bersamaan dengan sakinah (ketenangan) dan kesabaran (sikap santun)”

Related Posts