Kultum Ramadan (28) Cara Mendapatkan Kedudukan Tinggi di Sisi Allah

Kedudukankan di sisi Allah jelas tidak sama dengan kedudukan di sisi manusia di dunia ini. Lantas bagaimana cara mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah? Berikut dauh Rasulullah Saw yang dikutip dari kitab Muktashar Ihya Ulumiddin atau dikenal dengan nama Almursyidul Amin, karangan karya Imam Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali, cetakan darul kutub Islamiyyah, hal. 148.

إبتغوا الرفعة عند الله، قالوا: وما هي يا رسول الله؟ قال: “تصل من قطعك، وتعطي من حرمك، وتحلم عمن جهل”

Carilah kedudukan tinggi di sisi Allah, Sahabat bertanya: “Bagaimana caranya wahai Rasulullah?”, Rasulullah menjawab: “datanglah kamu bersilaturahmi kepada orang yang memutus hubungan denganmu, dan kamu memberi kepada orang yang tidak pernah memberi sesuatu kepadamu, dan bersikap santun kepada orang yang membodohimu.

Ada 3 cara yang disampaikan Rasulullah untuk mendapatkan tinggi di sisi Allah SWT:

Pertama، silaturahmi kepada orang yang memutuskan hubungan dengan kita. Ini merupakan sesuatu yang cenderung berat bagi mereka yang egoismenya tinggi. Tidak mau mengakui siapa yang salah di antara mereka yang memutus hubungan.

Nah di sinilah nilai plusnya seandainya di antara mereka mau bersilaturahmi dan saling memaafkan. Saya punya sedikit cerita, ada seseorang yang lama bermusuhan karena suatu hal, lama kelamaan salah satu pihak memutuskan untuk bersilaturahmi. Ya bersilaturahmi saja, nggak membahas apa yang melatarbelakangi permusuhan itu.

Jadi dua-duanya memutuskan untuk melupakan masalah yang terjadi. Sehingga di acara silaturahmi itu ya bahas soal lain yang tidak menyangkut perseteruan yang menyebabkan mereka memutuskan hubungan. Saya rasa hal seperti ini bisa dicoba manakala di antara dua belah pihak tak mau mengakui salah, tapi bersepakat untuk melupakannya saja.

Kedua, Memberi kepada orang tidak pernah memberi sesuatu kepada kita.

Gambarannya seperti ini, jika anda misalkan punya tetangga yang pelit. Maka anda tak perlu bersikap pelit juga kepadanya. Ini contoh yang diajarkan Rasulullah Saw kepada umatnya.

Berat? Tentu saja. Tapi dengan sikap demikian siapa tahu bisa mengetuk pintu hati mereka untuk sama-sama saling memberi apa yang mampu diberikan. Tidak harus kepada kita misalnya sebagai orang yang pernah memberi, kepada orang lain pun sudah cukup. Namun catatannya, jangan sampai berharap demikian. Tugas kita hanya memberi bukan berharap akan diberi balik orang lain.

Ketiga, bersikap santun dan sabar kepada orang membodoh-bodohi kita. Bisa jadi selalu mengganggu hidup kita, mencaci kita, menghina kita, maka bersabarlah.

Imam Ghazali mengajarkan kita untuk bersikap santun. Kata iman Ghazali, “jika orang santun dijahili, maka balaslah dengan sikap santun, dan itu akan menambah kemuliaan dan mendapatkan pahala yang melimpah di sisi Allah.

Related Posts