Kultum Ramadan (29) Tingkat Kedermawanan yang Paling Tinggi

Di kultum sebelumnya saya menulis tentang Ibadah paling baik adalah dermawan. Kali ini ini saya akan memperluas perbincangan soal kedermawanan.

Kedermawanan memiliki tingkat atau derajat tersendiri. Menurut Imam Ghazali dalam kitab Muktashar Ihya Ulumiddin, hal. 157 derajat kedermawanan paling tinggi adalah mengutamakan kepentingan orang lain atau bahasa beliau istar.

إعلم أن أرفع درجات السخاء الإيثار، وهو أن يجود بالمال مع الحاجة إليه، والسخاء هو الجود بما فضل عنك

Ketahuilah, sesungguhnya tingkatan kedermawanan yang paling tinggi adalah mengutamakan kepentingan orang lain. Maksudnya adalah menafkahkan harta kepada orang lain di saat justru ia sendiri sedang membutuhkannya. Sedangkan sikap dermawan itu sendiri adalah menafkahkan sesuatu yang memang lebih dari apa yang kita butuhkan.

Ini level kedermawanan yang sangat tinggi. Seringkali kita berpikir “jangankan mau ngasih, wong saya aja membutuhkan kok dan sering kekurangan”. Kalaupun kita belum bisa meniru level ini sepenuhnya paling tidak kita bisa saling berbagi separuh-separuh.

Misal, ada orang yang butuh uang 50.000, sedangkan kita juga hanya punya 50.000 untuk bisa hidup bahkan kedepannya. Maka minimal kita bisa ngasih separuhnya 25.000.

Pernah nggak kita mengalami, bahkan mungkin delima atau bisa jadi kita punya keputusan yang lebih berpihak kepada diri kita sendiri saat kita melihat orang lagi membutuhkan tapi kita sendiri sama-sama membutuhkan.

Berikut cerita yang menarik dan bisa dijadikan pelajaran,

Diceritakan bahwa suatu ketika ada seorang tamu yang datang menemui Rasulullah. Dan pada saat itu pula Rasulullah sedang tidak memiliki apa-apa. Bahkan hanya sekadar makanan dan minuman sederhana pun tidak ada. Pada saat yang sama datanglah seorang laki-laki dari kaum Anshar tiba-tiba masuk dan membawa tamu Rasulullah itu ke kediamannya. Kemudian ia menyuguhkan makanan kepada tamunya dan menyuruh keluarganya untuk mematikan lampunya. Sahabat Anshar seolah-olah ikut makan dengan menjulurkan tangannya ke makanan itu. Padahal aslinya ia tidak makan apa-apa. Hanya tamunya saja yang makan.

Pagi harinya, Rasulullah memberikan pujian kepada keluarga sahabat Anshar dengan ungkapan:

لقد عجب الله من صنيعكم الى ضيفكم

“Sungguh Allah kagum atas apa yang telah kalian lakukan terhadap tamu kalian”

Semoga kita bisa memetik hikmah dari kisah ini. Amin

Related Posts