Masuk Gereja itu Haram, Saya Tidak Pernah Masuk Gereja

Ilustrasi: dok. penulis

Sebenarnya pembahasan seperti ini sudah terjadi lama sekali. Penulis adalah orang yang menganut fatwa bahwa memasuki rumah ibadah penganut agama lain hukum dasarnya ialah haram.

Tentu saja tanpa mengurangi rasa hormat kepada yang menghukumi dengan makruh ataupun mubah.

Hanya saja, penjelasan mengenai keharamannya patut untuk dijelaskan dengan lebih rinci lagi.

Memasuki rumah ibadah agama lain, terutama Gereja itu diharamkan. Bukan karena dianggap najis, tempat kotor, atau tempat maksiat. Melainkan justru karena menghormati kesuciannya. Sebagai rumah ibadah orang yang tidak beragama Islam.

Karena itulah kita dilarang masuk. Tidak boleh melarang ibadah mereka, ataupun ikut campur, apalagi ikut serta dalam peribadatan tersebut. Yang disebutkan terakhir ini malah sangat berpotensi menggugurkan keislaman kita. Jadi hendaklah berhati-hati.

Oleh karena itu, penulis selalu menolak untuk masuk Gereja, sekalipun dipersilahkan oleh Pendeta maupun Pastur. Penulis memilih untuk di luar saja. Jadi, kalau mengundang Penulis ke Gereja, siapkan saja kursi di luar. Hehehe.

Namun, apabila acaranya tidak di Gereja, tetapi di halamannya atau di Gedung Serba Guna atau Aula, maka tidak ada masalah. Karena lokasi tersebut ialah fasilitas umum. Bukan tempat ibadah.

Karena itu, keseluruhan acara yang Penulis lakukan dengan sahabat Nasrani, semuanya dilaksanakan di luar Gereja. Baik di halaman, Aula, atau Gedung Serba Gunanya. Adapun jika di ruang tersebut terdapat salib dan simbol kekristenan, tentu itu sepenuhnya hak dari pemilik ruangan tersebut.

Tidak mungkin di aula tersebut dipajang foto Penulis, kan? Sebagaimana juga tidak mungkin Penulis memajang foto Sri paus ataupun Salib di rumah. Jadi ya woles saja.

Namun, ada saat-saat tertentu, dimana kita harus benar-benar masuk ke Gereja. Misalnya, ketika ada Gereja mendapatkan ancaman dan atau gangguan keamanan, maka kita wajib untuk ikut menjaganya.

Ketika Gereja dijadikan sasaran brutal teroris, maka kita justru sangat dianjurkan untuk hadir di tengah-tengan saudara sebangsa yang sedang menjadi korban. Kita berpartisipasi ikut membersihkan tempat suci bagi pemeluknya ini, dan ikut bergandengan tangan di dalam Gereja bersama mereka. Memberi rasa nyaman dan semangat, bahwa mereka tidak sendiri. Kita adalah keluarga besar Bangsa Indonesia.

Demikian pula apabila kita berada di suatu wilayah yang tidak ada Masjid atau tempat sholat. Adanya hanya Gereja saja. Maka kita bisa memakainya. Sebab, sebagai tempat yang disucikan, pastinya kebersihannya sangat terjaga. Kita bisa minta ijin kepada penjaga untuk menunaikan sholat di dalam Gereja tersebut.

Namun, apabila dalam kondisi aman terkendali, tidaklah perlu membuat acara atas nama toleransi di dalam rumah ibadah orang lain. Seandainya dimintai untuk menjaga atau berpartisipasi dalam acara Gereja, maka cukup dijaga di bagian luar saja. Kecuali dalam kondisi darurat yang mengkhawatirkan bisa masuk dan ikut mengamankan di dalam.

Penulis pernah ditanya orang Gereja: Mengapa Anda tidak mau masuk Gereja? Jawabku: karena saya tidak akan membawa Anda masuk ke Masjid kami. Dan akan meminta Anda keluar dari Masjid kalau masuknya tidak untuk bersyahadat.

“Loh, bukankah Guru Anda, Gus Dur juga masuk Gereja?”, sergahnya. Jawab Penulis, “Iya, karena Mbah Wali Gus Dur Bapaknya orang se-Indonesia. Lha saya, Mbokmu saja bukan, hahaha… jadi jangan disamakan”.

“Tapi ada pendakwah Islam yang masuk Gereja itu bagaimana?”. Jawabku, “Ya gak gimana-gimana. Beliau-beliau masuk Gereja sebagai kehormatan dan berkesempatan memperdengarkan ayat Al Quran. Juga memperkenalkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin kepada Anda semua. Lha kalau saya ini siapa dan sebagai apa mau cluthak masuk Gereja?”

“Lha terus kalau ada Banser jaga Gereja?”. Jawab Penulis: ” Banser jaga Gereja itu haram hukumnya. Baru boleh ikut jaga kalau Anda minta untuk menjaga Gereja. Apalagi dalam kondisi kekhawatiran akan gangguan keamanan seperti yang akhir-akhir ini terjadi. Maka bagi Banser urusannya bukan sekedar jaga Gereja. Bagi Banser keamanan setiap jengkal bumi pertiwi Indonesia wajib dijaga. Sebab di dada setiap Banser telah tertanam: Hubbul wathon minal iman. Cinta tanah air itu sebagian dari iman.

“Tapi kan ada yang mengharamkan?” Penulis jawab lagi: ya biarkan saja. Wong rata-rata mereka yo gak ngerti ceritanya. Kan bagus malahan, biar yang sini juga gak kebablasan, hehehe” . “Owh iya ya…” jawabnya.

Penulis juga hingga saat ini belum pernah memasuki Candi Borobudur karena masih aktif digunakan sebagai tempat beribadat Umat Buddha.

Hanya pernah masuk ke beberapa Candi Hindu atau Buddha yang difungsikan sebagai makam atau yang tidak dijadikan tempat ibadah lagi.

Salam cinta Indonesia..

Mereka yang bukan saudaramu dalam keimanan, adalah saudaramu dalam kemanusiaan (Sayyidina Ali Bin Ali Thalib KRW)

NB:

1. Tulisan ini mohon dipahami sebagai khazanah pengayaaan pengetahuan saja. Bukan bagian dari rujukan yang muktabar.

2. Karena banyaknya pertanyaan dan sanggahan, bahkan ada juga yang sependapat tapi bentuknya bantahan, maka saya menyampaikan, bahwa tulisan di atas adalah murni pendapat sesuai keyakinan dan pengetahuan Penulis saja. Berbeda pendapat dipersilahkan.

Related Posts