Site icon Atorcator

Menghina Islam

Ilustrasi: Bincang Syariah

Tuduhan menghina Islam kerap kali ditujukan kepada orang-orang yang kritis terhadap pandangan-pandangan keagamaan sebagian umat Islam, bukan terhadap ajaran pokok yang berasal dari rahim agama Islam itu sendiri. Lebih dangkal dari itu, orang yang mengkritik kebiasaan umat Islam saja—yang belum tentu dianjurkan oleh Islam—kadang dituduh telah menghina Islam.

Padahal kebiasaan itu satu hal, doktrin dan ajaran itu hal yang lain lagi. Yang penting untu kita sadari, sebagian pandangan umat Muslim sendiri kadang tidak sepenuhnya mencerminkan ajaran Islam yang sejati. Karena itu, kalau mengkritik, tidak bisa orang itu dikatakan menghina Islam, kecuali kalau memang kita mau menjadi umat yang baper dan tak mau berpikir secara rasional.

Sarung itu bukan bagian dari ajaran Islam. Yang menjadi bagian dari ajaran Islam adalah salat, yang dalam tradisi umat Muslim Indonesia biasa menggunakan sarung. Tidak mungkin orang yang mengkritik penggunaan sarung, misalnya, dikatakan menghina, ataupun merendahkan ajaran Islam. Karena sarung hanyalah sebatas pakaian mubah. Yang bisa dikenakan, bisa dilepas.

Orang Islam di suatu kampung, misalnya, terbiasa mengenakan jubah. Ada nggak sih perintah atau anjuran berjubah dalam Al-Quran dan hadits, sehingga dia menjadi wajib, atau menjadi sunnah, menurut pandangan Islam? Setahu saya tidak ada. Dan lagi-lagi itu hanya sebatas pakaian mubah. Kalau kita mengkritik penggunaan jubah, jelas, itu bukan mengkritik apalagi menghina Islam.

Terus mengkritik apa? Mengkritik pakaian yang biasa dikenakan oleh sebagian umat Islam. Mengkritik kebiasaan, bukan mengkritik ajaran yang pasti berasal dari Tuhan. Bagaimana kalau ada orang yang menghina tradisi pemakaian jubah itu? Apakah itu bisa dipersis-samakan dengan menghina Islam? Menurut orang baper, iya. Tapi dengan nalar yang jernih, kita bisa dengan mudah untuk berkata tidak. Tapi penghinaannya itu sendiri boleh nggak? Di mana-mana, yang namanya penghinaan pasti tidak boleh. Kurang elok, dan kurang pantas dilakukan.

Tetapi, sejuah apa yang dia hina itu bukan bagian dari ajaran Islam, seperti keimanan kepada Allah, para nabi, hari akhir, kandungan Al-Quran, sabda Nabi, ajaran salat, puasa, dan lain-lain, tetapi hinaan itu ditujukan pada kebiasaan sebagian umat Islam, dengan bijak harus kita katakan bahwa itu tidak termasuk penghinaan atas ajaran Islam. Meskipun penghinaan itu tidak layak untuk dilakukan.

Bagaimaan dengan cadar? Akhi ukhti juga kiranya penting untuk memahami. Cadar bukan bagian dari ajaran Islam, tidak dianjurkan, tidak pula diwajibkan, karena dirinya sendiri. Tidak ada perintah yang pasti dari Al-Quran, juga tidak ada perintah yang pasti dari sabda Nabi SAW. Cadar itu hanya sebatas pakaian mudah—sekali lagi mubah—yang biasa digunakan, oleh sebagian kaum Muslimah. Bagaimana kalau ada orang mengkritik penggunaan cadar? Apakah itu termasuk mengkritik Islam? Tidak. Apakah itu bisa dikatakan menghina ajaran Islam? Itu penilaian yang sangat berlebihan.

Bagaimana kalau ada orang yang menghina? Menghinanya tidak boleh, karena alasan etis, bukan karena alasan teologis. Tapi penghinaannya tidak bisa kita persis samakan dengan penghinaan terhadap ajaran Islam, yang di antaranya kita sebutkan tadi. Karena lagi-lagi, cadar itu hanya sebatas kebiasaan, yang boleh dilakukan, boleh ditinggalkan.

Mengkritik cadar, ataupun menghina cadar, itu hanya sebatas mengkritik dan menghina pakaian mubah yang dijadikan kebiasaan, bukan menghina tuntunan yang sudah pasti berasal dari Tuhan. Saya kira penjelasan semacam ini penting. Ini bukan hanya mengakut soal cadar. Tapi ini terkait dengan pandangan sebagian umat Islam yang kadang tidak bisa membedakan antara kritik yang tertuju pada kebiasaan, yang bukan bagian dari perintah, ataupun anjuran, dengan mengkritik ajaran Islam itu sendiri. Apalagi kalau hanya sebatas mengkritik model pakaian.

Dikit-dikit bilangnya menghina syariat Islam, merendahkan umat Islam, menghina ini, menghina itu, dan lain-lain. Bukankah kita kerap menyaksikan orang-orang yang bernalar baper seperti itu? Kita tidak ingin membudi-dayakan tradisi saling menghina. Tapi, pada saat yang bersamaan, kita perlu mengoreksi cara pandangan keagamaan yang kadang berlebihan dalam menentukan apakah suatu pandangan itu menghina atau tidak.

Mirisnya, sebagian kalangan bahkan kadang tidak bisa membedakan antara mengkritik dengan menghina itu sendiri. Oleh sebagian orang, mengkritik dipersis-samakan dengan menghina. Jelas, itu dua hal yang berbeda. Ketika argumen tak mampu lagi mengemuka, untuk menyetop pembicaraan orang, kadang dengan mudahnya kita menuduh orang lain telah menghina. Islam memiliki bangunan ajaran yang jelas, dan simbol-simbol keagamaan yang dikenal oleh hampir semua orang.

Kebiasaan orang Islam tidak selamanya bisa tergolong ke dalam ajaran Islam itu sendiri. Mengkritik dan menghina kebiasaan itu satu hal, mengkritik dan menghina ajaran dan tuntunan, yang termaktub dalam sumber ajaran, itu hal yang lain lagi. Cerdaslah dalam beragama. Niscaya kita bisa menyingsingkan perdebatan-perdebatan yang tidak penting dalam hidup kita.