Menjadi Guru adalah Investasi Akhirat

Ilustrasi: Kemenag

Selepas mengisi pengajian di salah satu masjid, saya diajak oleh salah seorang jemaah untuk pulang bersama, dengan menumpangi kendaraannya. Di tengah perjalanan, seorang bapak-bapak berusia 50 tahun-an itu bercerita tentang kehidupan salah satu buah hatinya yang sedang merantau. “Saya punya anak perempuan pak ustadz,” demikian ia membuka pembicaraan, yang sekarang ada di Solo.

Anak saya hanya berprofesi sebagai guru honorer. Gajinya hanya 300-an ribu dalam sebulan. Tapi saya sangat mensyukuri itu. Karena saya tahu bahwa dengan pekerjaan itu anak saya bisa memberikan manfaat bagi masyarakat luas.”

Sebagai santri yang dididik dengan ajaran tentang mahalnya ilmu pengetahuan, tak ada pilihan bagi saya kecuali mengiyakan pandangan si bapak itu. “Sebelumnya”, lanjut si bapak bercerita, “anak saya pernah bekerja di pabrik, dengan penghasilan sekitar 3 juta-an.

Tapi saya lebih bahagia dengan profesinya yang sekarang. Karena dia bisa memberikan ilmunya kepada orang-orang.” Menyimak keteguhan hatinya, saya menimpal, “bapak benar. Anak bapak adalah “investasi” bapak di akhirat kelak. Ilmu yang diajarkan oleh anak bapak akan menjadi amal jariyah, yang dapat membahagiakan kedua orang tuanya.”

Setiap kali ada wali santri yang datang ke rumah, dari obrolan mereka selalu tampak sebuah harapan, agar kelak anaknya bisa menjadi orang baik. Bukan hanya jadi orang pintar, apalagi jadi orang tenar. Mau berprofesi sebagai apapun, yang penting jadi orang baik.

Saya rasa ini adalah impian kebanyakan orang tua, yang mampu menghayati pesan-pesan agamanya. Punya anak itu yang penting jadi orang baik, dan bisa bermanfaat. Sudah. Diberi kepintaran, Alhamdulillah. Dikaruniai kekayaan, Alhamdulillah. Tapi kalau tidak juga tidak apa-apa. Yang penting jadi orang baik, jadi orang bermanfaat. Apapun profesinya.

Adakah orang tua yang berharap anaknya jadi orang terkenal, berlimpah harta, dan punya kedudukan tinggi di tengah-tengah masyarakatnya? Jelas ada. Tapi, orang beragama selalu punya kesadaran tinggi, bahwa semua yang kita miliki kelak pasti akan ditinggal mati. Setelah mati, apa yang Anda harapkan dari anak Anda? Doa, dan amal saleh yang dia persembahkan untuk kedua orang tuanya.

Dan, sang anak tidak akan punya kesadaran semacam itu jika dia tidak punya pendidikan agama yang kuat. Hanya agama yang mengajarkan bahwa bakti kepada orang tua itu tidak hanya wajib semasa merasa hidup, tapi juga berlanjut sampai mereka mati. Dan di sinilah pentingnya ilmu.

Kisah bapak-bapak tadi dapat kiranya dapat meneguhkan keyakinan, bahwa ilmu jauh lebih berharga ketimbang harta. Kalau Anda disuruh memilih antara ilmu dengan harta, pilihlah yang pertama, dan kesampingkan yang kedua. Syukur-syukur kalau dapat dua-duanya.

Ketika anak Anda sudah mendapatkan ilmu, dan menjalani profesi sebagai guru, mestinya kita tidak perlu risau dengan penghasilan, selama penghasilan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan. Karena dia sudah mendapatkan sesuatu yang benar-benar berharga dalam pandangan agama. Profesi guru tak menjanjikan keberlimpahan harta. Tapi peranan guru tak bisa dikesampingkan dalam membangun moralitas bangsa.

Andai kata semua orang tahu betapa besarnya pahala mengajarkan kebaikan, niscaya mereka semua akan bercita-cita untuk menjadi seorang pengajar. Tuhan, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, akan mengangkat derajat orang-orang beriman, dan orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan (Q. 58: 11).

Kalau yang dikaruniai pengetahuan saja diberikan kemuliaan, lantas bagaimana dengan orang-orang kerjaannya menyebarluaskan ilmu pengetahuan, dan menyampaikan pesan-pesan kebaikan? Jangan hanya melihat apa yang kita dapat, tapi lihatlah sejauh mana kita mampu memberikan manfaat, melalui apa yang kita dapat.

Related Posts