Menyalahkan Diri Sendiri

Ilustrasi: Pixabay

Apa yang akan Anda lakukan ketika Anda menjumpai anak Anda, atau murid Anda, atau siapa saja yang menjadi “bawahan” Anda, melakukan sebuah kesalahan? Tampaknya, sebagian besar orang akan mengekspresikan—atau paling tidak memendam—kekesalan, marah, muak, dan kalau perlu menjatuhkan hukuman pada yang bersangkutan. Di satu sisi kita perlu memandang ini sebagai sebuah sikap yang manusiawi.

Apalagi jika menyangkut kesalahan yang besar. Ketika kita memberlakukan satu aturan, kemudian aturan itu dilanggar, umumnya kita akan marah dan kesal. Tentunya dengan kadar kemarahan dan kekesalan yang beragam. Saya bukanlah pengecualian dari kebanyakan orang itu. Kalau ada santri yang melanggar, dan pelanggarannya itu terbilang berat, beberapa kali saya sempat terpancing emosi. Hal yang sama juga kiranya terjadi pada orang tua yang memiliki anak.

Apakah perasaan semacam itu nyaman? Terus terang tidak. Dan, tampaknya, sebagian besar orang, kalau enggan berkata semua, akan mengemukakan jawaban yang sama. Bahwa marah, kesal, jengkel, muak, geram dan sejenisnya itu bukan perasaan yang dapat membuat kita nyaman. Tapi mau gimana lagi. Perasaan itu muncul secara reaktif. Padahal kita sendiri tidak mau menyimpan perasaan semacam itu.

Lantas, adakah cara untuk meredam, mengurangi atau bahkan melenyapkan perasaan semacam itu? Kita ajukan pertanyaan yang lebih jelas, bagaimana caranya agar kita tidak terlampau jengkel dan kesal ketika ada orang yang tidak taat terhadap aturan yang kita tentukan, atau keinginan yang telah kita sampaikan? Bagaimana caranya agar kita tidak terpancing marah ketika ada orang yang jelas-jelas berbuat salah? Saya baru menemukan jawaban atas pertanyaan itu beberapa hari belakangan ini. Caranya, menurut saya, ialah dengan belajar menyalahkan diri sendiri. Inilah yang sekarang sedang saya pelajari.

Kalau ada santri, atau siapa saja, berbuat salah, saya mulai belajar untuk menyalahkan diri sendiri. Oh barangkali ini gara-gara saya yang kurang tekun beribadah. Barangkali ini kesalahan saya yang selama ini belum bisa menjadi teladan. Mungkin ini kesalahan saya yang mendidik para santri dengan cara yang keliru. Mungkin ini buah dari dosa-dosa saya. Tidak mustahil juga kalau ini adalah cobaan hidup untuk saya, yang perlu saya lewati dengan kesabaran dan lapang dada. Ini adalah buah dari kekurangan saya. Dan ungkapan-ungkapan sejenisnya.

Coba sesekali Anda bisikan ucapan-ucapan semacam itu ke dalam hati Anda. Ketika anak Anda berbuat salah, jangan hanya menyalahkan anak, tapi belajarlah untuk menyalahkan diri Anda sendiri. Karena kesalahan sang anak kadang kala terlahir sebagai buah dari kesalahan orang tua. Entah itu kesalahan dalam cara mendidik, menegur, memberikan keteladanan, dan lain semacamnya.

Boleh jadi Allah menampilkan orang-orang yang membuat kita kesal itu, untuk menunjukkan diri kita yang sesungguhnya, yang masih belum mampu bersabar akan ketentuan-Nya. Padahal, sebagai hamba, mestinya kita belajar untuk menerima. Dengan cara pandang semacam itu, kita akan terdorong untuk terus memperbaiki diri. Dan pada saat yang bersamaan, kita tidak akan banyak dipusingkan oleh kesalahan orang lain. Karena kita sudah memberikan ruang yang lebar untuk kesalahan diri kita.

Menyalahkan orang lain itu memang mudah. Tampaknya semua orang bisa melakukan hal itu. Tapi belajar untuk menyalahkan diri sendiri merupakan pilihan sikap yang cukup terbilang sulit. Terlebih bagi mereka-mereka yang berhati keras dan bermental egois. Namun, sejauh yang saya coba, cara semacam ini cukup efektif dalam meredam kepusingan.

Kalau murid, anak, pasangan, karyawan, atau siapa saja yang berada di bawah ‘kendali’ kita berbuat salah, ya sudah, luruskan, berikan dia nasihat, wejangan, dan hal-hal yang kiranya penting untuk dia dengar. Marah dikit boleh. Tapi buat apa banyak-banyak? Sayang energi kita. Setelah itu? Ya terserah dia.

Dia jadi orang baik, dan mengoreksi kesalahannya, Alhamdulillah. Tidak mau berubah, itu bukan urusan kita. Yang penting kita sudah menunaikan tugas. Dan kesalahan dia pun boleh jadi adalah buah dari kesalahan kita.

Saya mulai merasakan kenyamanan dengan cara pandang semacam ini. Sebelum kita menyalahkan orang lain, ada baiknya jika kita belajar memberi ruang kesalahan untuk diri kita sendiri. Dengan cara begitu, maka kita akan terhindar dari sikap berlebih-lebihan, sebagaimana kita tidak akan banyak dipusingkan oleh kesalahan orang. Demikian. Selamat mencoba.

Related Posts