Nyamankah Makan dengan Bercadar? Begini Jawaban Ukhti-ukhti Cadar

Ilustrasi: Tribun Jambi

Dengan nada berseloroh, isteri saya bertanya, “kalau aku pake cadar gimana?”. Sontak, dengan tegas saya menjawab tidak. Ditanya, “kenapa?” “Ya tidak mau. Buat apa? Dianjurkan juga nggak.” Jawab saya. Pertanyaan ini mengingatkan saya pada satu fenomena menarik—kalau enggan berkata lucu—terkait fenomena mahasiswi asing di Al-Azhar, yang saya lihat beberapa tahun yang lalu. Entah fenomena ini masing berlangsung atau tidak. Karena sudah hampir dua tahun saya meninggalkan Mesir.

Beberapa kali saya makan di warung makan orang Indonesia (kita biasa menyebutnya dengan istilah math’am), dan melihat sejumlah mahasiswi bercadar di sana. Bagaimana cara mereka makan? Dalam bayangan kita, kalaupun cadar itu dijadikan identitas kesalehan, minimal kalau waktu makan cadar itu dibuka. Lagipula, di hadapan mereka hanya ada wanita-wanita. Para pengunjung laki-laki duduk dengan jarak yang lumayan jauh.

Dalam bayangan kita idealnya seperti itu. Tapi ternyata tidak. Cadar itu tidak mereka lepas, hatta dalam keadaan makan sekalipun! Lalu bagaimana cara mereka memasukan nasi ke dalam mulut? Tangan kanan mengayunkan sendok dari bawah, tangan kiri membuka sedikit celah untuk mempersilakan sendok masuk, dan makanan pun terkunyah, dalam keadaan wajah dan mulut tertutup. Saya suka bertanya-tanya, “emangnya enak makan kaya begitu, ukhti?”

Kebetulan, dalam sebuah perkumpulan, saya pernah mengajukan langsung pertanyaan ini kepada salah seorang mahasiswi, yang kebetulan adik kelas saya. “Eh, ngomong-ngomong, kenapa sih itu cadar nggak dilepas aja? Emang nyaman makan sambil pake cadar begitu?” Tak mau menyebutkan alasan, akhirnya dia cuma bilang. “Nggak apa-apa ustadz”. Di lain waktu saya pernah mengajukan pertanyaan berbeda, kepada salah seorang ukhti bercadar.

“Eh, menurut kamu, memakai cadar itu hukumnya apa? Sambil menampilkan senyuman manis, dia jawab, “sunnah”. Tahu bahwa ulama-ulama Al-Azhar tidak pernah mengarjakan pandangan itu, dan bercadar sering mereka sebut sebagai sesuatu yang mubah (boleh), saya pun memberi tahu mahasiswi tadi, bahwa pandangan yang bersangkutan kiranya perlu ditinjau ulang. Al-Azhar pernah menerbitkan buku dengan judul “An-Niqab ‘adah walaisa ibadah” (cadar itu kebiasaan, bukan ibadah).

Dan kontributor buku-buku itu bukan ulama kaleng-kaleng. Ada Syekh Ali Jum’ah, mantan mufti Mesir, Syekh Muhammad Sayyid Thanthawi, mantan Grand Syekh Al-Azhar, Syekh Muhammad Al-Ghazali, dai sekaligus penulis prolifik yang karya-karyanya dibaca secara luas di dunia Arab. Juga dosen saya di sekolah pascasarjana, Almarhum Prof. Mahmud Hamdi Zaqzuq. Dari mimik wajahnya, setelah saya beri informasi tentang buku itu, tampak dia agak kebingungan untuk memberikan jawaban.

Mungkin, dalam bayangan saya, ukhti-ukhti yang memilih makan dengan mengenakan cadar tadi itu mengira, bahwa dia sedang melakukan perbuatan sunnah, alias dianjurkan oleh agama. Jadi, sekalipun bikin ribet, selama yang ditunaikan adalah anjuran (dalam keyakinannya), dia pun rela makan dengan cara yang agak menyusahkan. Nggak apa-apalah yang penting dapat pahala. Mungkin bayangan dia begitu.

Yang menarik, ada salah seorang mahasiswi yang menjawab dengan jujur. “Kamu kenapa pake cadar?” Kata saya. “Enak nggak sih?” Dia jawab, “ustadz bayangin aja kalau pakai kain terus dijadikan penutup mulut dan muka. Gimana rasanya?” Saya jawab, “ya kalau saya sih jelas nggak enak. Pengap rasanya.” Seolah tak mau ribet dengan pertanyaan saya, dia jawab, “ya begitulah”. Ungkapan “ya begitulah” ini mengindikasikan bahwa dia sendiri tidak nyaman dengan pakain itu. Lah terus ngapain dipake?

Agama mengajurkan tidak, bikin ribet iya, terus buat apa? Ya kecuali kalau kondisinya zaman wabah seperti sekarang. Itu lain cerita. Saya tidak mempersoalkan orang yang mengenakan cadar, dan dia merasa nyaman dengan pakaian itu, selama dia tetap memandang cadar sebagai sebuah kebolehan, bukan kesunnahan. Yang kita sayangkan, meskipun ini menyangkut hak setiap orang, ialah orang-orang yang tampak “memaksakan diri” itu tadi. Kenapa Anda harus mempersulit diri Anda, dengan sesuatu yang tidak dianjurkan oleh agama?

Patut kita persoalkan kalau ada orang mengenakan cadar, dan dia merasa bahwa dirinya telah menunaikan kawajiban, sementara wanita-wanita lain dia pandang belum mencapai tingkat kesalehan seperti dirinya. Alih-alih membuahkan pahala, pemakaian barang seperti itu malah bisa menimbulkan dosa. Dosa apa? Dosa hati. Ketika Anda merasa lebih taat dan lebih saleh dari yang lain, hanya karena soal pakaian.

Jadi hukum memakai cadar itu bagaimana? Boleh. Kalau kata Grand Syekh al-Azhar, Syekh Ahmad At-Thayyib, pertanyaan bagaimana hukumnya memakai cadar itu ya sama dengan pertanyaanya bagaimana hukum menggunakan cincin? Pake cincin boleh nggak? Ya boleh. Kalau nggak nyaman? Ya lepas aja. Ngapain mempersulit diri dengan sesuatu yang boleh dipakai boleh nggak? “Tapi saya kan merasa nyaman.” Ya sudah, pakai saja. Tapi jangan memandang itu sebagai kesunnahan agama. Apalagi memandang rendah wanita-wanita lain yang tidak mengenakannya.

Bahkan, yang menarik, ada saat-saat, seperti kata Syekh Yusri, di mana cadar wajib dibuka. Sekali lagi wajib dibuka. Contohnya ketika Anda terlibat dalam suatu transaksi penting. Atau kegiatan yang mengharuskan adanya keterbukaan. Bahkan, seingat saya, ada saat di mana cadar makruh dikenakan. Yaitu ketika Anda hidup di suatu lingkungan masyarakat, yang tidak terbiasa dengan pakaian itu. Karena ketika itu pakaian Anda akan menjadi libas As-Syuhrah.

Kalau saja cadar itu wajib, niscaya pandangan semacam ini tidak akan mengemuka dalam khazanah keislaman kita. Suatu kali saya melihat buku dengan judul “An-Niqab ‘Aqidah wa Faridhah” (cadar itu adalah akidah dan kewajiban). Dan besar kemungkinan penulis buku itu sudah teracuni doktrin wahabi. Sementara Al-Azhar, yang dikenal sebagai benteng moderasi Islam, menyebut cadar sebagai kebiasaan, bukan bagian dari peribadatan. Dua cara pandang yang jauh berbeda sekali. Terserah kita mau milih yang mana.

Yang jelas, panduan kita dalam berislam adalah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW itu, sebagaimana terekam dalam sebuah hadits, kalau dihadapkan dengan dua pilihan, yang satu sulit, dan yang satu mudah, beliau akan memilih yang lebih mudah di antara keduanya. Selama bukan dosa. Ini sunah Nabi. Sekarang tanya pada diri Anda, cadar itu menyulitkan atau membuat Anda nyaman? Kalau menyulitkan, lepaskan. Dan jadilah Anda wanita Muslimah yang menutup aurat seperti wanita-wanita yang lain. Islam itu mudah. Yang suka mempersulit adalah umatnya sendiri.

Related Posts