Punya Guru Banyak: Tarawih Kalem Bisa Tarawih Kilatpun Oke

Ilustrasi: Tirto.id

Dalam pembacaan surat di salat, yang lebih utama, satu surat komplit walau pendek dibanding beberapa penggal ayat tapi tak utuh surat. Banyak pelajar agama yang tahu.

Bacaan yang wajib dalam salat, (selain ucapan takbir dan salam pertama) hanya dua: Fatihah dan Tahiyyat memasukkan salawat di dalamnya. Sedangkan pemisah gerakan antar rukun, cukup dengan tumakninah; sekira bacaan subhanallah. Inipun juga banyak pelajar agama yang tahu.

Tarawih cepat, banyak ulama fiqh yang menentang, misal dalam kitab Ismidil ain dan lainnya. Itu ndak baik, wong menghadap Gusti Allah kok kesusu! Tapi selama sarat rukun terpenuhi, ndak ada yang mengatakan batal. Inipun juga banyak yang sudah tahu. Lawong ndak salat tarawihpun nggak dosa je, kan sunah

Pun pula, jika di compare antara yang salat trawih cepat dengan yang tidak salat tarawih sebab mager, ya jelas menang yang melakukan tarawih. Inipun buanyak yang tahu.

Banyak guru, banyak ilmu. Ini juga banyak yang tahu, cuma kadang males aja mencarinya

Nah!

Kisaran tahun 95/96. Saya pernah mondok posoan di salah satu pesantren.

Setelah salat isya, dan menapaki salat tarawih. Sebagai santri baru, seperti halnya tarawih gaya pondok saya nyantri yang santai, sayapun juga damai, nunggu bacaan fatihah imam usai, lalu baru membaca fatihah untuk diri sendiri.

Namun, saya kaget bukan kepalang. Setelah imam baca fatihah, surat yang di baca super pendek, yakni: “Bismillahirrahmanirrahim … Yaasin! Allahu akbar!” Ruku’!

“Gusti Allah!” batin saya kedandapan. Secepat kilat langsung baca fatihah sendiri. Dan untung teringat qaul kalau imam ngepot, bacaan fatihah makmum dia yang nanggung. Aman

Rakaat kedua agak nyantai, setelah fatihah baca qulhu.

Setelah salam, lanjut ke tarawih selanjutnya. Dan saya siap-siap. Betul! Pada rekaat pertama setelah fatihah bacanya: “Bismillahirrahmanirrahiimm Haamim! Allahu akbar!” Ruku’!

“Aha! Sudah kuduga!” batin saya.

Taraweh setelahnya, direkaat pertama, setelah fatihah Imam membaca fawatihussuwar lain, dan rekaat kedua fatihah disambung qulhu.

Di empat salam terakhir. Di rekaat pertama, setelah fatihah, imam membaca:

سَلَامٌ قَوْلًا مِّن رَّبٍّ رَّحِيمٍ (يس58)

سَلَامٌ عَلَىٰ نُوحٍ فِي الْعَالَمِينَ (الصافات79)

سَلَامٌ عَلَىٰ إِلْ يَاسِينَ (الصافات130)

سَلَامٌ عَلَىٰ مُوسَىٰ وَهَارُونَ (الصافات120)

Lalu, doa dan witir seperti biasa lagi; dengan surat-surat komplit.

Jadi, kalau bahas masalah afdhaliyyah atau keutamaan, jelas utama yang salatnya kalem, meresapi, kalau bisa satu juz seperti di Masjidil Maram. Tapi, kalau dibandingkan dengan yang tidak tarawih, ya lebih baik tarawih lah.

Walhasil, enak punya guru banyak. Kalem bisa, ngepotpun oke.

Mugi bagaimanapun juga. Baik yang solat kalem-khusu’, ngepot, tak salat karena berbagai alasan, dan lainnya. Setelah usai Ramadan. Kita bisa menjadi manusia yang lebih baik; lebih berkah, lebih menyayangi-menghormati sesama, dan lebih mendapat ridhaNya. Amin.

Related Posts