Ramah tak Mesti Berakhlak

Ilustrasi: Tebuireng Online

Tadi siang saya menjadi tamu teman lawas, Asmawi di dusunnya. Usai nyereput kopi pahit suguhannya, di mengajak saya melihat-lihat hewan-hewan yang mondok di bagian belakang rumahnya dan setelah mendengarkan penjelasannya tentang proses pemanfaatan rumput gajah, terong dan lainnya sebagai pakan bagi sapi, domba dan ayam juga pemanfaatan limbah kotoran hewan-hewan itu untuk pupuk. “Ini proyek mutualisme perkebunan dan peternakan,” ujarnya.

Saya terharu karena dia menjelskan aktivitas hariannya secara detail dan telaten kepada saya seperti seorang menteri di hadapan presiden yang sedang meninjau. Saya manggut-manggut bukan lantaran paham tapi demi memenuhi tuntutan etika kesopanan sambil berharap Tuhan memaafkan kepura-puraan saya juga menganugerahkan pahala kepada saya karena berusaha menyenangkannya.

Belum habis rasa kagum saya, tiba-tiba Asmawi melontarkan pertanyaan yang terkesan tak relevan dengan tema peternakan dan perkebunan. ‘Apakah adab berbeda dengan akhlaq?

Saya sempat diam beberapa detik karena harus cepat pindah slot nalar demi proses adaptasi dalam waktu sesingkat-singkatnya sebelum menjawab.

“Tentu akhlaq berbeda dengan adab meski ada irisan yang mempertemukan keduanya ,” sahut saya. Selanjutnya kuliah spontan pun terselenggara antar kita.

Terma akhlaq bisa berkonotasi baik disebut akhlaq karimah dan bisa berkonotasi buruk, disebut akhlaq zamimah. Tanpa disertai kata ejektif, ia selalu berkonotasi positif. Karenanya, kadang orang yang tak sopan disebut tak berakhlak atau tak punya akhlaq. Sedangkan terma adab selalu berkonotasi positif semata. Adab dalam konteks ini berbeda makna dalam bahasa Indonesia dengan peradaban.

Akhlaq didefinisikan sebagai sistem nilai yang menetapkan kebaikan dan bersumber dari fitrah atau akal sehat. Akhlaq juga didefinisikan sebagai aturan abstrak perilaku setiap individu yang berlaku universal. Dengan kata lain, ia hukum esoterik atas perilaku batin, bersifat abstrak alias konkret, lintas ruang dan waktu. Dalam khazanah Islam, akhlaq yang juga disebut thariqah oleh sebagian dianggap sebagai aturan atas perbuatan jiwa berdampingan dengan syariah sebagai aturan atas perbuatan raga.

Adab yang juga disebut etika adalah sebutan bagi tata krama sistem interaksi sosial yang terlihat secara visual dalam gerak fisik tertentu demi menciptakan dan melestarikan ketenteraman dan kedamaian seperti menundukkan kepala atau mencium tangan sebagai adab penghormatan kepada orang tua.

“Apakah adab selalu sesuai dengan akhlaq?” tanya petani yang merangkap ketua RT, kyai muda, peminat logika agama sekaligus relawan Jausan ini.

“Tak selalu.”

“Bagaimana penjelasannya?”

Adab adalah aturan pergaulan yang dipandang selaras dengan kesepakatan yang menjadi semacam tradisi dan budaya sebuah komunitas di tempat dan waktu tertentu. Budaya dan tradisi setiap masyarakat tak selalu sama.

Misalnya, dalam masyarakat Jawa pada umumnya, bila seseorag hendak berjalan di tengah kerumunan khalayak yang sedang duduk bersila, maka tata krama mengharuskannya menurunkan lengan kanan sebagai simbol memohon izin diberi celah jalan untuk melintas. Bila tak melakukannya, dia dianggap tak mengikuti tata krama atau melanggar tradisi dan dicap tak punya adab.

Itu tak berlaku di daerah lain, misalnya di Eropa dan Timur Tengah. Bila seseorang menurunkan lengan kanannya saat melintasi kerumunan orang yang sedang duduk, mungkin dia dikira cedera lengan. Contoh lain adalah memegang kepala. Di Jawa memegang kepala dianggap perilaku sangat tidak sopan yang bisa menyulut perkelahian. Sedangkan di Eropa dan Timur Tengah memegang kepala dianggap sebagai ekspesi keakraban.

Sebagian aturan pergaulan sesuai dengan akhlaq bila didasarkan pada kesadaran tentang pentingnya kebersihan jiwa sebagai kesempurnaan berupa kerendahan hati, ketulusan dan kejujuran.

Adab yang merupakan norma perilaku lahir dalam interaksi sosial berlaku pada tempat dan masa tertentu mestinya menjadi etalase akhlaq.

“Mungkinkah orang mematuhi adab tak berakhlak?”

“Mungkin.”

“Mohon penjelasan tentang hal ini.”

Sangat mungkin seseorang bersikap sopan kepada otang lain di lingkungannya demi menjaga dan meraih keuntungan bersama berupa kedamaian, keamaman dan lainnya tanpa dibarengi kesadaran rasional tentang keharusan membersihkan jiwa dan hati dari rasa sombong, dengki dan kotoran batin lainnya. Dia yang menurut etika ramah di parasnya dan sumringah di bibirnya tapi pongah dalam hatinya. Dia beretika namun tak berakhlak.

Di sisi lain, bisa saja seseorang, yang berakhlaq baik, hatinya bebas dari sombong, dengki dan lainnya, berperilaku tak sesuai norma etika yang berlaku di sebuah daerah karena tak mengetahuinya atau mengira punya tradisi sama dengan tradisi di daerahnya. Peristiwa ini kerap terjadi.

Tentu, yang terbaik adalah menyelaraska adab dan akhlaq.

“Sekarang saya mau tanya tentang hubungan adab dan syariah.”

“Lain waktu kita bahas tema ini,” sahut saya sambil menjulurkan kaki di karpet super sederhana itu.

Bincang-bincang ringan ini otomatis berakhir dan beganti topik ketika istri Asmawi menyodorkan rujak madura (petis putih).

Related Posts