Teman Kaya

Saya punya teman yang cukup terbilang mapan. Bahkan mungkin sudah terkategori kaya. Menurut ukuran orang di kampung, teman saya itu sudah terbilang sukses dalam karirnya. Dia adalah teman bermain saya sewaktu kecil. Konon, menurut penuturan ibu, waktu kelahiran saya dengan teman saya itu hanya berselang satu minggu. Saya lahir lebih dulu, satu minggu kemudian lahirlah dia dari perut ibunya. Rumah kami saling berdekatan. Dan karena itu, kami, kata ibu, bertetangga dengan sangat baik. Tapi, ketika sudah dewasa, kami berdua ditakdirkan dengan nasib berbeda.

Selesai menuntaskan sekolah dasar, saya nyantri ke Tangerang, dan setelah itu melanjutkan kuliah di di Al-Azhar. Sedangkan teman saya merantau ke kota, dan kuliah di jurusan arsitektur. Menurut penuturan ibunya, kini teman saya itu sudah punya pekerjaan tetap di daerah Yogyakarta. Sebagai arsitek profesional, tentu saja dia punya penghasilan yang jauh lebih tinggi ketimbang saya. Ibu saya bercerita, kalau teman saya itu sudah mampu membelikan orang tuanya kendaraan, rumah, tanah, bahkan berencana untuk mengumrohkan kedua orang tuanya, dari hasil pekerjaannya itu.

Sementara saya? Sebagai orang yang ditakdirkan menjadi guru, tentu jawabannya sudah bisa Anda tebak. Dan saya sendiri sangat menyadari, bahwa apa yang saya geluti sekarang bukanlah jalan untuk meraup banyak kekayaan. Bagaimana respon ibu saya, ketika ia tahu bahwa teman masa kecil saya sudah berpenghasilan sebanyak itu? Biasa saja. Ya kali ibu saya menyindir saya, misalnya, atau berharap agar saya mengikuti jejak teman saya itu. Apakah ibu saya menunjukkan harapan itu?

Dengan keteguhan imannya, ibu saya hanya menjawab, โ€œYa begitulah manusia. Allah mentakdirkan nasib mereka berbeda-beda. Itu sudah jalannya. Kita tidak boleh iri dengan apa yang dicapai oleh orang lain.โ€ Alih-alih berharap jadi orang kaya, ibu saya hanya berharap saya jadi orang yang berilmu dan bermanfaat. Keterbatasan penghasilan sama sekali tidak pernah dia jadikan sebagai persoalan. Yang penting, kata ibu saya, hidup itu berkecukupan; bisa makan, minum, dan kebutuhan pokok tercukupi. Dan yang paling terpenting kita bisa ibadah. Karena itulah tiket utama menuju kesuksesan yang sesungguhnya.

Sesederhana itu cara berpikir kami. Pencapaian materil yang kita petik di dunia ini bukanlah tolak ukur keberhasilan yang sesungguhnya. Agama tidak mengajarkan itu. Keberhasilan sesungguhnya akan ditentukan nanti, bukan sekarang. Yang kita saksikan sekarang hanyalah kepalsuan demi kepalsuan. Dalam banyak tempat, An l-Quran memandang dunia sebagai sesuatu yang rendah dan hina. Tapi, meskipun hina, dialah yang banyak menyita perhatian manusia. Sudah tahu hina, masih saja dikejar-kejar. Padahal agama mengajarkan, bahwa dunia itu hanyalah kendaraan, bukan tujuan.

Berhasil atau tidaknya kita dunia, ya tergantung sejauh mana kita mampu menggunakan kendaraan itu dengan baik. Kalau ada orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan, betapapun dia meraup popularitas, jabatan tinggi, serta berlimpahnya penghasilan, pada hakikatnya dia adalah orang gagal. Karena dia tidak mampu memfungsikan sesuatu sebagaimana mestinya. Orang yang hati dan pikirannya disibukkan dengan dunia, maka pasti dia akan menjadi budaknya. Dan orang yang diperbudak oleh dunia, maka pasti hidupnya tidak akan bahagia. Dan agama pun tidak menjanjikan kebahagiaan kepada orang itu.

Yang akan mereguk kebahagiaan adalah orang yang menjadikan dunia itu sebagai jalan. Kalau Anda mau pergi ke suatu tempat, mana kira-kira yang lebih Anda anggap penting, jalan menuju tempat itu, atau tempat itu sendiri? Jelas, saya lebih mementingkan tempat itu. Jalan yang lebar, mulus dan diwarnai pemandangan indah, tidak akan bermakna apa-apa kalau dia tidak mampu mengantarkan kita pada tujuan kita. Kecuali kalau memang kita berniat jalan-jalan. Dan, tampaknya, di dunia ini banyak manusia yang memaknai kehadirannya sebatas untuk jalan-jalan, bukan sebagai perjalanan untuk sampai pada satu tujuan.

Related Posts