Tiga Ulama Autodidaktor Sejati

 

Di Mesir saya menyimak sejumlah kisah autodidaktor sejati, yang kisah kehidupannya benar-benar membuat saya kagum. Salah satunya, dan yang paling sering saya ceritakan, ialah Abbas Mahmud al-‘Aqqad.

Grand Syekh al-Azhar, Imam Ahmad At-Thayyib, pernah melukiskan Abbas Aqqad sebagai sosok yang mampu membentuk dirinya dengan dirinya sendiri (rajul shana’a nafsahu binafsihi). Dia, kata Grand Syekh, adalah pemangku nalar raksasa (shahib al-Aql al-Jabbar). Dan beliau benar-benar mengakui, sekaligus kagum, akan kedalaman pikiran-pikirannya.

Dan sejak saat itu pula saya tertarik untuk membaca buku-buku Abbas Aqqad. Dikisahkan juga, bahwa Al-Marhum Syekh Mahmud Syaltut, mantan Grand Syekh al-Azhar, mau mencium tangannya, ketika mereka berdua bersua di kediamannya.

Pokoknya banyaklah sarjana yang kagum dengan Abbas Aqqad itu. Di manakah dia sekolah, apa gelar terakhir yang dia dapat? Dia hanya lulusan SMP, dan di bagian belakang namanya tidak ada gelar sama sekali. Tapi kenapa banyak orang-orang bergelar justru mengagumi dirinya? Ya memang begitu.

Gelar tidak menjadi jaminan keilmuan seseorang. Abbas Aqqad mampu membuktikan, bahwa kemampuan dirinya jauh lebih besar ketimbang gelar ijazahnya. Dia tekun belajar. Tidak hanya membaca buku-buku Timur, tapi dia juga mengoleksi banyak buku-buku Barat. Semua dia lahap. Dan, sebagai hasil dari ketekunannya, lahirlah karya-karya yang brilian itu.

Hal yang sama juga terjadi pada Musthafa Shadiq Ar-Rafi’i, sastrawan Mesir ternama itu. Ijazahnya sama dengan Abbas Aqqad. Tapi, menurut penuturan salah satu sumber, dalam sehari semalam waktu membacanya tidak kurang dari 8 jam!

Artinya dia juga memperoleh itu dengan ketekunan, bukan dengan ijazah sekolah yang selama ini dicari oleh banyak orang.

Contoh terakhir ialah ulama panutan saya sendiri, Syekh Yusri. Beliau adalah seorang dokter. Selesai lulus sekolah di fakultas kedokteran, dan dikukuhkan sebagai dokter, beliau memilih untuk kuliah lagi di Universitas Al-Azhar. Ijazahnya hanya sampai S1, di fakultas Syariah. Tapi, berhubung beliau orang yang rajin, dan belajar tidak hanya di dalam kampus, tapi juga belajar di luar kampus, kepada ulama-ulama besar, maka jadilah beliau seperti sekarang.

Bahkan, kalau boleh saya bilang, keilmuan beliau, yang hanya berijazah S1 itu, jauh melampaui sekian banyak dosen saya di dalam kampus. Inilah pentingnya membangun mindset, bahwa kuliah bukan hanya tempat untuk merengkuh gelar, tapi tempat untuk belajar dengan benar. Belajar untuk membangun kompetensi, bukan hanya sebatas mengukir prestasi demi prestasi.

Saya tidak menganjurkan Anda untuk belajar secara autodidak sepenuhnya. Karena memang itu cukup berbahaya. Apalagi kalau belajar agama. Harus ada guru. Tetapi, sekarang kita hidup di zaman internet, di mana semua hal bisa diakses dengan mudah. Kalau Anda ingin mendalami agama, atau mendalami bidang apa saja, beragam pengajian, kursus, seminar, dalam berbagai disiplin ilmu, sudah tersedia dalam jumlah yang melimpah. Dan semuanya bisa diakses dengan mudah. Buku-buku juga begitu.

Kalaulah Anda tidak punya kesempatan langsung untuk bertatap muka, simak saja pengajian mereka-mereka itu dari tempat tinggal Anda. Ambil ilmunya. Pelajari dasar-dasar setiap ilmu. Belajarlah secara bertahap. Setelah itu kembangkan diri Anda secara mandiri. Saya yakin, Anda bisa lebih hebat ketimbang orang-orang bergelar, yang tidak belajar kecuali hanya demi mendapatkan gelar.

Related Posts