Buah Keberkahan Doa Ibu

Buku ini adalah satu-satunya buku yang rampung ditulis semasa saya masih menjomblo, pada usia sekitar 25 tahun. Kendati demikian, ia adalah buku terlaris dari sejumlah buku yang pernah saya tulis. Di Mesir, penjualan buku ini sudah mencapai sekitar 2000-an eksemplar. Dengan tujuh kali naik cetak. Setiap cetakan jumlahnya hanya ratusan. Mengingat bahwa peminat buku ini hanya kalangan mahasiswa asing. Namanya di negeri orang, kejual segitu aja udah alhamdulillah.

Sampai ke Indonesia, barulah dicetak lebih banyak. Cetakan pertama sebanyak 2000 eksemplar. Laku. Cetakan kedua sebanyak 1000 eksemplar. Laku juga (tinggal sisa 20-an katanya). Dan untuk cetakan yang ketiga ini, berdasarkan info yang saya terima dari penerbit, akan dicetak sekitar 5000-an eksemplar. Batin saya membisik, mungkin inilah buah dari keberkahan doa ibu saya. Buku ini ditulis selama saya masih merantau di negeri orang. Selesai diterbitkan di Mesir, naskah buku ini saya kirimkan ke ibu saya.

Setelah buku sampai, ibu saya mengirimkan pesan, dan bilang kalau dia menerima buku ini dengan berlinang air mata; air mata kerinduan dan keharuan. Tujuh tahun berpisah dengan anak, tidak pernah sekalipun pulang, tiba-tiba datang satu buku, yang di bagian sampulnya tertulis nama sang anak. “Doain ya ma, semoga aja bukunya laku.” Tutur saya dengan penuh harap. Alhamdulillah, doa yang teriring rintihan kerinduan itu terkabul. Dan saya sangat bersyukur. Sampai sekarang, kalau ada buku baru terbit, saya selalu minta doa sang ibu.

Sebelum berangkat ke Kairo, ibu saya sempat kesusahan mencari uang untuk memberangkatkan saya. Entah ongkos ke Kairo itu dihasilkan melalui pinjaman, atau beliau menjual salah satu barang kesayangannya, saya tidak tahu. Yang jelas waktu itu kita sempat kesusahan mencari biaya. Banyak kisah sedih yang kita lewati selama tujuh tahun berpisah. Mungkin, buku ini, dan buku-buku lainnya, adalah balasan atas kesedihan itu. Begitulah roda kehidupan berjalan.

Di satu masa kita mereguk kesedihan, di masa yang lain Tuhan mencurahkan kebahagiaan. Masing-masing datang bergantian sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan. Orang beriman tak mengenal kata putus asa. Di saat bersedih, mereka sadar bahwa kesedihan itu hanyalah kebahagiaan yang tertunda. Dan di saat bahagia, mereka tahu bahwa kebahagiaan sesungguhnya hanya ada di alam sana. Di saat sedih mereka tetap optimis. Di saat bahagia mereka bersyukur.

Semakin dewasa saya semakin sadar, bahwa kebahagiaan hidup tidak bergantung pada apa yang kita dapatkan, tapi bergantung pada kemampuan kita dalam menyikapi ketetapan Tuhan. Keterbatasan tidak otomatis melahirkan kesengsaraan. Sebagaimana kekayaan belum tentu membuahkan kebahagiaan. Kesedihan yang kita terima sekarang adalah jalan untuk menjemput kebahagiaan di masa mendatang. Jika kita mampu menanamkan keyakinan itu, maka kita bisa hidup dengan tenang. Dan ketenangan itulah yang selama ini kita impikan.

Related Posts