Al-Qur`an dan Masalah Judicial Review

Ilustrasi: Sindonews.com

Judicial review atau peninjauan kembali hukum yang dianggap tidak selaras dengan konstitisi dibahas juga di dalam Al-Qur`an. Tepatnya pada QS. Al-Anbiya’ ayat 79. Firman Allah SWT.

فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ

Lalu, Kami berikan pemahaman (menyelesaikan perkara) lepada Sulaiman. Dan kepada masing-masing Kami anugerahkan kebijakan dan pengetahuan.

Ayat ini berlatarbelakang kisah sesudah Nabi Daud memberikan putusan hukum terhadap dua orang yang bersengketa. Ada yang menyebut perkaranya adalah sengketa antara pemilik tanah dengan pemilik hewan. Ada riwayat lain tentang perebutan pengakuan atas anak yang selamat dimangsa srigala.

Imam Al-Qurtubi menyebutkan bahwa ayat ini menguatkan kepitusan Nabi Sulaiman yang melakukan peninjauan putusan Nabi Daud, yang tidak lain merupakan orang tua sekaligus rajanya.

Dalam putusan Nabi Daud sebelumnya diputuskan bahwa hewan yang dibiarkan makan dan beranak pinak di atas lahan tanah orang tanpa kepedulian pemilik hewan maka menjadi milik pemilik tanah. Versi lain menyebut bahwa Nabi Daud memutuskan anak yang disengketakan antara dua ibu menjadi hak ibu yang lebih tua.

Putusan Nabi Daud itu kemudian dilaporkan kepada Nabi Sulaiman oleh pihak-pihak yang merasa dirugikan. Oleh Nabi Sulaiman putusan ayah sekaligus rajanya itu ditinjau ulang sehingga melahirkan putusan yang bertolakbelakang. Nabi Daud mengikuti keputusan Nabi Sulaiman dan ketulusan sikap kedua nabi itupun lalu diabadikan dalam QS. Al-Anbiya ayat 79.

Kisah dalam Al-Qur`an ini dapat dikatakan sebagai tonggak awal sejarah jidicial review. Dikatakan demikian sebab keputusan Nabi Sulaiman merupakan keputusan pemimpin tertinggi dalam satu kekuasaan. Saya tidak sependapat dengan pihak yang beranggapan bahwa Nabi Daud tidak maksum (terjaga dari kesalahan) berdasarkan masalah ini. Justru dalam hal ini Al-Qur`an mengisahkan masalah itu sebagai petunjuk umat manusia dalam rangka menyelesaiakan masalah.

Putusan Nabi Sulaiaman meninjau putusan Nabi Daud juga bukan dalam koredor hasil ijtihad. Hal dikarenakan ada kaidah yang menyebut: Al-ijtihad la yundazdu bi Al-ijtihad (ijtihad tak dapat terhapus dengan adanya ijtihad lain). Jika putusan Nabi Daud dipandang sebagai ijtihad maka seharusnya tetap diakui sekalipun ada ijtihad Nabi Sulaiman yang berlawanan. Akan tetapi faktanya tidak demikian.

Di samping itu, jika keputusan Nabi Sulaiaman iti dianggap ijtihad maka tidak sesuai dengan doktrin teologis bahwa segala seauatu yang disampaikan nabi adalah wahyu dari Allah. Dengan kata lain nabi tidak melakukan ijtihad.

Dengan demikian dapat dipahami bahwa QS. Al-Anbiya ayat 79 itu menjadi pembelajaran sesuai fingsi Al-Qur`an sebagai pedoman hidup, bahwa jidicial review tidak luput dalam ajaran Islam. Wallahu a’lam.

Related Posts