Boleh Saja, Asal Sopan dan Ilmiah

Boleh saja seorang mengkritik suatu pendapat atau amaliah orang lain, asal disampaikan dengan ilmiah, elegan (elok/sopan), serta tetap memuliakan dan menjaga ukhuwah islamiyyah dengan pihak yang dikritik. Kritikan seorang kepada orang lain bukan berarti bentuk penghinaan atau bentuk penyesatan. Jadi, yang dikritik woles saja, tidak perlu baper. Ini untuk pihak yang dikritik.

Sebaliknya, kalau nantinya kritikan tersebut ternyata ditanggapi balik oleh pihak yang dikritik, ya sah-sah saja. Selama tanggapannya ilmiah serta memenuhi adab-adab yang telah disebutkan di atas, tidak ada masalah. Yang kritikannya ditanggapi balik juga woles saja, tidak boleh baper, apalagi sampai menuduh yang tidak-tidak. Jangan sampai diartikan sebagai serangan terhadap dakwah, atau tindakan mengikuti hawa nafsu, atau memusuhi Islam, atau menentang sunah. Ini untuk pihak yang mengkritik.

Tradisi ilmiah seperti ini sudah ada sejak zaman para ulama Salaf, dan terus berlangsung di masa-masa yang setelahnya sampai zaman kita sekarang ini. Siapapun yang telah berani berpendapat, atau mengarang buku, atau mengeluarkan pernyataan, atau mengkritik pendapat orang lain, maka dia juga harus siap dikritik atau dikritik balik. Sebagaimana dinyatakan oleh para ulama :

مَنْ صَنَّفَ فَقَدْ وَضَعَ عَقْلَهُ فِيْ طَبَقٍ وَ عَرَضَهُ عَلَى النَّاسِ

“Barang siapa yang mengarang (suatu kitab), maka sungguh dia telah meletakkan akalnya di atas piring, lalu dia menghidangkannya kepada manusia.” (dinukil dari kitab Siraj Ath-Thalibin, karya Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Jampasi Al-Kadiri, jilid I, hlm. 4)

Jika pada akhirnya masing-masing pihak bersikukuh dengan pendapatnya, maka keduanya harus bisa saling menghormati. Tidak boleh memaksakan pendapatnya kepada orang lain. Karena menyatukan semua orang di atas satu pendapat, merupakan perkara yang sangat sulit, bahkan bisa dikatakan mustahil. Perbedaan pendapat dalam masalah khilafiah atau furu’iah, telah menjadi sunatullah (keniscayaan dari Allah) kepada para hamba. Asal kita benar dan bijak dalam menyikapinya, maka akan menjadi “rahmat”. Imam An-Nawawi (w.676 H) rahimahullah berkata :

لِأَنَّ اخْتِلَافَهُمْ فِي الْفُرُوعِ رَحْمَةٌ

“Karena sesungguhnya perbedaan pendapat yang ada pada mereka (ulama Salaf) adalah rahmat.” (Syarh Al-Muhadzdzab , jilid I, hlm. 5).

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Related Posts