Hal – Hal yang Mewajibkan Tayammum

Ilustrasi: muslim.or.id

Salah satu bentuk kemudahan yang diberikan Allah pada hambanya adalah Ia mensyariatkan tayammum sebagai ganti dari wudhu’ ketika dalam keadaan-keadaan tertentu. Secara bahasa tayammum adalah bersengaja. Dan secara Syara’ bermakna mengusap wajah dan kedua tangan dengan debu yang mensucikan.

Syekh Muhyiddin dalam kitabnya yang berjudul Ibadatul Islam as-Sholatu Fiqhuha Asroruha Ta’allumu Kaifiyyatuha menjelaskan ada lima hal atau keadaan yang mewajibkan seseorang untuk melakukan tayammum. Lima hal tersebut adalah :

  1. Apabila tidak menemukan air

Artinya, ketika seseorang dalam suatu kawasan tidak menemukan air yang digunakan untuk bersesuci, baik untuk mensucikan hadats kecil maupun besar maka ia di perbolehkan menggunakan debu untuk tayammum sebagai ganti dari wudhu’ maupun mandi besar.

  1. Ketika sakit atau memiliki luka

Apabila seseorang dalam keadaan sakit parah atau bagian tubuhnya terdapat luka sehingga ia khawatir apabila ia menggunakan air, sakit atau lukanya semakin parah. Atau, tidak semakin parah, akan tetapi ia khawatir dengan menggunakan air tersebut, sakit yang di deritanya tidak lekas sembuh.

  1. Ada air tapi sangat dingin

Apabila dalam suatu daerah terdapat air, akan tetapi air tersebut sangat dingin sekali sehingga menurut persangkaannya atau kemungkinan besar akan terjadi hal yang membahayakan ketika ia menggunakan air tersebut.

  1. Ada air tapi terdapat penghalang untuk memakainya

Dalam hal ini, seseorang mendapati air di sekitarnya akan tetapi terdapat penghalang sehingga orang tersebut tidak bisa menggunakan air tersebut untuk bersesuci. Yang dimaksud penghalang dalam hal ini ialah seperti ada musuh, pencuri misalnya. Ketika seseorang keluar rumah untuk mendapatkan, lalu ia khwatir ada pencuri yang akan memasuki rumahnya apabila ia keluar, maka ia diperbolehkan untuk bertayammum.

Selain musuh, Syekh Muhyiddin juga memberikan contoh lain terkait penghalang dalam permasalahan tayammum ini, yakni tertinggal dari suatu rombongan. Jadi, seandainya seseorang sibuk mencari air untuk bersesuci sehingga ia dapat tertinggal dari rombongan. Maka ia diperbolehkan untuk bertayammum.

  1. Ada air tapi diperlukan untuk diminum

Untuk yang terakhir, ketika kondisi sedang paceklil atau tidak ada air, akan tetapi tersisa sedikit air yang ia butuhkan untuk minum maka ia diperbolehkan untuk bertayammum dan menggunakan air yang tersebut untuk di minum.

Ketentuan dibutuhkan untuk diminum tidak hanya berlaku pada manusia saja, akan tetapi juga pada hewan. Artinya, bila dalam kondisi tidak ada air ini, kemudia tersisa air tapi ada hewan yang membutuhkan air tersebut untuk di minum, maka ia diperbolehkan untuk bertayammum dan memberikan air itu kepada hewan tersebut.

Sedang di Indonesia sendiri, memang kita jarang menemui kasus kekeringan hingga tidak menemukan air. Akan tetapi, tidak ada jaminan bahwa air di negara kita selalu ada dan tersedia melimpah ruah. Tapi, mengetahui ilmu bertayammum sangat baik sekali sebagai antisipasi dari kondisi yang tidak kita harapkan sebagaimana yang telah di jelaskan tadi.

Wallahu A’lam bis Showab.

Related Posts