Keturunan dan Pemikiran

Ilustrasi: YouTube

Seorang kawan pagi ini mengirim terusan pesan WA tentang ulama Wahabi keturunan Syaikh Ahmad Khathib Al-Minangkabawi. Ulama itu adalah Syaikh Amir Bahjat Al-Hanbali, yang namanya kini sedang naik daun di Saudi Arabia.

Narasi ini tidak ada yang istimewa, karena bukan sesuatu yang aneh ada ulama dari keturunan ulama. Memang seperti itu seharusnya. Namun persoalan tersebut tampak nya tidak berhenti sampai di situ. Pembuat narasi terkesan ingin menyampaikan sebuah pesan bahwa keturunan ulama besar saja mendukung Wahabi, kenapa yang bukan keturunan ulama justru berlawanan dengan Wahabi?

Model-model narasi seperti di atas bukan saja dilakukan sekarang, tapi sejak menggeliatnya paham yang dibungkus kata “salaf itu, justifikasi mazhab dengan menggunakan argumentasi nasab sudah sering dilakukan. Masyarakat perlu mendapat pemahaman bahwa pemikiran dan nasab merupakan dua hal yang berbeda. Nasab tidak menjamin ketersambungan pemikiran. Bahkan di dalam Al-Qur’an, nasab juga tidak menjamin sampainya keimanan. Itu bisa dibaca di dalam kasus Nabi Nuh alaihissalam dengan puteranya seperti tercantum di dalam Surat Hud. Bahkan Allah memberi penegasan:

(قَالَ یَـٰنُوحُ إِنَّهُۥ لَیۡسَ مِنۡ أَهۡلِكَۖ إِنَّهُۥ عَمَلٌ غَیۡرُ صَـٰلِحࣲۖ فَلَا تَسۡـَٔلۡنِ مَا لَیۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۖ إِنِّیۤ أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ ٱلۡجَـٰهِلِینَ)

Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.” [Surat Hud 46]

Kembali lagi kepada info ulama keturunan Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, kita tahu bahwa Syaikh Khatib Al-Minangkabawi bermazhab Syafi’i dalam fikih dan Asy’ariyyah dalam aqidah. Penegasan bahwa beliau seorang Asy’ari dapat dibaca dari silsilah keilmuan beliau. Di antara guru beliau adalah Sayyid Bakry bin Syatho Al-Dimyathi Al-Malibary dan Sayyid Ahmad Zaini bin Dahlan. Dari informasi singkat ini dapat disimpulkan bahwa Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi mengetahui betul peristiwa Revolusi Arab pada masa Muhammad bin Saud.

Lalu, bagaimana dengan keturunannya yang kemudian menjadi ulama Wahabi? Mengenai hal ini kita tidak bisa menjadikan keturunan sebagai dalil benarnya sebuah pemahaman. Sepanjang sejarah perkembangan pemikiran, kita menjumpai perbedaan cara pandang antara orang tua dengan anak;

1. Wāshil bin Atha’ tokoh Mu’tazilah berbeda pandangan dan mazhab dengan anak tirinya, Imam Abu Hasan Al-Asy’ari. Padahal, sejak usia 7 tahun hingga usia 37 tahun, Imam Al-Asy’ari dijejali paham Mu’tazilah oleh Washil bin Atha’.

2. Syaikh Abdul Wahab Al-Hanbali berbeda pendapat dengan puteranya Syaikh Muhammad, yang kemudian membangun paham yang dijuluki Wahabi.

3. Kyai Faqih Maskumambang, pendiri NU, berbeda paham dengan anaknya Kyai Ammar Maskumambang. Diketahui Kyai Ammar aktif mendakwahkan pemahaman Wahabi sepulang belajar dari Madinah.

4. Buya Hamka berbeda pandangan tentang tariqat sufi dengan ayahnya H. Abdul Karim Amarullah. Sang ayah adalah seorang mursyid tariqah Naqsyabandi. Sedangkan Buya Hamka anti tariqat tasawwuf.

Dari contoh-contoh di atas, kita bisa memahami bahwa tidak ada yang istimewa dari perbedaan paham di dalam satu keluarga. Perbedaan paham itu bisa dipicu banyak hal. Lingkungan pergaulan, kekecewaan pribadi, dan ketertarikan terhadap dinamika yang berkembang, bisa menjadi motif atau dorongan, berubahnya haluan pemikiran seseorang dari cara pandang keluarganya.

Dari sisi individual, setiap orang mempunyai kebebasan menentukan apa yang menjadi pilihannya. Namun yang menjadi persoalan saat ini adalah ketika kebebasan memilih pemahaman itu dijadikan sebagai alat untuk menyerang pilihan orang lain. Itu yang dilakukan kebanyakan aktivis Wahabi selama ini. Ngono ya ngono. Tapi ya ojo koyok ngono…

Wallahul Muwaffiq ila Aqwamit thariq.

Related Posts