Mari Perbaiki Kebiasaan Membaca

Minat baca dan kebiasaan membaca itu penting sekali. Minat baca dan kebiasaan membaca dapat meningkatkan pengetahuan seseorang, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kecerdasan dan kepandaian seseorang. Begitu pentingnya membaca, Allah SWT menurunkan wahyu pertama kepada Muhammad SAW berwujud perintah membaca. Walau penting sekali membaca, ternyata tidak semua orang bisa melakukannya.

Jika memperhatikan hasil PISA tahun 2018, bahwa posisi tingkat literasi bangsa Indonesia berada di ranking 62 dari 70 negara. Posisi ini bisa dimaklumi karena ketiadaan atas keterbatasan koleksi buku. Berdasarkan data dari BPS bahwa Sejumlah penduduk 270 juta hanya tersedia 22 juta judul buku yang tersimpan di perpusnas dan perpusda. Dengan begitu berarti 1 buku untuk 90 orang Indonesia.

Sementara itu di Jepang, seseorang mendapatkan penyediaan 5 buku, sedangkan di AS sebanyak 20 orang mahasiswa. Atas dasar inilah sangat beralasan bahwa rendahnya minat dan budaya membaca lebih disebabkan oleh terbatasnya ketersediaan buku bacaan. Bisa juga disebabkan rendahnya angka budaya membaca orang dewasa dan anak. Di negara-negara maju, anak-anak usia dini sudah dibiasakan mendengarkan cerita, mendengarkan bacaan buku, dan kunjungan ke perpustakaan umum (public library), di samping kunjungan ke toko-toko buku yang me-display-kan buku-buku untuk anak-anak.

Di samping terbatasnya ketersediaan buku, ternyata penyebab rendah minat dan kebiasaan membaca itu karena kurangnya akses, terutama untuk masyarakat Indonesia yang berada di daerah terpencil. Hal itu merupakan salah satu yang terungkap dari Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Seorang peneliti di Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud mengatakan bahwa ada korelasi antara akses dengan kebiasaan. Jika tidak akses, bagaimana masyarakat Indonesia bisa membaca? Para pegiat literasi melihat bahwa minat baca orang Indonesia cukup tinggi, tapi itu potensi yang belum mewujud jadi perilaku, kebiasaan, dan budaya.

Menurut Yayasan Pengembangan Anak Indonesia (2016), bahwa rendahnya indeks minat dan kebiasaan membaca baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berakibat pada (1) Banyak mengalami masalah dalam memahami, menguasai, meneruskan, dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi, (2) Minimnya wawasan dan keilmuan yang terbatas, (3) Kreativitas seseorang tak berkembang, (4) Tak mengetahui informasi teraktual, sehingga mengalami kesulitan untuk meningkatkan kualitas diri, (5) Ketidaktahuan karena enggan menambah ilmu pengetahuan serta meng-upgrade diri dengan informasi terbaru akan menimbulkan ketidakpedulian, (6) Mereka yang tak berwawasan luas cenderung akan mengalami kesulitan pada kehidupan sosialnya, dan (7) Kerugian negara yang kehilangan aset-aset penyumbang dalam kemajuan bangsa yang berkualitas dan mempunyai produktifitas yang tinggi. Betapa besar dan berartinya akibat rendahnya minat dan kebiasaan membaca bagi kehidupan.

Untuk bisa membangkitkan minat membaca dan memperbaiki kebiasaan membaca, kita dapat upayakan beberapa hal, di antaranya:
• Mengadakan dan meningkatkan jumlah dan layanan perpustakaan terutama pada lingkungan masyarakat dan sekolah.
• Selayaknya semenjak dini, orang tua menanamkan budaya membaca sehingga putra-putrinya tak lagi merasa bahwa kegiatan membaca itu membosankan dan tidak menyenangkan.
• Menjalankan secara konsisten program membaca buku 10 menit sehari yang digalakkan pemerintah.
• Menyediakan sarana sumber bacaan berkualitas bagi sasaran yang dituju.
• Mengendalikan penggunaan media elektronik seperti video games, televisi, gadget, serta internet.

Amanda Morin mengemukakan 8 tips untuk membantu anak-anak dalam memperbaiki kebiasaan membaca, di antaranya: (1) Make reading a daily habit, (2) Read in front of your child, (3) Create a reading space, (4) Take trips to the library, (5) Let your child pick what to read, (6) Find reading moments in everyday life, (7) Re-read favorite books, (8) Learn more about how kids read.

Untuk bisa implementasikan meningkatkan kebiasaan membaca tidaklah mudah. Harus bisa dikondisikan lingkungannya yang kondusif, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Terutama iklim akademik dan sosial budaya. Membaca adalah suatu yang berharga di mata masyarakat. Kita terjauhkan dari kebohodohan. Kini sebenarnya aktivitas membaca sebenarnya semakin intens, terlebih-lebih kita tidak bisa lepas dari dunia digital. Hanya sekarang kita tinggal mengarahkan, bagaimana altivitas membaca kita bisa lebih produktif.

Demikianlah beberapa hal tentang membaca dengan segala aspeknya. Di era informasi dan digital dewasa ini dan mendatang, bahwa membaca merupakan jantung kehidupan. Setiap gerak gerak kita tidak bisa lepas dari membaca. Tinggal kita sendiri, bagaimana aktivitas membaca kita bisa meningkatkan ilmu kita, mendongkrak kualitas diri kita, dan memperbaiki martabat kita. Bukan sebaliknya, aktivitas membaca yang dapat memboroskan waktu dan usia kita untuk hal yang sia-sia. Semoga kita bisa manfaatkan aktivitas membaca untuk tingkatkan produktivitas kita.

Yogyakarta, 30 Syawal 1442 H/ 11 Juni 2021, pk. 7.30

Related Posts