Melawan Pemikiran Menyimpang dengan Radd As-Syubuhat

Ilustrasi: Merdeka.com

Sewaktu duduk di bangku strata satu, ada satu mata kuliah yang dulu suka saya pandang sebelah mata. Tapi kini, setelah pulang ke Indonesia, benar-benar saya rasakan urgensitasnya. Mata kuliah itu berjudul “Radd as-Syubuhat” Satu mata kuliah yang secara khusus dibuat untuk meng-counter pikiran-pikiran yang menyimpang. Biasanya mata kuliah itu dibelah menjadi dua. Satu, Radd as-Syubuhat haul Al-Qur`an, untuk membantah pikiran-pikiran yang menyimpang seputar Al-Qur`an. Dua, Radd as-Syubuhat haul as-Sunah, untuk membantah pikiran-pikiran yang menyimpang seputar sunah.

Mungkin ada yang bertanya, kenapa tidak ada mata kuliah serupa tentang ilmu kalam/akidah? Kenapa tidak ada Radd as-Syubuhat haul Al-Aqaid, misalnya? Jelas, pemisahan itu memang tidak perlu. Karena kewajiban membantah pikiran-pikiran yang menyimpang sudah terintegrasi dengan ilmu kalam itu sendiri. Seorang mutakallim (teolog) tidaklah disebut mutakallim kecuali dia melakukan dua hal. Satu, meneguhkan dasar-dasar keyakinan (itsbat al-Aqaid ad-Diniyyah). Kedua, membantah pikiran-pikiran yang menyimpang (radd as-Syubah).

Karena itu, teolog yang kerjaannya hanya memaparkan dasar-dasar keyakinan, kata salah seorang ulama, itu telah mengabaikan salah satu aspek terpenting dalam bidangnya. Yakni membantah gagasan-gagasan yang merusak ajaran Islam. Itulah alasan mengapa Ilmu Debat, yang dikenal nama Adab al-Bahts wa al-Munazharah, amat ditekankan dalam pembelajaran Ilmu Kalam. Karena Anda tidak mungkin membantah dengan cara-cara yang tepat kecuali setelah mempelajari kaidah-kaidah dalam berdebat. Berdebat tidak selamanya tercela. Ketika dihadapkan dengan gagasan yang merusak, adakalanya berdebat menjadi sesuatu yang niscaya.

Related Posts