Menciptakan Kategorisasi Melalui Pakaian

Ilustrasi: Rumaysho.com

Dalam kesempatan silaturrahim, pernah ada yang bertanya, “Almamatermu ikut aliran apa kok di madrasah rantingnya, santriwati-santriwatinya dianjurkan bercadar?” Saya tercenung sejenak. Enggan menanggapi. Karena untuk menjelaskan dalam perspektif fikih, sepertinya suasana omongan yang terlanjur renyah dari tadi pasti akan rusak. Saya hanya mengalihkan pembicaraan pada hal-hal lain agar terjaga kerenyahan silaturrahim.

Namun selepas itu, saya terus berpikir motif di balik pertanyaan tadi. Pemikiran saya merambat pada ingatan tentang cerita seorang teman senior IPNU di kota saya, bahwa ada salah satu pengurus IPPNU yang bercadar. Kemudian disidang oleh salah seorang kiai sepuh yang aktif dalam kepengurusan NU di situ. Dengan tanpa ampun dan tanpa memberikan peluang untuk berargumen, ukhti bercadar itu dihakimi dan dituduh terpapar ekstremisme. Puncaknya, si ukhty dikeluarkan dari struktur organisasi dan pindah ke salah satu pergerakan yang mempunyai tradisi kebebasan berpikir. Entah, apakah saat ini dia masih bercadar atau tidak.

Kemudian saya ingat pada apa yang pernah dialami oleh istri saya saat memutuskan untuk memakai cadar. Mula-mula saya kurang setuju. Tentu saya punya banyak pertimbangan budaya dan konsekuensi sosial yang harus di hadapi di tengah-tengah lingkungan yang kurang biasa, bahkan cenderung kagetan berhadapan dengan hal-hal baru. Tapi setelah adu pertimbangan terutama pertimbangan syariat yang diajukan istri, saya pasrah dan bilang, “Oke. Saya dukung. Tapi ingat, sekali memutuskan, jangan mundur!”

Dan, ternyata konsekuensi yang saya perkirakan benar-benar terjadi. Beberapa tuduhan pada istri pun terlontar. Bahkan prasangka-prasangka bahwa dia terpapar paham radikal sejak menikah, beberapa saya dengar. Tanpa klarifikasi, tanpa menjajal langsung pemikiran utuh tentangnya. Apalagi ketika tiap salat jumat saya selalu pakai jubah, makin kuatlah dugaan bahwa istri saya benar-benar terpapar radikalisme dari saya. Padahal jubah itu saya pakai khusus saat salat jumat karena pakain itu dibelikan oleh almarhumah ibu dan saya ingin dengan memakainya bisa mengalirkan pahala untuk beliau. Sesederhana itu.

Sampai di sini, saya amati berbagai isu serupa di luar lingkup sempit yang saya alami di atas. Beberapa orang bahkan kelompok sepertinya memang begitu mudah berpikir hitam-putih hanya dari sebuah atribut dan pemikiran sekilas yang belum utuh. Banyak yang langsung menetapkan kategori kepada orang-orang yang beda pemikiran, tanpa ada upaya komunikasi dan membaca pemikirannya secara cermat. Bahkan dalam perbedaan pilihan politik yang cukup memanas sejak 2019 kemarin, masih tersisa sikap kategorisasi dalam dua kelompok cebong-kampret.

Ada juga sikap yang sangat miris bagi saya, setiap orang yang melontarkan kritik dan ketidaksukaan pada pemerintah langsung dikategorikan sebagai kadrun. Yang cukup menghenyakkan saya, ketika Gus Ulil Abshar Abdalla (pentolan JIL) menampakkan pembelaannya pada Palestina, tiba-tiba tuduhan kadrun kepadanya juga tidak bisa dihindari.

Penyakit akut yang mematikan rasa kemanusiaan ini saya perhatikan menjadi salah satu sumber perpecahan antar sesama. Kecurigaan-kecurigaan tak berdasar dan kebencian yang kian memanas tidak akan pernah selesai hanya dengan teriak toleransi selama kita masih kecanduan kepada minat kategorisasi.

Stigma ikut aliran apa almamater saya karena menganjurkan madrasah rantingnya memakai cadar, bisa jadi akhirnya akan beranjak pada tuduhan-tuduhan radikalisme dan kemudian terbentuk kategorisasi ‘kadrun’. Kemudian dituduh melahirkan alumni-alumni kadrun, intoleran, radikal bahkan teroris. Termasuk saya sebagai alumni, mungkin akan terus menerus dituduh sebagai kadrun, kemudian istri saya jadi kadrun gara-gara saya. Ah! Ruwet!

Saya tidak betul-betul yakin, orang yang ada di kelompok tertentu benar-benar mampu memahami ajaran dan tujuan kelompoknya. Apalagi sampai mengaplikasikannya. Kelompok yang meneriakkan khilafah, apakah semuanya benar-benar paham khilafah yang dimaksud? Yang mengaku ahlussunnah, apakah semuanya benar-benar paham ahlussunnah itu apa dan bagaimana? Yang mengaku nahdliyin, apakah semuanya benar-benar paham ajaran NU itu bagaimana dan tingkah lakunya sudah sesuai ke-NU-an?

Pada akhirnya, saya menyimpulkan bahwa secara hakikat, tidak ada orang yang benar-benar bisa dikategorikan dalam kelompok tertentu, meskipun secara formal menempati sebuah kelompok. Memaksakan kategorisasi manusia, sama halnya dengan melecehkan kodrat manusia yang unik. Untuk menyikapi keunikan manusia bukan dengan pendefinisian dalam teropong logika.

Saya sebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang dialektis. Di dalamnya ada hati yang selalu berbolak-balik; ada pikiran yang terus memperbarui cara pandang saat menfungsikan indera; ada jatuh-bangun asa yang menghiasi suasana batinnya. Itulah kenapa ketentuan akhir hidup kita begitu misteri. Maka teropong yang tepat untuk manusia adalah dialektika.

Dalam dialektika, tak ada satu pun manusia yang mampu mendefinisikan dirinya sendiri secara utuh. Karena definisi memang milik logika, sedangkan memahami manusia bukanlah dengan logika. Menambah ilmu dengan terus belajar dan membaca adalah upaya untuk mengenali definisi diri. Oleh karena itu mengategorisasi diri saja tidak bisa utuh dengan serta-merta, apalagi mengategorisasi orang lain. []

========

Hanya esai ringan yang tak memiliki bobot apa-apa. Sekadar suara pribadi, bukan suara langit. Bisa dikritik dengan pedas-sepedasnya.

Related Posts