Nabi Khadhir Masih Hidup Menurut Mayoritas Ulama`

Ilustrasi: santri. laduni.id

Ulama’ Islam berbeda pendapat tentang apakah Nabi Khadhir masih hidup hingga sekarang. Sayangnya isu ini terus dibangkitkan oleh sebagian orang untuk memupuk perselisihan dan pertengkaran ditengah-tengah umat Islam.

Segolongan ulama’ salaf dan pakar hadits seperti Imam Al-Bukhari, Imam Ibnul Jauzi dan lain-lain meyakini, bahwa Nabi Khadhir telah wafat. Alasannya, selain tidak memiliki landasan dalil yang shahih dan kuat, isu masih hidupnya Nabi Khadhir juga bertentangan dengan zhahir dan keumuman ayat dan hadits-hadits shahih tentang tidak adanya manusia yang hidup hingga sekarang.

Sementara jumhur [mayoritas] ulama’ dan auliya’ meyakini bahwa Nabi Khadhir masih hidup hingga kini. Diantara ulama’ yang menyebut bahwa pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama’ adalah Al-Hafizh An-Nawawi, Al-Hafizh Ibn Shalah, Al-Hafizh Ibn Katsir, Imam Ibn Athoillah As-Sakandari dan masih banyak ulama’ yang lain.

Jadi, secara jujur saya mengakui adanya khilafiyah ulama’ tentang ini. Tetapi secara inshof juga harus diakui, bahwa mayoritas ulama’ mengatakan Nabi Khadhir masih hidup hingga sekarang dengan hujjah dan fakta yang mereka yakini. Inilah amanah ilmu yang harus disampaikan. Bukan seperti sebagian orang yang menafikan kenyataan ini serta menganggap pendapat kewafatan Nabi Khadhir sebagai satu-satunya pendapat yang harus diterima dan lantas merendahkan pendapat sebaliknya.

Yang unik adalah jawaban Imam Ibn Taimiyyah yang [pernah] mengikuti jumhur ulama’ bahwa Nabi Khadhir masih hidup. Dalam kitab fatwanya disebutkan:

.
هَلْ كَانَ الْخَضِرُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نَبِيًّا أَوْ وَلِيًّا ؟ وَهَلْ هُوَ حَيٌّ إلَى الْآنَ ؟ فَأَجَابَ : وَأَمَّا حَيَاتُهُ : فَهُوَ حَيٌّ

“Apakah Khadhir ‘alaihissalam seorang nabi atau wali? Dan apakah dia hidup hingga sekarang? Ibn Taimiyah menjawab: “Ada pun kehidupannya, maka dia masih hidup”. (Majmu’ Fatawa 4/388).

Berikut ini atsar yang shahih menurut banyak pakar hadits tentang perjumpaan Khalifah Umar bin Abdil Aziz dengan Nabiyullah Khadhir:

عن رياح بن عبيدة قال رأيت رجلا يماشي عمر بن عبد العزيز معتمدا على يده فقلت في نفسي إن هذا الرجل جاف فلما صلى قلت يا أبا حفص من الرجل الذي كان معك معتمدا على يدك آنفا قال وقد رأيته يا رياح قلت نعم قال إني لأراك رجلا صالحا ذاك أخي الخضر بشرني أني سألي فأعدل قلت هذا أصلح إسناد وقفت عليه في هذا الباب

“Dari Riyah bin Ubaidah. Ia berkata: “Aku melihat lelaki yang berjalan menemani (Khalifah) Umar bin Abdil Aziz seraya memegang tangannya. Dalam hati aku berkata: “Lelaki ini adalah orang yang kasar [tak beradab]”. Setelah sholat, aku bertanya kepada Umar: “Wahai Abu Hafsh, siapakah lelaki yang bersamamu yang baru saja memegang tanganmu?”. Umar menjawab: “Sungguh kamu telah melihatnya, wahai Riyah?”. Aku jawab: “Benar”. Umar kembali berkata: “Sungguh aku melihat kamu seorang lelaki yang shalih. Dia adalah saudaraku, Nabi Khadhir. Dia memberi tahuku, bahwa aku akan menjadi penguasa dan mampu berbuat adil”. Aku (Ibn Hajar) berkata: “Ini adalah sanad yang paling bagus yang aku ketahui dalam bab ini” (Al-Ishabah II/330).

Ringkasan komentar ulama’ terkait sanad atsar diatas: Amirul Mu’minin fil Hadits Al-Hafizh Al-Imam Ibn Hajar Al-Asqallani dalam Al-Ishobah, Al-Hafizh Adz-Dzahabi dalam Tadzkirah Al-Huffazh, Imam Ibn Arraq dalam Tanzih asy-Syari’at, Al-Hafizh Jalaluddin As-Suyuthi dalam Tarikhul Khalafa’ dan lain-lain menyatakan bahwa sanad atsar diatas adalah jayyid [bagus]. Pendapat berbeda datang dari Imam Ibnul Munadi yang menyebut sanad atsar ini lemah. Pendapat terakhir ini diikuti oleh Al-Hafizh Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at. Inilah amanah ilmiyah yang harus dijunjung tinggi oleh segenap ahli ilmu.

Dari kisah di atas, jika ada ulama’ yang tsiqah yang mengaku berjumpa dan mendapatkan ijazah atau nasehat dari Nabi Khadhir, maka tidak boleh kita dustakan atau kita rendahkan serendah-rendahnya dengan tanpa alasan yang baik dan bijak.

Wallahu A’lam

Related Posts