Tidak Ada Alasan Sibuk Bekerja untuk Belajar dan Mencari Ilmu

Kabar mengejutkan id kemarin saat berita wafatnya Syeikh Ahmad Ramadhan (Sidi Abu Humed), padahal baru mau nelpon untuk ziarah, innalillahi wa inna ilaihi rajiun, beliau adalah salah satu ulama paling sepuh di makhad Fatah Islamy, yang paling aku ingat dari beliau adalah bagaimana proses beliau mencari ilmu, yang membuat malu bagi kita yang mengatakan gak ada waktu untuk belajar atau ada waktu tapi masi malas, beliau dulu ketika masa belajar, beliau sambil bekerja ngejait sepatu pesanan pabrik di waktu siang, agar pagi dan sore beliau bisa fokus belajar. Beliau membuktikan bahwa kerja berat bukan halangan untuk mencari ilmu, beliau juga sama kayak orang pada umumnya, nyari nafkah, kerja, punya banyak teman, dll. Bedanya beliau gak menjadikan itu alasan untuk tidak belajar mendalami ilmu agama.

Ini sebenarnya menjadi sunah kebanyakan masyaikh yang kita kenal di Syam. Jarang dari mereka yang cuma fokus belajar dan mengajar, rata-rata mereka harus membagi waktu mereka antara belajar dikampus umum, kerja dan belajar. Syeikh Adib Kallas itu masa mudanya bekerja ngecat rumah orang, subuh dan malam belajar. Syeikh Abdurrazaq Halaby masa mudanya itu bekerja diperabotan pagi dan malam belajar. Syeikh Rusydi Qalam itu masa mudanya jualan, bahkan sebagian murid dulunya baca kitab di toko sambil beliau jualan nunggu pelanggan. Syeikh Riyadh Oghly kerja dipabrik ngebuat renda baju. Syeikh Ahmad An-Najjar dulunya juga kerja masang keramik dan ngecat rumah agar beliau tetap belajar sambil nafkahi keluarga. Syeikh Ramadhan dib itu kerjanya ke kebun, bengkel, dll demi bisa belajar.

Semuanya dilakukan sambil belajar, jadi jangan dikira masa muda masyaikh besar bisa fokus belajar tanpa berfikir pemasukan sehari-hari dan tanpa belajar dikampus, sama aja lah mereka sama anak muda lain, bahkan kebanyakan mereka itu gak bisa tafarugh untuk ilmu dimasa muda, tapi ya pinter-pinter mereka lah membagi waktu belajar.

Dan itu gak berhenti masa belajar saja. Begitu juga masa mengajar, sebagian syeikh masa mudanya gak bisa tafarugh dan fokus belajar dan mengajar doank, karena kesibukan mencari nafkah, baik untuknya sendiri atau keluarga. Bahkan kadang kerja kasar. Sebagian mereka ada yang jadi tukang jam, sebagian lagi kerja bangunan, jualan jus dan buah, dll. Ada juga yang profesional yang punya pemasukan standar seperti punya perabotan besar seperti seperti Syeikh Ihsan Sayyid Hasan, ada yang jadi pengacara seperti Syeikh Usamah Abu Syaar, ada juga jadi dokter bedah seperti Syeikh Samir An-nas, ada juga jadi guru matematika seperti Syeikh Syukri Luhafy, Syeikh Hasan Hindi yang punya kontrakan yang lumanyan, dll. Ada juga yang kaya raya seperti Syeikh Husam Farfur yang dagangnya uda ekspor impor dengan kontainer, Syeikh Hasan yang punya rumah sakit sendiri, Syeikh Zaktary yang punya tempat kursus besar, dan seterusnya.

Yang pasti kewajiban mencari nafkah sehari-hari sama sekali bukan alasan untuk tidak belajar dan mengajar ilmu agama. Gak ada ceritanya mereka mengatakan, aku sibuk sekali sekarang, anak uda empat, sekolah semua, belum lagi kontrakan, dll gak sempat la kalau harus belajar atau ngajar lagi. Karena jika ada niat maka Allah akan membuka sendiri jalannya, kita hanya mengambil sebabnya saja, jalan yang terbuka bisa jadi normal dan bisa juga tidak normal.

Contoh yang tidak normal adalah Syeikh Rajab Dib, beliau juga kerja berat pada masa mudanya, seperti manggul, dll, bahkan gara-gara kerja beliau gak sempat belajar mempersiapkan ujian, tapi karena keikhlasan beliau,saat ujian tiba, terjadi keajaiban dinding ruang ujian semua jadi buku yang memberi beliau jawaban yang diinginkan. Tapi gak mesti semua orang mengalami seperti Syeikh Rajab. Yang pasti jika kita ikhlas dalam belajar, maka akan dibuka sendiri jalannya. Dengan cara yang tidak pernah terduga.

Dan akhirnya semua masyaikh di atas jadi ulama besar, sebagian ada yang kerjanya berkembang seperti Syeikh Rusydi yang punya beberapa pabrik, atau syeikh Rajab yang punya kebun zaitun luas yang punya kekayaan ratusan milyar, sebagian lagi ada yang standar aja. Dan kerja mereka itu membuat mereka mandiri, makanya selama 10 tahun aku di Syam gak ada masyaikh di syam yang ngambil upah untuk ngajar dan isi pengajian. Bahkan kadang mereka lah yang memberi untuk para pelajar jika mereka mampu.

Jadi gak ada alasan lagi kan untuk mengatakan aku ga sempat belajar karena harus ini dan itu, sampe mengatakan gak semua orang seperti anda punya waktu kosong, bahkan itu menjadi alasan terpaksa nonton you tube untuk belajar karena gak ada waktu. Sidi, yang sibuk gak cuma kita, yang punya anak gak cuma kita, yang butuh makan juga gak cuma kita, yang gak punya waktu luang gak cuma kita, ulama-ulama kita pada masa mencari ilmu juga sibuk, butuh makan juga, harus nyekolahin anak juga, harus bawa jalan-jalan istri juga, tapi jika ada niat semua itu bisa diatur. Saat waktunya belajar ya belajar, saat waktu ngaji ke rumah guru atau mesjid juga sama. Yang penting niat dan azam, insyaallah jalan dibuka sendiri mah.

Oh kalau keadaan kita baik secara ekonomi dan bisa tafarugh? Oh itu bonus. Maka manfaatkanlah. Syeikh Buty, Syeikh Wahbah Zuhayli, Syeikh Nurudin itu masuk kelompok ini, ini juga khair dan berkah. Yang penting semua bisa belajar diposisi masing-masing dan sesuai dengan keadaan masing-masing, tapi menggantikan belajar dengan guru secara langsung dan menggantinya dengan you tube dengan alasan gak ada waktu, itu ghairu ma’hud. Itu untuk jadi santri. Adapun awam kriterianya ya gak mesti kayak thalib, mau ngaji satu jam seminggu di mesjid aja udah bagus, selebihnya nonton online ga masalah, tapi ya tetap datang ke majlis walau cuma seminggu sekali, keberkahannya beda, gak ada alasan anak, kerja, dll yang thalibul ilm dengan jadwal lebih padat aja bisa, apalagi kita yang cuma seminggu sekali, satu jam lagi, insyaallah ada jalan.

Related Posts