Tiga Hikmah Pensyariatan Tayammum

Ilustrasi: Popmama.com

Sesungguhnya Allah telah mensyariatkan tayammum pada umat muslim sebagai ganti dari wudhu’ dan mandi ketika tidak ada air atau ketika khawatir dari menggunakan air karena sakit atau sangat dingin.

Hal itu di karenakan untuk menjaga pelaksanaan sholat tanpa adanya keberatan (masyaqqah) dan kesulitan sebagaimana firman Allah ta’ala :

وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ اَوْ جَاءَ اَحَدُ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ اَوْ لَأمَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدَوْا مَاءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طًيِّبًا فَامِسَحُوْا بِوَجُوْهِكُمْ بِوَجُوْهِكُمْ وَأَيْدِكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيْدُ اللهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيْدُ لِيُطِهِّرِكُمْ وًلِيُتِمَّ نِعْمَتَهٌ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya : dan jika kamu sakit atau dalam keadaan perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kami tidak memperoleh air, maka bertayamumlah dengan tanah yang baik (bersih). Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Q.S. Al-Maidah (5) ayat 6).

Akan tetapi, alangkah lebih baik bila kita mendalami lebih dalam lagi untuk mengetahui hikmah di balik pensyariatan tayammum. Dalam hal ini, ulama’ kita telah merenung dan menuliskannya. Di antaranya adalah Syekh Muhyiddin dalam karyanya yang berjudul Ibadatul Islam As-Sholatu fiqhuha asroruha ta’alumu kaifiyyatiha. Beliau menerangkan setidaknya ada enam hal yang beliau tulis terkait hikmah tayammum. Enam hal tersebut adalah :

  1. Kemudahan untuk umat manusia

التَّيَسُّرُ عَلَى النَّاسِ قَالَ اللهُ تَعَالَى : (وَمَـا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِيْ الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ)

Salah satu hikmah tayammum adalah sebagai bentuk kemudahan bagi manusiar. Allah berfirman : Tidaklah Allah menjadikan agama bagi kalian berupa kesulitan. (Q.S. Al-Hajj : 78)

  1. Menguji ketaatan manusia dan melakasanakan perintah Allah
  2. Tayammum adalah perkara ta’abbudi

Perkara ta’abbudi adalah perkara yang berasal dari syari’ (Allah) dan bukan untuk di rasionalkan. Dalam agama islam, ada beberapa syariat atau aturan yang sifatnya ta’abbudi, semisal mengapa orang haji harus thowaaf, sa’i, mencukur rambut dan lain sebagainya. Karena, yang dimaksudkan dari perkara ta’abbudi adalah penghambaan dan ketundukan pada syariat (aturan) agama yang telah di tetapkan Allah.

Dengan memahami tayammum adalah perkara ta’abbudi, maka orang yang mengatakan bahwasanya hikmah pensyariatan wudhu’ hanyalah kebersihan saha harus ditolak. Sedangkan islam mensyariatkan wudhu’ di jazirah Arab menyatakan kebersihan. Sedangkan pada masa kini, air sangat melimpah ruah di setiap rumah.

Related Posts