Berani Mati Jika Gus Dur Dilengserkan

Mantan Presiden Republik Indonesia KH. Abdurrahman Wahid ( Gus Dur ) saat diwawancarai Jakarta Globe di PB Nadlatul Ulama (PBNU) Jakarta, 15 November 2008. JG Photo/ Afriadi Hikmal

Gus, njenengan 20 tahun yang lalu dilengserkan oleh cukong-cukong politik tanpa ada kejelasan hukum. Tepatnya 23 Juli 2001. Tapi njenengan sama sekali tidak dendam. Njenengan tetap legowo, menerima bahkan njenengan tidak tanggung-tanggung menyelamatkan banyak nyawa manusia.

Sejauh yang saya baca, njenengan itu orang hebat, alim, cerdas, pintar, Gus. Sampai² saya tak menemukan kata-kata lagi untuk menggambarkan kehebatan njenengan, Gus.

Njenengan dilengserkan bukan karena tidak konsisten menjalankan tugasnya sebagai presiden tapi karena ambisius politik yang ingin berkuasa dengan segala cara.

Njenengan difitnah sana-sini, kerja-kerja njenengan diganggu, stabilitas keamanan tidak stabil, sampai-sampai ada yang menggerakkan demonstrasi dan menyebarkan berita miring untuk menjelekkan njenengan di ruang publik.

Tapi apa yang njenengan lakukan sungguh memberikan pelajaran penting bagi kita. Saya yakin njenengan bukan tidak mampu untuk melawannya. Tapi njenengan memilih untuk memikirkan 270 juta rakyat Indonesia.

Berdasarkan apa yang saya baca njenengan juga sempat menangis dan meminta maaf berkali-kali karena merasa tidak berterus terang kepada para ulama mengenai situasi politik yang dihadapinya. Artinya njenengan memang sosok yang tak mau merepotkan orang. Njenengan pun menahan ratusan ribu orang yang ingin berangkat membela njenengan. Njenengan tak mau ada kerusuhan dan pertumpahan darah sesama anak bangsa.

Saya yakin tangis njenengan itu bukan karena kelemahan njenengan menghadapi situasi politik saat itu. Tapi memikirkan para ulama dan pendukungnya yang memiliki komitmen kuat untuk njenengan. Bahkan di sejumlah daerah dengan tegas dan berani membentuk pasukan berani mati jika Gus Dur Dilengserkan.

Related Posts