Demi Tuhan

Salah satu kalimat penting dalam buku Homo Deus karya Yuval Noah Harari; bahwa sesungguhnya proyek terbesar manusia adalah mencapai Keillahian (hlm. 53). Walaupun pernyataan itu sangat penting, tetapi sama sekali tidak baru.

Dalam berbagai ajaran agama dan kepercayaan-kepercayaan lokal, baik implisit maupun eksplisit, substansinya adalah mengajak manusia untuk berjuang menuju kematian yang baik, menuju ke-Abadi-an. Ke-Abadi-an di sini tentulah maksudnya mencapai Keilllahian.

Masalahnya, setiap agama dan kepercayaan mengajarkan pengertian dan cara-cara yang berbeda. Pengertian dan cara-cara (tarekat) itu bahkan dalam internal satu agama saja berbeda-beda. Itu terjadi karena surat dan ayat yang dikutip untuk dijadikan legitimasi tidak sama. Kalau toh sama, tafsirnya berbeda. Pengalaman hidup penafsir sangat berbeda.

Itulah sebabnya, banyak agama yang pada mulanya satu sumber, memunculkan banyak mazhab, aliran, bahkan sebagian di antaranya menjadi sekte-sekte. Konstruksi pengalaman yang berbeda, yang juga bagian dari ketidakpahaman manusia terhadap hukum alam, menyebabkan praksis yang berbeda-beda, bahkan sebagian di antaranya cenderung tidak normatif dan/atau normal.

Proses-proses ideologisasi dan simbolisasi berjalan secara manual. Terjadi pengelompokan dinamis yang bergeser dan berubah dalam kehidupan yang, pada awalnya, merupakan pembedaan genetik kesukuan dan kebahasaan. Namun, kesukuan dan kebahasaan tidak bersifat ideologis mendukung proyek besar menuju Keillahian.

Di samping itu, manusia melakukan migrasi ke mana-mana karena alasan-alasan untuk bertahan dan mengembangkan kehidupan. Kita tidak dapat hidup mengandalkan basis kesukuan dan/atau kebahasaan.

Yang memiliki proyek mengantarkan ke-Keillahian, dalam praktiknya, adalah keyakinan terhadap keberadaan supranatural (Keillahian), penghadapan terhadap hal-hal kejadian di alam semesta, yang dialami kehidupan, yang kemudian disebut agama.

Relasi-relasi kesamaan dan perbedaan minat dan/atau pengalaman beragamalah yang kemudian membedakan dan memisahkan kembali satu dengan yang lain.

Tentu masih terdapat kelompok masyarakat yang tidak terikat dengan ikatan ideologisasi fanatisme syariah tertentu. Dalam masyarakat Jawa, misalnya, disebut abangan. Akan tetapi, bukan berarti kaum abangan tidak memiliki keyakinan/kepercayaan terhadap keberadaan dan kekuatan supranatural.

Ujungnya, dalam berbagai cara yang berbeda, kesadaran akan kematian, kesadaran terhadap keberadaan supranatural menjadi bagian penting dalam cara-cara menuju Keabadian tersebut.

Dalam posisi keyakinan di dalam kelompok itu, semua menganggap yang paling benar; dan memang harus begitu. Perjalanan kembali ke-Tuhan, kalau tidak merasa paling benar akan sia-sia. Dalam merasa paling benar itu, ada yang progresif memperlihatkan paling benar.

Akan tetapi, terdapat kelompok-kelompok lain yang lebih kalem. Aktualisasi dan praktik progresif sering diperlihatkan secara menyolok dengan mengatakan semua hal yang tidak sama dengan dirinya adalah kafir.

Praktik-praktik progresif inilah yang dikenal dalam bahasa yang berbeda-beda. Ada yang mengatakan fundamentalis, ada yang mengatakan radikal, dan dalam skala yang lebih besar, dalam nuansa yang sangat politis, mereka disebut sebagai teroris.

Hal penyebutan mereka yang fundamentalis, radikalis, dan teroris ini tentu saja dengan mengandaikan bahwa mereka juga berhadapan dengan kelompok-kelompok lain yang juga merasa lebih benar.

Itulah sebabnya, konflik tidak pernah berhenti dalam ruang dan skala yang berbeda. Tentu, ruang politik menjadi sasaran empuk untuk dipermainkan karena substansi politik sebagai cara untuk mendapat dan menguasai sumber-sumber kekuasaan dan ekonomi.

Yang terjadi adalah perjuangan mengatasnamakan Tuhan dan demi Tuhan. Pahala, surga, dan demi Allah dalam doktrin kelompok telah ditanamankan sebagai milik yang benar.

Para pengikutnya sebagian besar menjadi fanatik karena telah menjadi paling benar. Apalagi ketika didukung kondisi kehidupan duniawi yang mengecewakan. Proyek menuju Keillahian semakin banter dinyanyikan.

Muncullah orang-orang yang dalam praktik paling benar itu menjadi nekat dan bahkan sebagian di antaranya melanggar hukum kehidupan publik. Demokrasi ditentang, HAM tidak diakui. Benar adalah benar, dan salah adalah salah.

Dalam ilmu-ilmu sosial, pemahaman tentang milik Kebenaran dan merasa paling benar itu, argumennya dianggap lemah. Ilmu kita yang terbatas merasa telah menjangkau yang Tak Terbatas. Hal Keillahian adalah hal yang Nyata Benar.

Kita manusia hanya bisa berusaha untuk berjalan bersama-sama, atau dengan cara yang berbeda, untuk kembali pada yang Maha Benar tersebut.

Artinya, pemahaman dan cara menuju Tuhan bisa benar dan bisa salah. Merasa benar dan Kebenaran adalah dua hal yang sangat berbeda. Merasa paling benar bukanlah Kebenaran itu sendiri.

Silahkan merasa paling benar, tetapi hal itu bukan berarti memiliki mandat untuk menyalahkan pengetahuan manusia lain yang juga merasa memiliki kebenaran tersendiri. Kita hidup sama-sama berspekulasi. Tentu kita berharap nanti ternyata semuanya benar. Aamiin.

Related Posts