Teologi Orang Kaya

Ada beberapa orang yang selalu berpandangan negatif dalam melihat orang kaya. Saya tidak tahu jenis ganja apa yang mereka hisap sehingga selalu buruk sangka dalam melihat kekayaan. Padahal, setahu saya, ganja membuat penghisapnya riang gembira. Mungkin mereka mengkonsumsi jenis rumput-rumputan lain, yang membuat sebagian otaknya tak bekerja dengan baik.

Bahkan ada seorang yang tampaknya sering minum bensin oplosan, menulis di kolom komentar dengan kesimpulan begini: tak mungkin orang menjadi kaya kecuali lewat cara-cara jahat. “Jadilah srigala kalau mau kaya,” katanya. “Mustahil kaya, kalau lurus,” tulisnya lagi. Orang ini belum pernah dimarahi Ustad Yusuf Mansyur kali atau disentil Lo Kheng Hong, yang duitnya segunung tapi hidupnya sederhana.

Orang yang memandang orang kaya jahat ada dua kemungkinan. Pertama, dia selalu pesimis dan negatif dalam memandang hidup. Kedua, dia hanya bergaul dengan orang-orang jahat, sehingga tak ada alternatif lain dalam hidupnya. Sekujur tubuhnya berinteraksi dengan kejahatan. Auranya selalu memancarkan keburukan.

Tentu, tak kita pungkiri bahwa ada sebagian orang kaya yang tidak baik. Sama halnya ada orang-orang miskin yang menipu, mencuri, atau merampok. Sifat manusia ada di semua profesi dan status sosial. Memandang buruk pada semua orang kaya dan memandang mulia pada semua orang miskin adalah penyakit mental yang perlu disembuhkan.

Mungkin kita perlu belajar dari teologi Calvinian, bahwa kehidupan manusia di dunia adalah cermin hidupnya di akhirat. Bagi Calvin, orang-orang kaya lebih dekat kepada surga ketimbang orang-orang miskin. Alasannya sederhana, selain lebih banyak berpotensi beramal, orang kaya terbebas dari lapar dan kesulitan hidup, dua alasan yang sering dijadikan dorongan orang miskin melakukan kejahatan.

Kemiskinan sendiri bukanlah kejahatan. Yang jahat adalah mereka yang menghalang-halangi orang miskin menjadi kaya dengan menyebar fitnah bahwa orang kaya jahat.

Related Posts