Tetap Harus Pede Walaupun Punya Wajah Jelek

Mempunyai wajah yang tak elok, pas-pasan di mata orang atau jelek itu sudah ciptaan Allah SWT. Mau tidak mau, kita harus tetap bersyukur, harus Pede jangan minder, dan yang tak kalah penting (banget) kita harus ikhlas menerima kenyataan.

Tak perlu dipungkuri, pada hakikatnya pandangan mata kita, pertama kali akan tertuju pada wajah seseorang. Begitupun sebaliknya, pandangan orang terhadap kita.

Apalagi mau meminang pasangan, jujur, yang dilihat pertama kali, selain tingkah lakunya yang baik, ya pasti wajahnya. Loh, bagaimana nasib kita yang jelek? Jangan-jangan kita nggak laku? Nggak juga. Ingat, hal ini tidak berlaku bagi semua orang yang suka memberikan penilaian terhadap wajah-wajah yang memiliki wajah mapan. Cuman, ini kebanyakan dan memang sudah zamannya begitu.

Problem wajah inilah yang seolah-olah bagi kita dan mereka (yang merasa jelek), ini merasa tidak adil. Dunia hanya milik si ganteng dan si cantik. Kita yang jelek dan yang merasa jelek, dianggap oleh orang yang wajahnya adududududu mblehai-mblehoi, sebagai salah satu polusi pemandangan mata.

Dan yang merasa bagus mukanya, menampar dengan lontaran kata, anggap saja ia memperolok-olok kita dan merasa dirinya lebih mapan. Ya, kita sabar aja, diam, dan tetap bersyukur. Kan memang iya. Tapi tetap harus Pede lah, jangan minder dan down. Mau gimana lagi? wong ini nasib kita. Mau menyalahkan siapa? wong ini ciptaan dan pemberian Allah Yang Maha Kuasa.

Memang sih, memiliki wajah kentang, sedikit membuat kita jadi ginjal menipis. Mau kenalan, mau nembak dia, membuat diri ini jadi insecure. Mau menyapa dengan niat baik takut dikira copet salah alamat. Repot…. Mau menunggu keajaiban untuk membuat wajahnya dijurus dan disulap agar “waw” saat itu juga, nggak mungkin. Apalagi memang wajahnya memang meragukan. Ah, makin repot.

Intinya, kita (kaum jelek) dahlah… tak ada jalan ninja yang lebih sempurna selain kita memang harus tetap pede, bersyukur, menerima kenyataan dan terus berusaha berbenah dari keterpurukan tampang ini. Kok begitu? berikut penjelasannya.

1. Bersykur Atas Pemberian Allah SWT.

Sudah saya katakan di awal, kita harus bersyukur atas wajah jelek kita. Pasrahkan saja pada Allah. Dan yang paling penting, kita harus menerima kenyataan ini. Tetap tenang dan kuasai keadaan dari orang-orang sekitar yang suka mencibir. Semua yang Allah berikan adalah yang terbaik bagi makhluknya. Salah satunya adalah paras wajah. Dengan bersyukur insyaallah hidup kita akan menjadi tenang walaupun jelek dan cibiran selalu menyertai kita.

2. Sekali-kali Berfoto dengan Efek Jahat

Sekarang ada Hp canggih, android yang bisa merubah wajah kita dan menyulap penampilan kita dari jelek bisa sedikit lebih keliatan cakep sebab efek jahat itu. Baik efek IG, aplikasi, dll. Sekali-kali kudu lakukan itu. Ya, biar yang mencibir berkurang, fotomu dan foto kita yang dipost ke media (wa, fb, ig, dll) ketika pas dilihat orang, orang itu akan bilang “Josss, ini mashok”. Lebih-lebih ia bisa sadar. Bahwa media bisa merubah segalanya. Yang ganteng atau cantik bisa jadi hanya karena efeknya. Dengan catatan, gayanya harus tetap nomor satu. Alias pede. Masak mau foto dengan wajah yang tidak sumringah? senyum dong. Nah. Tetap jelek kan.

3. Rubahlah Penampilan

Mari, yang jelek dan yang merasa jelek, semangat, saatnya merubah penampilan. Jangan gitu-gitu aja. Rapikan penampilan dari ujung atas sampai bawah. Rambut dipangkas. Yang rambutnya sudah 7-12 semester tak dipangkas, ayok ke salon rambut. Wajah dirawat, biar kelihatan segar, menarik dan memikat pandangan mata seseorang. Intinya dari kepala sampai ujung kaki. Sandal (kalau ada uang) ganti. Asalkan kakinya jangan dipotong dan diganti juga. Cukup potong kukunya saja. Perbaiki diri yang bisa dan wajar diperbaiki. Bukan merusak diri yang memang sudah bagus. Semisal alis matanya dicukur total.

4. Kerja Keras, Rajin Belajar dan Jaga Akhlak

Pada zaman yang makin berkembang ini, ganteng saja tidak cukup. Nah. Terbalas sudah. Mari kerja keras dan rajin-rajinlah belajar. Kerja mencari nafkah untuk mengais uang demi merubah diri, membeli pelembab muka, sambil berbenah memperbaiki ekonomi keluarga biar bisa dilamar anak aparatur desa. Rajin belajar, ini penting. Biar kita dilirik oleh anak-anak pejabat dan dosen-dosen ternama. Libas dan kuasai semua bidang keilmuan.

Sebab, takdir tuhan yang baik tidak melulu datang pada mereka yang berparas mapan. Yang jelek kudu kerja lebih giat dari yang si aduhai, dan tekun belajar agar menjadi orang yang ahli. Yang lebih penting lagi, harus jaga sopan santun, tingkah laku dan tutur kata yang baik. Udah jelek masak tak bisa menjaga akhlak, kan gimana gituh. Ketahuilah Saudara, yang jelek tapi pintar, kaya, sopan, tau terhadap etika, itu tetap jelek, kok. Tapi nilai plusnya itulah yang menjadikanmu keren. Cobalah jika tak percaya.

5. Yakinkan, Kita (yang Jelek) Akan Kaya

Yang tak kalah penting lagi, kita harus yakin, bahwa kita akan kaya. Asal, tetap bekerja dan berusaha. Jangan rebahan saja. Ini ada hubungannya dengan poin sebelumnya “Kerja Keras dan Rajin Belajar”. Sebab zaman sekarang ini, yang kaya dan pintarlah yang akan menguasai keadaan. Makanya kudu kerja keras. Apalagi pintar, dah, jelek belakangan. Dengan kaya, orang di sekitar kita akan mendekat. Yang ganteng, cantik, semuanya, akan mendekat kepada kita yang merasa jelek ini. Sadarilah perkembangan zaman. Tak menutup kemungkinan di era modern ini, dengan banyak uang atau kaya, semua bisa berkuasa, Eh.

Perlu diketahui, point di atas tetap harus bahkan wajib diselipi dengan kepercayaan diri (Pede), banyak uang tapi tak PD, tak tau etika, apalagi belum pintar, dan tak pintar-pintar, aduh… sulit. Pede itu nomor satu.

Dari sedikit tulisan di atas, harusnya kita (yang wajahnya merasa kentang) paham dan berhak mengambil kesimpulan. Bahwa, kita yang jelek, yang sudah sekian lama menjomlo sebab kejelekannya, adalah termasuk bagian dari orang-orang yang sangat beruntung. Sebab kelak, jika kita sudah tua, kita tak akan galau, karena kita sudah jelek dari awal. Coba deh yang paras wajahnya sekarang mempesona, mungkin saja kelak ia menyesal, sebab ia ganteng atau cantik, lalu pas memasuki masa tuanya, ia jelek kemudian. Panik…!

Dan sesungguhnya yang menulis ini adalah termasuk dari bagian orang-orang yang insyaallah nanti tidak akan galau. Alhamdulillah. Lah, berarti jelek dong? Pikir-pikir sendiri, males mau memberitahukan. Terima kasih Tuhan….

Related Posts