Anda Merasa Kesepian?

Benarkah kita, atau siapa saja, pernah atau bisa mengalami kesepian? Mengapa itu dimungkinkan? Apa sebenarnya yang sedang terjadi?

Sepi, suasana sepi, adalah suatu situasi jauh dari keramaian, tidak ada suara dan teman bicara, dan merasa sendiri. Sepi berbeda dengan sunyi. Sebagai misal, mungkin seseorang menemukan kesunyian, tapi dia tidak merasa kesepian. Sebaliknya, seseorang yang merasa sepi sangat mungkin juga merasa sunyi. Kesepian lebih menghunjam.

Namun, orang-orang mengatakan, โ€œAh, itu hanya perasaanmu sajaโ€. Artinya, sangat mungkin sepi dan kesepian lebih sebagai urusan perasaan. Perasaan ketika seseorang merasa tidak ada yang memperhatikan, tidak ada yang mau tahu, dan perasaan seperti ditinggal sendirian. Hal itu tidak terjadi dalam pengertian dia benar-benar hidup sendiri. Bisa saja seseorang di tengah keramaian, tetapi orang tersebut merasa kesepian.

Dengan begitu, apa itu perasaan? Perasaan adalah keberadaan indra (dalam diri seseorang) yang dapat mengondisikan penilaian pikiran sehingga seseorang mengatakan pada dirinya apa yang diketahuinya. Hal itu bisa terkait suatu rasa sesuai konvensi, seperti rasa asin, manis, pahit dan sebagainya.

Akan tetapi, bisa juga satu situasi yang tahu sama tahu (semacam konvensi relatif) seperti perasaan takut, marah, lucu, senang, termasuk sepi, dan sebagainya. Munculnya penilaian rasa takut, lucu, marah, senang, dan sepi tersebut tentu relatif dan bersifat subjektif. Apa yang ditakuti seseorang, belum tentu menimbulkan ketakutan bagi yang lain.

Apa yang menyebabkan timbulnya marah seseorang bisa saja tidak bagi yang lain. Ada yang secara spontan muncul kemarahan jika ada orang buang sampah sembarangan, tetapi bisa jadi hal itu biasa-biasa saja bagi yang lain.

Termasuk persoalan sepi, kasus-kasus dan situasi yang kemudian seseorang merasa sepi atau tidak bisa berbeda-beda. Ada yang merasa tiba-tiba kesepian ketika orang-orang (misal orang tua atau kerabat dekat) meninggal dunia, tetapi bisa jadi ada juga yang menghadapi peristiwa tersebut sebagai hal wajar sehingga tidak muncul perasaan kesepian pada dirinya.

Sebaliknya, dan ini biasanya cukup menguras energi, terkait dengan persoalan cinta. Ada orang yang dengan teguh dan stabil menghadapi berbagai kasus percintaan yang problematik. Jika cinta meninggalkannya maka seseorang akan menghadapi rasa sepi yang luar biasa, tetapi sebaliknya ada yang menempatkan terpaan cinta sebagai hal yang biasa-biasa saja.

Kalau toh cinta meninggalkannya, maka orang tersebut dengan cepat mencari dan mendapatkan cinta yang lain. Pesan yang penting dari pernyataan tersebut adalah kondisi dan situasi (subjektivitas) seseorang itu berbeda-beda. Perbedaan tersebut dimungkinkan karena latar belakang dan berbagai pengalaman seseorang juga berbeda-beda.

Saya tidak bermaksud ingin mengadobsi teori bahwa terdapat โ€œcairan dominanโ€ tertentu dalam tubuh manusia sehingga cairan tersebut berpengaruh dalam kinerja seseorang dalam mengelola perasaan sedih, susah, marah, senang, gembira, takut, dan rasa sepi di dalamnya. Sangat mungkin hal-hal tersebut memang berpengaruh.

Akan tetapi, hal yang ingin saya kedepankan adalah pengalaman rasa sepi dan kesepian sangat mungkin dihadapi dan dialami banyak orang dalam intensitas yang berbeda-beda. Ada kesepian yang dihadapi dengan dramatisasi yang membuat merasa lebih merana, beriba-iba. Akan tetapi, sangat mungkin dalam kondisi yang berbeda rasa kesepian itu berusaha ditepis dan dilupakan.

Namun, belajar dari banyak hal. Terdapat jalan ilmu untuk mengatasi persoalan sepi tersebut. Jalan ilmu itu antara lain jalan ilmu rasional dan yang lain jalan ilmu intuisi (suatu hal yang juga terdapat dalam diri manusia). Ilmu rasional adalah jalan yang berusaha memaksimalkan sumber daya pikiran dalam mengelola dan menghadapi kehidupan.

Jalan ilmu intuisi adalah jalan ilmu indra terdalam dalam diri manusia. Kita bisa menyebutnya sebagai hati nurani. Bisa juga dengan sebutan-sebutan dalam ruang ilmu keyakinan (agama) seperti kalbu, nur-illahi, dan sebagainya.

Jalan ilmu rasional adalah jalan yang mencoba memberi dan membangun arah untuk mengkalkulasi, memilih, menyeleksi, dan berpikir optimis bahwa berbagai masalah hanya bersifat insidental dan situasional. Semua akan segera berlalu seiring waktu yang terus berjalan dan memasuki ruang dan situasi baru yang berbeda.

Jalan ilmu intuisi adalah jalan ilmu berbasis hati nurani yang memiliki keyakinan bahwa manusia memiliki kandungan spiritual dan illahiah di dalam dirinya. Jalan intuisi dan keyakinan tersebut sebenarnya tidak membolehkan manusia merasa kesepian. Karena jika manusia merasa kesepian, sebenarnya dia sedang mengabaikan bahwa dia selalu bersama-sama bersama Pemilik Kehidupan.

 

Related Posts